Peningkatan usia harapan hidup di Indonesia tidak selalu disertai kualitas hidup yang memadai, sehingga lansia berisiko menjadi beban alih-alih subjek yang berdaya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor pemberdayaan yang berhubungan dengan kualitas hidup lansia serta menentukan faktor yang paling dominan. Populasi penelitian adalah lansia berusia enam puluh tahun ke atas, dengan sampel sebanyak 120 responden yang dipilih secara acak. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Variabel bebas berupa empat dimensi pemberdayaan yang diturunkan dari kerangka active ageing, yaitu akses layanan kesehatan, partisipasi kegiatan, dukungan sosial, dan kemandirian ekonomi, sedangkan variabel terikat adalah kualitas hidup. Analisis dilakukan secara bertahap: deskriptif untuk menggambarkan data, korelasi untuk menyeleksi variabel, dan regresi linear berganda untuk menguji hubungan beberapa faktor sekaligus. Hasil menunjukkan model signifikan secara simultan dan menjelaskan sekitar 35,6% variasi kualitas hidup. Dukungan sosial merupakan faktor paling dominan, diikuti akses layanan kesehatan dan partisipasi kegiatan, yang seluruhnya berhubungan positif dan signifikan; usia berhubungan negatif, sedangkan kemandirian ekonomi, status perkawinan, dan pendidikan tidak berhubungan signifikan. Disimpulkan bahwa kualitas hidup lansia lebih ditentukan oleh sejauh mana mereka diberdayakan secara sosial dan diberi akses layanan daripada oleh atribut demografis atau ekonomi, sehingga model pemberdayaan lansia sebaiknya memprioritaskan penguatan dukungan sosial dan partisipasi. Temuan bersifat asosiatif sehingga penelitian lanjutan berdesain longitudinal diperlukan