Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Creative Workspace Design as A Form of Local Creative Industries Collaboration in Suryatmajan Tourism Kampong Kristian Oentoro; Wiyatiningsih Wiyatiningsih
PANGGUNG Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i1.3259

Abstract

Pariwisata dan industri kreatif merupakan penggerak ekonomi lokal yang saling berkaitan di Yogyakarta. Pengembangan industri kreatif lokal di kampung wisata Yogyakarta berpotensi memajukan perekonomian masyarakat/komunitas. Kampung wisata Suryatmajan merupakan destinasi wisata baru di kawasan Malioboro, Yogyakarta yang berfokus pada promosi kolaboratif melalui pariwisata kreatif. Penelitian ini mengidentifikasi potensi industri kreatif dan kolaborasi di antara masyarakat dalam creative workspace di kampung wisata Suryatmajan. Selain itu, penelitian ini juga mengusulkan untuk mengeksplorasi peran industri kreatif dalam membentuk jejaring relasi kepedulian dalam kerangka Tourism Social Entrepreneurs. Kajian ini terfokus pada desain ruang kerja kreatif untuk mendukung ekosistem kreatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan diskusi kelompok. Sementara itu, konsep desain Suryatmajan creative workspace dikembangkan secara kolaboratif dengan menggunakan pendekatan Tourism Experience Design. Hasil evaluasi desain secara konseptual mengusulkan relasi dan posisi creative workspace untuk mempromosikan industri kreatif lokal melalui pengalaman wisatawan dalam konteks pariwisata kreatif. Kata kunci: Industri Kreatif, Kampung Wisata, Ruang Kreatif, Suryatmajan, Yogyakarta
Creative Workspace Design as A Form of Local Creative Industries Collaboration in Suryatmajan Tourism Kampong Kristian Oentoro; Wiyatiningsih Wiyatiningsih
PANGGUNG Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i1.3259

Abstract

Pariwisata dan industri kreatif merupakan penggerak ekonomi lokal yang saling berkaitan di Yogyakarta. Pengembangan industri kreatif lokal di kampung wisata Yogyakarta berpotensi memajukan perekonomian masyarakat/komunitas. Kampung wisata Suryatmajan merupakan destinasi wisata baru di kawasan Malioboro, Yogyakarta yang berfokus pada promosi kolaboratif melalui pariwisata kreatif. Penelitian ini mengidentifikasi potensi industri kreatif dan kolaborasi di antara masyarakat dalam creative workspace di kampung wisata Suryatmajan. Selain itu, penelitian ini juga mengusulkan untuk mengeksplorasi peran industri kreatif dalam membentuk jejaring relasi kepedulian dalam kerangka Tourism Social Entrepreneurs. Kajian ini terfokus pada desain ruang kerja kreatif untuk mendukung ekosistem kreatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan diskusi kelompok. Sementara itu, konsep desain Suryatmajan creative workspace dikembangkan secara kolaboratif dengan menggunakan pendekatan Tourism Experience Design. Hasil evaluasi desain secara konseptual mengusulkan relasi dan posisi creative workspace untuk mempromosikan industri kreatif lokal melalui pengalaman wisatawan dalam konteks pariwisata kreatif. Kata kunci: Industri Kreatif, Kampung Wisata, Ruang Kreatif, Suryatmajan, Yogyakarta
Adaptasi Masyarakat sebagai Wujud Ketangguhan Pasca Bencana: Studi Kasus Desa Pombewe Dan Jono Oge By Bethania Yunike Fridianti; Wiyatiningsih Wiyatiningsih; Paulus Bawole
Jurnal Kajian dan Penelitian Umum Vol. 4 No. 2 (2026): April: Jurnal Kajian dan Penelitian Umum
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/jkpu-nalanda.v4i2.2199

Abstract

Jono Oge Village, Sigi Biromaru Regency, Central Sulawesi, has been designated a liquefaction-prone area with a high risk level. Following the 2018 liquefaction disaster, the government relocated residents to permanent housing (huntap) as a mitigation measure. This policy created a dynamic in the settlements due to differences in housing choices and limited community participation in the planning process. Some residents chose to return to their original locations and build housing independently despite ongoing disaster risks, while others remained in the provided permanent housing. These differing choices are not merely physical or spatial in nature, but also reflect the complex social, cultural, and economic ties that communities hold toward their former places of residence. This research uses a qualitative approach with a case study method, conducted in the permanent housing complex of Pombewe and the independent housing complex of Jono Oge, to analyze the forms of community adaptation and resilience after the disaster. The research's novelty lies in identifying spatial housing adjustment mechanisms as a social, economic, and cultural adaptation strategy to maintain post-disaster life.
Pola Spasial Kampung Jagalan Ledoksari terhadap Dinamika Lingkungan di Bantaran Sungai Code Sukma Nuriana Putri; Paulus Bawole; Wiyatiningsih Wiyatiningsih
Jurnal Kajian dan Penelitian Umum Vol. 4 No. 2 (2026): April: Jurnal Kajian dan Penelitian Umum
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/jkpu-nalanda.v4i2.2200

Abstract

Kampung Jagalan Ledoksari is part of a historic settlement that developed during the reign of Pakualam VII in the early 20th century. This settlement grew along the banks of the Code River through a socio-cultural system passed down from generation to generation, forming a strong relationship between residential space and environmental conditions. Along with urban development, this area faces pressures from urbanization, limited land availability, and recurring disaster risks such as flooding and cold lava flows, which drive environmental dynamics. This study aims to identify changes in the spatial patterns of the Code Riverbank settlement as a response to urban pressures. The focus of the study includes changes in spatial layout, building orientation, and settlement circulation patterns. The research employs a qualitative approach with an ethnographic design, utilizing field observations and in-depth historical spatial mapping to understand the process of spatial adaptation. The findings indicate that changes in the spatial patterns of Kampung Jagalan Ledoksari represent a continuous adaptation process to historical pressures, urbanization, and environmental dynamics. These adaptations gradually and multilayeredly shape transformations in spatial arrangement, building mass, and settlement connectivity. The novelty of this research lies in identifying spatial adaptation strategies that contribute to strengthening the resilience of riverbank settlements against disaster risks and spatial limitations.