Ika Devy Pramudiana
Universitas Dr. Soetomo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformasi Digital Rekam Medis Elektronik di Puskesmas Diwek Kabupaten Jombang Nuraini Indah Lestari; Nihayatus Sholichah; Ika Devy Pramudiana
Majalah Ilmiah "CAHAYA ILMU" Vol 8 No 2 (2026): MAJALAH ILMIAH CAHAYA ILMU
Publisher : STIA Pembangunan Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37849/mici.v8i2.539

Abstract

Transformasi digital melalui Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan langkah strategis untuk merombak tata kelola administrasi kesehatan di tingkat pelayanan primer sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi pelayanan klinis pasca-implementasi RME di Puskesmas Diwek, Kabupaten Jombang, yang ditinjau dari dimensi efisiensi operasional serta kesiapan adaptasi kultural dan teknis sumber daya manusia. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis tematik, data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap pimpinan, tenaga medis, sistem operator, serta pasien selaku pengguna layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan RME secara nyata meningkatkan efisiensi operasional pelayanan kesehatan masyarakat. Digitalisasi berhasil memangkas waktu pencarian berkas pasien dari 15 menit menjadi 5 detik melalui input berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK), serta mereduksi total durasi pelayanan dari semula 2 jam menjadi di bawah 10 menit. Integrasi resep digital secara real-time antarunit juga sukses meminimalkan risiko kesalahan manusia (human error) akibat tulisan tangan medis yang tidak terbaca. Di sisi lain, tantangan transisi berupa resistensi kultural dari staf senior berhasil dijembatani melalui manajemen perubahan yang persuasif dengan metode pendampingan sejawat. Namun, sistem ini masih menghadapi kendala berupa kerentanan infrastruktur, berupa gangguan jaringan internet dan fluktuasi listrik saat musim hujan, yang memicu beban kerja ganda akibat pencatatan manual sementara. Secara teoritis, penerapan RME di Puskesmas Diwek telah memenuhi pilar Smart Governance, namun keberlanjutannya memerlukan penguatan sistem cadangan luring (offline-backup) dan stabilitas konektivitas lokal.
Model Pemberdayaan Lansia Menyongsong Peningkatan Usia Harapan Hidup Mike Triana Anggraini; Nihayatus Sholichah; Ika Devy Pramudiana
Majalah Ilmiah "CAHAYA ILMU" Vol 8 No 2 (2026): MAJALAH ILMIAH CAHAYA ILMU
Publisher : STIA Pembangunan Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37849/mici.v8i2.545

Abstract

Peningkatan usia harapan hidup di Indonesia tidak selalu disertai kualitas hidup yang memadai, sehingga lansia berisiko menjadi beban alih-alih subjek yang berdaya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor pemberdayaan yang berhubungan dengan kualitas hidup lansia serta menentukan faktor yang paling dominan. Populasi penelitian adalah lansia berusia enam puluh tahun ke atas, dengan sampel sebanyak 120 responden yang dipilih secara acak. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Variabel bebas berupa empat dimensi pemberdayaan yang diturunkan dari kerangka active ageing, yaitu akses layanan kesehatan, partisipasi kegiatan, dukungan sosial, dan kemandirian ekonomi, sedangkan variabel terikat adalah kualitas hidup. Analisis dilakukan secara bertahap: deskriptif untuk menggambarkan data, korelasi untuk menyeleksi variabel, dan regresi linear berganda untuk menguji hubungan beberapa faktor sekaligus. Hasil menunjukkan model signifikan secara simultan dan menjelaskan sekitar 35,6% variasi kualitas hidup. Dukungan sosial merupakan faktor paling dominan, diikuti akses layanan kesehatan dan partisipasi kegiatan, yang seluruhnya berhubungan positif dan signifikan; usia berhubungan negatif, sedangkan kemandirian ekonomi, status perkawinan, dan pendidikan tidak berhubungan signifikan. Disimpulkan bahwa kualitas hidup lansia lebih ditentukan oleh sejauh mana mereka diberdayakan secara sosial dan diberi akses layanan daripada oleh atribut demografis atau ekonomi, sehingga model pemberdayaan lansia sebaiknya memprioritaskan penguatan dukungan sosial dan partisipasi. Temuan bersifat asosiatif sehingga penelitian lanjutan berdesain longitudinal diperlukan