Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Meningkatkan Sosio-emosional Calon Konselor Sebaya melalui Clay Therapy Antonius Ian Bayu Setiawan
Khidmat: Journal of Community Service Vol 1 No 2 (2024): Agustus, 2024
Publisher : Pusat Studi Kebijakan dan Tata Kelola Maritim, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/khidmat.v1i2.7022

Abstract

Remaja adalah periode transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa dengan berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Masalah seperti perilaku kekerasan dan bullying sering muncul karena ketegangan yang dialami remaja. Salah satu solusi adalah melalui peer counselor yang dapat membantu remaja mengelola diri dan emosi dengan baik. Clay therapy adalah salah satu intervensi yang efektif untuk pengelolaan sosio-emosional. Terapi ini membantu remaja mengekspresikan emosi mereka, memperbaiki hubungan interpersonal, dan mengurangi ketegangan. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan model Participatory Action Research (PAR) menunjukkan bahwa 73.3% remaja sangat puas dengan kegiatan ini karena mereka dapat mengekspresikan emosi yang dipendam. Clay therapy membantu calon peer counselor untuk mengekspresikan diri secara positif, mengurangi emosi negatif, dan meningkatkan kepercayaan diri. Tanah liat memungkinkan remaja untuk memvisualisasikan pengalaman dan emosi secara simbolis, mengembangkan kesabaran, fokus, dan keterampilan sosio-emosional seperti kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan relasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pelatihan ini tidak hanya mendukung perkembangan pribadi remaja tetapi juga meningkatkan kualitas dukungan yang dapat mereka berikan sebagai peer counselor. Setelah pelatihan, remaja merasa lega karena mereka bisa membagikan emosi yang selama ini dipendam, sehingga dapat berdamai dengan diri sendiri dan menjalin hubungan yang lebih sehat.
EDUKASI PENCEGAHAN PERILAKU BULLYING SEBAGAI UPAYA MENJAGA KESEHATAN MENTAL REMAJA Antonius Ian Bayu Setiawan
Bida: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2024): Bida: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/bida.v1i2.7

Abstract

Bullying telah menjadi masalah serius dalam dunia pendidikan dan memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental bagi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab bullying, dampaknya terhadap remaja, dan kaitannya dengan pencegahan bullying untuk menjaga kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode participatory action research (PAR), penelitian ini melibatkan partisipasi aktif siswa untuk berbagi pengalaman (sharing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bullying disebabkan oleh faktor multidimensional, meliputi aspek individual, keluarga, teman sebaya, sekolah, dan pengaruh media sosial. Dampak bullying mencakup dimensi fisik, psikologis, dan sosial, dengan dampak yang dapat bertahan hingga usia dewasa. Secara khusus, bullying berkorelasi kuat dengan penurunan kesehatan mental, menimbulkan berbagai gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri. Berdasarkan hasil berbagi pengalaman (sharing) dari siswa, penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab bullying seperti keluarga, teman sebaya, dan media sosial. Perilaku bullying juga berdampak terhadap dimensi fisik, psikologis, dan sosial. Salah satu upaya pencegahan dan intervensi bullying memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai stakeholder baik di lingkungan sekolah dan masyarakat. Edukasi pencegahan bullying tidak hanya bertujuan mengurangi kasus bullying, tetapi juga sebagai langkah proaktif dalam menjaga kesehatan mental remaja sekaligus menekankan pentingnya membangun lingkungan yang aman dan mendukung bagi perkembangan generasi muda. Bullying has become a serious problem in the world of education and has a significant impact on the mental health of adolescents. This study aims to analyze the factors that cause bullying, its effects on adolescents, and its relationship to mental health. This study uses the Participatory Action Research (PAR) method, which involves students’ active participation in the research process. The study results indicate that bullying is caused by multidimensional factors, including individual, family, peer, school, and social media influences. The impact of bullying includes physical, psychological, and social dimensions, with implications that can last into adulthood. In particular, bullying is strongly correlated with decreased mental health, causing several psychological disorders such as depression, anxiety, and reduced self-esteem. This study concludes that bullying prevention and intervention efforts require a holistic approach involving several stakeholders in the school environment and the community. Bullying prevention education is not only aimed at reducing cases of bullying but also as a proactive step in maintaining adolescent mental health while emphasizing the importance of building a safe and supportive environment for the development of the younger generation.
BHINNECARD: A CARD-BASED EDUCATIONAL GAME TO FOSTER TOLERANCE IN INDONESIAN JUNIOR HIGH SCHOOLS Aquilla Quentien Inigo Lubis; Antonius Ian Bayu Setiawan
EDUCATIONE Volume 4, Issue 1, January 2026
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v4i1.142

Abstract

Intolerance among Indonesian adolescents—manifested in prejudice, identity-based bullying, and fragile classroom harmony—signals gaps in the internalization of pluralism at school. This study addressed that challenge by developing and testing BHINNECARD, a card-based guidance medium grounded in the spirit of Bhinneka Tunggal Ika to foster tolerance through experiential dialogue, perspective-taking, and action planning. The objectives were to (1) design a culturally contextualized educational card game for junior high schools, (2) establish its feasibility through expert and practitioner validation, and (3) evaluate its effectiveness for improving students’ tolerance attitudes. Using an R&D design with the 4D model (Define–Design–Develop–Disseminate), we conducted expert reviews (media and content), teacher usability assessments, and a one-group pretest–posttest trial with 66 students at SMP BOPKRI 1 Yogyakarta. Instruments included structured validation sheets and a 40-item tolerance scale with strong internal consistency (overall α ≥ .90; item–total r = .304–.674). Media experts rated the prototype highly feasible (108/108), content experts rated it feasible (92/116) with minor editorial refinements, and counselors judged classroom practicality as high. Effectiveness testing showed a significant gain from pretest (M = 103.14, SD = 8.22) to posttest (M = 127.58, SD = 11.87), t-test p < .001, indicating meaningful attitudinal improvement. We conclude that BHINNECARD is an instructionally efficacious, low-cost medium that can be implemented within standard group-guidance sessions to cultivate tolerance. Practically, schools can integrate it into character-education strands to scaffold respectful dialogue and inclusive norms with minimal preparation. Future research should employ multi-site randomized or quasi-experimental designs, streamline overlapping items in the tolerance scale, and include behavioral follow-ups (e.g., teacher logs or peer nominations) to corroborate self-report outcomes.
TINJAUAN SISTEMATIS KONSELING KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY UNTUK MENGATASI POPCORN BRAIN PADA SISWA SMA Lupiana Tutut Pretiwi; Antonius Ian Bayu Setiawan
Haumeni Journal of Education Vol 5 No 2 (2025): Edisi Khusus
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v5i2.24071

Abstract

Fenomena popcorn brain yang ditandai dengan kesulitan fokus, kecemasan, dan ketergantungan terhadap gawai akibat paparan digital berlebih menjadi salah satu tantangan serius dalam perkembangan psikologis siswa SMA. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis efektivitas layanan konseling kelompok dengan pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT) dalam mengatasi popcorn brain pada remaja. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap sepuluh artikel jurnal nasional dan internasional yang relevan. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi pola intervensi dan dampak pendekatan CBT terhadap aspek kognitif, emosional, dan sosial siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling kelompok berbasis CBT dapat membantu siswa mengurangi kecanduan gadget, menurunkan kecemasan digital, meningkatkan regulasi emosi, serta memperbaiki fungsi eksekutif seperti konsentrasi dan pengendalian diri. Pendekatan CBT juga berperan dalam mendorong keterlibatan sosial dan membentuk perilaku disiplin dalam penggunaan teknologi. Dengan demikian, layanan ini direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam program bimbingan dan konseling di sekolah sebagai upaya preventif dan kuratif terhadap dampak negatif overstimulasi digital.
Development of a UDL-Based Learning Management System by Including the Voice of Deaf and Autistic Students Irine Kurniastuti; Antonius Ian Bayu Setiawan; Silverio Raden Lilik Aji Sampurno; Andhana Prakosajaya
EDUKASIA Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2025): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v6i2.1711

Abstract

Learning management system is one of the learning spaces that can be used flexibly and independently in inclusive classes. This study described the steps in developing Semester Learning Plan (SLP) and LMS through 5 stages of design thinking: Empathize, Define, Ideate, Prototype, and Test. This study involved 3 deaf students, 1 autistic student, and 29 non-disabled students as respondents and experts to assess and provide input on the development of SLP and LMS. The results of the LMS development showed an increase in students' assessment of LMS accessibility with a moderate positive effect. The LMS was categorized as good in terms of its fulfilment of UDL principles, accessibility of learning tools, pedagogical feasibility, and ease of use. Further improvements are needed to advance the accessibility of the LMS.
The Development of Short Film Indigenous Counseling Kontemplasi Nyawang Karep Budi Sarwono; Yohanes Heri Widodo; Antonius Ian Bayu Setiawan
Bisma The Journal of Counseling Vol. 9 No. 2 (2025): August
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/bisma.v9i2.94515

Abstract

Ideally, counseling should be grounded in approaches that align with the client’s cultural background and lived experiences so that the therapeutic process can become more authentic and meaningful. However, counseling practices are still dominated by Western models that pay insufficient attention to local wisdom, creating a gap between theoretical frameworks and practical needs in the field. This study aims to analyze, develop, and validate a counseling learning medium in the form of a short film that presents the concept of Kontemplasi Nyawang Karep from the teachings of Ki Ageng Suryomentaram as a means to strengthen indigenous counseling competencies among students. The research employs the Borg and Gall Research and Development (R&D) model. Data were obtained through validation by media experts and content experts using feasibility assessment instruments, followed by quantitative descriptive analysis. The resulting product consists of nine curated and evaluated scenes of a short film. The findings indicate that the indigenous counseling short film is considered highly feasible by both expert validators. These results highlight the strong potential of short film media as a form of observational learning that helps viewers understand and concretely observe the application of indigenous concepts in counseling practice. This media provides important implications and contributes to the strengthening and development of culturally grounded counseling models.
HUBUNGAN ANTARA SELF-ESTEEM DAN SOCIAL ANXIETY PADA MAHASISWA AKTIF PROGRAM STUDI BK UNIVERSITAS SANATA DHARMA PENGGUNA SECOND ACCOUNT INSTAGRAM Tri Lemens Gulo; Antonius Ian Bayu Setiawan
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 02, Juni 2026 Produce
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.17360

Abstract

This study aimed to determine: (1) the level of self-esteem among students who use second Instagram accounts, (2) the level of social anxiety among students who use second Instagram accounts, and (3) the relationship between self-esteem and social anxiety among students who use second Instagram accounts. This study employed a quantitative approach with a correlational method. The participants consisted of 80 active students from the Guidance and Counseling Study Program at Sanata Dharma University, selected through purposive sampling with the criterion of being active users of second Instagram accounts. Data were collected using questionnaires and analyzed using descriptive statistics and the Pearson Product-Moment correlation test. The validity test showed that 47 of 48 self-esteem items were valid, while 32 of 44 social anxiety items were valid. The reliability coefficients were α = 0.733 for self-esteem and α = 0.736 for social anxiety. The results showed that self-esteem was categorized as high, while social anxiety was categorized as moderate. Furthermore, there was a significant negative relationship between self-esteem and social anxiety, with a correlation coefficient of -0.344 and p < 0.002. Higher self-esteem was associated with lower social anxiety among students who use second Instagram accounts. The findings indicate that psychological factors related to media use should receive attention because students with positive self-evaluations tend to experience lower anxiety in interactions, communication, and self-expression within online and offline environments during their academic and development processes.
STUDI FENOMENOLOGI: PEMAKNAAN KEHILANGAN PADA INDIVIDU DEWASA AWAL PASCA KEMATIAN ORANG TUA Febiola Petra Mauk; Antonius Ian Bayu Setiawan
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 3 (2026): Volume 12 No. 3, September 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i3.17520

Abstract

This research aims to describe the experience of loss, reveal the process of meaning, and identify things that are meaningful in early adult individuals after the death of a parent using a qualitative transcendental phenomenology approach. Involving three subjects aged 18–25 years, data was collected through in-depth interviews, observation and documentation which were analyzed using the Creswell method with the support of Notebook LM AI. Research findings reveal that the loss of a parent is a complex trauma that is not sequential, manifested emotionally through feelings of emptiness and physically through motor and respiratory disorders which indicate biological internalization of the trauma. The process of meaning-making triggers the phenomenon of "premature maturation" or parentification, where individuals experience a shift in identity from dependence to full responsibility while still maintaining emotional ties through internalization of parental values ​​and strengthening spirituality based on the concept of "trust". The resilience and growth of post-traumatic subjects is driven by the synergy between social support, economic pressure, and acceptance of self-vulnerability as part of strengthening a new identity. Overall, making sense of loss functions as the main catalyst that turns tragedy into a driving force for forming a more mature, independent, and future-oriented individual identity.
Hubungan Antara Kecanduan Judi Online Dengan Agresivitas Pada Dewasa Awal Silvia Rahmayani; Antonius Ian Bayu Setiawan
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1739

Abstract

Fenomena kecanduan judi online pada kelompok dewasa awal di Yogyakarta telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan berpotensi memicu berbagai perilaku agresif dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecanduan judi online, tingkat agresivitas, serta mengetahui hubungan antara kecanduan judi online dengan tingkat agresivitas pada individu dewasa awal di Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif korelasional yang melibatkan 78 responden berusia 18 hingga 40 tahun. Partisipan dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel bertujuan (purposive sampling) dengan kriteria telah aktif bermain judi online minimal selama tiga bulan terakhir. Instrumen pengumpulan data berupa Skala Kecanduan Judi Online yang terdiri dari 35 butir valid dan Skala Agresivitas dengan 40 butir valid. Teknik analisis data yang diterapkan adalah uji korelasi Spearman’s rho mengingat sebaran data penelitian tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori kecanduan judi online tingkat tinggi (49%), sedangkan tingkat agresivitas sebagian besar berada dalam kategori sedang (59%). Berdasarkan analisis statistik, ditemukan hubungan positif yang signifikan dan kuat antara kecanduan judi online dengan agresivitas (r = 0,716; p < 0,05). Kesimpulannya, semakin tinggi tingkat kecanduan judi online seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat agresivitas yang ditunjukkan oleh individu dewasa awal di Yogyakarta. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku adiktif digital merupakan faktor risiko serius bagi stabilitas emosi dan keharmonisan interpersonal.
Hubungan Antara Kepribadian Hardiness Dengan Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Helen Dian Putri; Antonius Ian Bayu Setiawan
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepribadian hardiness dan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa tingkat akhir yang menghadapi tekanan akademik saat menyusun skripsi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Subjek penelitian ini ditunjukkan untuk mahasiswa tingkat akhir Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Sanata Dharma. Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin menghasilkan angka 266 dan data yang terkumpul mencakup 275 responden. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu menggunakan survei berbentuk skala yang terdiri dari dua instrumen yaitu skala kepribadian hardiness dan skala kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepribadian hardiness (51,3%) dan tingkat kesejahteraan psikologi (52%) berada pada kategori tinggi. Ditemukan adanya hubungan positif yang signifikan dan sangat kuat antara kepribadian hardiness dan kesejahteraan psikologis (r = 0,864; p < 0,05). Kesimpulannya adalah semakin tinggi tingkat hardiness pada mahasiswa dalam menghadapi tekanan penyusunan skripsi, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis mereka.