Emi Yuliarita
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Performance Testing On Mixture Of Kisamir Pure Plant Oil (Ppo) And Kerosene As Wick Stove Fuel Emi Yuliarita
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 33 No 3 (2010)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.33.3.824

Abstract

Pure Plant Oil (PPO) which is made from “kisamir” seed has smaller kinetic viscosity value than jatropha and coconut oil. So it has potential to be used as alternative fuel/mixed kerosene. The test result of some main physical/chemical characteristics of fuel made from kerosine and pure plant oil (5% to 20% volume) are still in the limit of kerosene specification as decided by the government. However, the maximum power test result of the mixture of PPO and kerosene that has been tested on 16 wicks stove shows that the higher content of PPO in kerosene will decrease the maximum stove performance as well as stove’s efficiency value. But the blue color of fire gets clearer, because of less amount of sulfur by adding PPO in kerosene. The use of PPO up to 20% will reduce sulphur content up to 20%.
KAJIAN PEMANFAATAN GAS DME (DIMETHYL ETHER) ATAU UJI TERAP PADA SEKTOR RUMAH TANGGA DI WILAYAH SUMATERA SELATAN Emi Yuliarita; Zulkifliani Zulkifliani; Murachmad Dwi Atmanto; Djoko Sunarjanto; Aziz Masykur Lubad
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 54 No 2 (2020)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.54.2.499

Abstract

Kajian pemanfaatan gas Dimethyl Eter (DME) atau Uji Terapan telah dilakukan di kota Palembang, Muara Enim dan Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Tujuan dilakukannya uji terap pemanfaatan gas DME dengan kompor khusus DME pada sektor rumah tangga guna mengetahui keberterimaan gas DME di masyarakat khususnya daerah Sumatera Selatan.  Pemilihan wilayah tempat pelaksanaan uji terap terkait adanya program hilirisasi batu bara (Coal to DME) oleh PT. Bukit Asam. Metodologi yang dilakukan adalah survey kelayakan responden melalui pengisian kuisener yang sudah disiapkan, pemantauan/monitoring pemakian kompor gas DME selama masa uji terap dan evaluasi data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan statistik hasil uji lapangan. Hasil uji terap menunjukkan keberterimaan masyarakat sangat baik berdasarkan respon positif masyarakat. Umumnya responden lebih memilih gas DME dengan alasan DME lebih lama masa pakainya.
Meramu Bahan Bakar Jenis Bensin RON 91 yang Ramah Lingkungan dengan Membatasi Kandungan Senyawa Aromatik, Benzena, dan Olefin Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 44 No 1 (2010)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.44.1.595

Abstract

Pemanfaatan bahan bakar minyak di sektor transportasi harus memperhatikan efisiensi danmasalah lingkungan. Spesifikasi World Wide Fuel Charter (WWFC) yang disusun oleh asosiasipabrik kendaraan bermotor di dunia telah memberikan arah global harmonisasi spesifikasi BBMdi seluruh dunia, antara lain pembatasan kadar olefin, aromatik, dan benzena.Bahan bakar jenis bensin 91 yang ramah lingkungan dapat diramu dari bensin dasar yangberasal dari campuran komponen-komponen bensin eks kilang Pertamina (LOMC dan HOMC)dalam perbandingan tertentu dengan menanbahkan senyawa pengungkit angka oktana, MethylTertiary Butyl Ether sebanyak 8 % volume.Hasil penelitian menunjukan bahwa bahan bakar bensin 91 yang ramah lingkungan yang dihasilkan, mempunyai karakteristik fisika/kimia memenuhi spesifikasi bahan bakar bensin jenis 91menurut Surat Keputusan Dirjen Migas No. 3674K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006 danspesifikasi bensin 91 Pertamina serta spesifikasi bensin WWFC kategori 2 khususnya untukkadar senyawa aromatik, olefin dan benzena.
Pengaruh Pencampuran Kerosin dalam Minyak Solar 48 terhadap Perubahan Sifat- Sifat Fisika/Kimia Utama Minyak Solar48 Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 44 No 2 (2010)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.44.2.601

Abstract

Pencampuran kerosin ke dalam minyak Solar 48 akan mempengaruhi sifat-sifat fisika/kimiaminyak Solar 48 secara menyeluruh. Untuk melihat sejauh mana perubahan sifat-sifat fisika/kimia minyak Solar 48 akibat masuknya kerosin ini maka dilakukan penelitian pengaruhpencampuran kerosin dalam minyak Solar 48 terhadap perubahan karakteristik fisika/kimia minyakSolar 48. Metodologi yang digunakan adalah metode pencampuran langsung (direct blending)dengan volume pencampuran 10%, 20%, 30% dan 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwapencampuran 10% volume kerosin dalam minyak Solar 48 dapat menyebabkan penurunan beberapasifat-sifat fisika/kimia utama minyak solar seperti angka setana, viskositas kinematik, titik nyala,kandungan sulfur dan lubrisitas. Penurunan sifat-sifat fisika/kimia akibat penambahan 10% volumekerosin dalam minyak Solar 48 masih dapat memenuhi Spesifikasi Minyak Solar 48 yangditetapkan Pemerintah.
Meramu Bensin Ramah Lingkungan dengan Pemanfaatan Butanol Djainuddin Semar; Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.45.1.611

Abstract

Butanol adalah suatu alkohol yang dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin bensin padapembakaran internal tanpa modifikasi mesin.Keuntungan dari butanol adalah angka oktana dan kandungan energinya tinggi, hanya sekitar10% lebih rendah daripada bensin. Butanol adalah hidrokarbon rantai panjang bersifat non-polar,tidak larut dalam air dan titik nyalanya tinggi, serta mempunyai tekanan uap rendah (0,3 psi).Kelemahan utama butanol adalah bersifat toksisitas, dan kenyataan pada proses fermentasibutanol (dapat dibuat dari ganggang, mahkota dewa, buah naga) memancarkan bau busuk.Membuat butanol dari minyak tidak menghasilkan bau tersebut, namun pasokan terbatas.Pengujian kinerja sepeda motor di atas dinamometer sasis. Hasil uji daya rata-rata terhadapwaktu akselerasi rata-rata mesin sepeda motor yang berbahan bakar bensin yang mengandung10% volume butanol (Bu10) lebih rendah 3,4% dibandingkan ketika memakai bensin yang tidakmengandung butanol (Bu0). Hasil uji konsumsi bahan bakar Bu10 dibandingkan dengan bensinBu0 adalah meningkat 2,13%, sedangkan emisi gas buang nitrogen oksida, karbon monoksida,hidrokarbon dan karbon dioksida masing-masing lebih rendah.
PENGARUH PENGGUNAAN LCO SEBAGAI KOMPONEN MINYAK SOLAR TERHADAP SIFAT-SIFAT FISIKA/KIMIA MINYAK SOLAR Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 1 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.1.653

Abstract

Meningkatnya populasi kendaraan bermotor bermesin diesel di Indonesia, dan ditambah dnegan banyaknya industri-industri yang benyak menggunakan minyak solar sebagai bahan bakarnya, menyebabkan kebutuhan minyak solar dalam negeri meningkat dari tahun ke tahun. sementara itu persediaan minyak solar dalam negeri tidak mencukupi sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut Indonesia terpaksa mengimpor minyak solar.
Pembuatan Bahan Bakar Minyak Solar 48 Bertitik Nyala Minimum 550C dan 520C Melalui Cutting Distillation Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 45 No 1 (2011)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.45.1.679

Abstract

Pada saat ini batasan titik nyala yang ditentukan untuk minyak Solar 48 di Indonesia adalahminimum 60°C, yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Oleh karena itu penelitianini bertujuan untuk membuat minyak Solar 48 dengan titik nyala minimum 55oC dan 52oC denganmenggunakan metode cutting distillation. Proses cutting distillation dilakukan terhadapcampuran 50:50 minyak tanah dan minyak solar pada temperatur penguapan distilat berkisarantara 10% sampai 40% dari volume distilat. Sisa campuran bahan bakar yang diperoleh daripemotongan distilasi yang mempunyai angka setana paling mendekati 48 digunakan sebagaikomponen dasar untuk pembuatan minyak Solar 48 bertitik nyala 55oC dan 52oC. Kemudianfraksi nafta digunakan untuk membuat penyesuaian titik nyala.Berdasarkan hasil uji sifat-sifat fisika/kimia minyak solar 48 bertitik nyala 55oC dan 52oCyang dihasilkan dalam penelitian ini adalah sesuai dengan spesifikasi minyak Solar 48 yangberlaku di Indonesia sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Dirjen Migas No. 3675 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006.
Pengujian kinerja terbatas Minyak Solar Bertitik Nyala 55oC dan 52oC pada Bangku Uji Multisilinder Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 45 No 2 (2011)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.45.2.695

Abstract

Dalam penelitian terdahulu telah dilakukan pembuatan bahan bakar minyak solar 48 bertitiknyala 55oC dan 52oC melalui cutting distillation. Dari hasil analisis sifat-sifat fisika/kimia masingmasingminyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC yang didapatkan, dapat memenuhi spesifikasiminyak solar 48 yang di tetapkan pemerintah sesuai dengan surat keputusan Dirjen Migas No.3675 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006. Selanjutnya untuk melihat kinerja (performance)dari masing-masing bahan bakar tersebut maka dilakukan pengujian kinerja terbatas terhadapmasing-masing bahan bakar minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC pada bangku uji multisilinder(Multisylinder Test Bench) dengan menggunakan mesin diesel Isuzu 4JA1) pada tiga kategoribeban. Hasil uji kinerja secara keseluruhan memperlihatkan bahwa minyak solar bertitik nyala55oC dan 52oC sedikit lebih kecil dari minyak solar bertitik nyala 60oC. Namun emisi gas buangkepekatan asap/opasitas minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC jauh lebih rendah disbandingminyak solar bertitik nyala 60oC.
Pengaruh Kadungan Logam dalam Minyak Solar 48 terhadap Pembentukan Deposit pada Komponen Ruang Bakar Mesin Diesel Statis (Genset) Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 45 No 3 (2011)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.45.3.703

Abstract

Adanya logam dalam minyak solar dapat menyebabkan terjadinya deposit pada komponenruang bakar mesin diesel. Kandungan logam belum dibatasi dalam spesifikasi minyak Solar yangditetapkan oleh Pemerintah. Dalam penelitian ini digunakan minyak solar 48 dari kilang Pertaminasebagai bahan bakar pembanding dan bahan bakar minyak solar modifikasi yang mempunyaikandungan logam lebih tinggi. Pengujian dilakukan pada mesin genset Yanmar TF85 yangberkapasitas 5 kVa, dengan sistem injeksi langsung (DI) selama 100 jam operasi mesin. Evaluasiintensitas dampak atau deposit pada permukaan komponen mesin dilakukan dengan metodepenilaian yang dikenal dengan nama Merit Rating yang mengacu kepada metode CEC M02-T70.Hasil merit rating antara minyak solar SFR dan SFA menunjukan perbedaan terutama pada kepalasilinder mesin dengan perbedaan 12,52%. Dan berat deposit pada kepala silinder mesin yang telahmenggunakan bahan bakar SFR adalah 0,3225 gr dan SFA adalah 0,5860 gr. Studi ini menunjukanbahwa kandungan metalyang tinggi dalam minyak solar dapat menyebabkan terjadinya pengendapandeposit dalam ruang bakar
Efek Penggunaan Aditif Biodispersan pada Bahan Baakr Biosolar (B-20) Terhadap Komponen Ruang Bakar Mesin Diesel Emi Yuliarita
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 2 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.2.720

Abstract

Penambahan aditif berbasis nabati pada bahan bakar Biosolar (B-20) bertujuan untuk mengurangi diposit yang terjadi pada ruang bakar mesin terutama pada bagian kepala silinder. Aditif yang digunakan berasal dari minyak atsiri (campuran minyak sereh wangi, minyak cengkeh dan minyak nilam) dengan pertimbangan mudah didapatkan. Metode yang digunakan dalam pengukuran deposit komponen ruang bakar adalah merit rating yang mengacu pada metode CEC/MO2-T70. Dimana nilai rating dari komponen mesin yang dievaluasi dinyatakan secara numeric dari 0 sampai 10. Nilai 10 menunjukan tingkat kebersihan yang paling tinggi sedangkan nol menunjukan tingkat kebersihan paling rendah. Hasil penelitian menunjukan penambahan aditif biodispersan dalam B-20 sebanyak 2000ppm dapat menurunkan jumlah deposit pada bagian kepala silinder sebesar 3.5%. Efisiensi penurunan deposit yang signifikan akibat penambahan aditif tersebut dalam bahan bakar Biosolar B-20 terjadi pada bagian top piston yaitu 14,8%. Selanjutnya tingkat kebersihan yang diukur dalam indeks merit, juga menunjukkan penggunaan aditif biodispersan pada Biosolar (B-20) menghasilkan indeks merit yang lebih tinggi atau lebih bersih dibandingkan Biosolar (B-20) tanpa aditif.