Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Kondisi Lalu Lintas di Ruas Jalan Ar Jhon Katili, Kota Gorontalo Didiet Haryadi Hakim; Zulkifli Mappasomba; Aulia Saraswati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1698

Abstract

Ruas jalan Ar Jhon Katili di Kota Gorontalo merupakan salah satu titik strategis yang memiliki tingkat kepadatan lalu lintas tinggi, terutama pada jam-jam sibuk. Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk menganalisis dampak lalu lintas yang terjadi di Ruas Jalan tersebut, termasuk tingkat pelayanan (Level of Service), volume kendaraan, waktu tundaan, dan potensi kecelakaan menggunakan metode kuantitatif deskriptif serta teknik survei lapangan dengan mengumpulkan data primer dan sekunder yang relevan dengan kinerja lalu lintas di sepanjang bagian Jalan AR Jhon Katili. Survei volume lalu lintas (traffic counting) dilakukan dengan metode manual counting yang dibantu oleh tim survei menggunakan tally sheet untuk mencatat jenis dan jumlah kendaraan yang melintas. Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Volume lalu lintas pada Jalan AR John Katili saat hari kerja (weekday) menunjukkan pergerakan kendaraan yang cukup tinggi. Bila dikonversi ke dalam Satuan Mobil Penumpang, maka total volume lalu lintas mencapai 11.897,6 smp/hari, dengan rata-rata sebesar 1.322 smp/jam. Pola lalu lintas menunjukkan fluktuasi sepanjang hari, dengan pergerakan yang cenderung padat pada pagi dan sore hari. Jalan AR John Katili pada akhir pekan (weekend) menunjukkan aktivitas kendaraan yang cukup tinggi, terutama di sore hari. Oleh karena itu Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan bagi pemerintah daerah dalam penataan dan pengembangan infrastruktur transportasi di Kota Gorontalo.
Penguatan Tata Kelola Kawasan Konservasi Laut Melalui Integrasi Sistem Sosial Ekologis Zulkifli Mappasomba; Permana Yudiarso; Muhammad Yusuf; Irwan dan Anugrah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 21, No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v21i1.18456

Abstract

Dengan hanya 35% Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Indonesia yang diklasifikasikan efektif menurut standar IUCN, diperlukan pendekatan tata kelola yang mampu menjembatani tujuan ekologis dan sosial melalui integrasi Sistem Sosial‑Ekologis (SES). Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis dan meta‑analisis atas 85 studi empiris periode 2005–2024 yang dipilih menggunakan prosedur PRISMA, dengan ekstraksi data terstandar dan perhitungan ukuran efek kumulatif (Hedges’ g) serta interval kepercayaan 95%. Integrasi SES pada KKP masih terbatas, meskipun banyak yang mengklaim adopsi, hanya 12% yang memenuhi indikator secara menyeluruh (ekonomi, sosial, dan ekologis). Secara agregat, strategi berbasis SES berasosiasi dengan perbaikan luaran ekologi dan sosial: peningkatan tutupan karang (≈25%), kenaikan biomassa ikan (≈40%), serta penurunan konflik tenurial hingga 55%. Analisis meta‑regresi mendukung ketepatan model integrasi (R² = 0,79) dan menunjukkan potensi peningkatan pendapatan rumah tangga pesisir sekitar Rp 1,2 juta per bulan (p < 0,01). Temuan ini menginformasikan rekomendasi kebijakan: harmonisasi regulasi lintas otoritas, penguatan kelembagaan berbasis komunitas yang adaptif, serta pengembangan platform pemantauan digital partisipatif, termasuk usulan Indeks Integrasi SES‑KKP sebagai alat diagnosis dan evaluasi. Integrasi SES yang kuat berasosiasi dengan peningkatan peluang keberhasilan pengelolaan KKP dan pengurangan pelanggaran di lapangan. Title: Strengthening The Governance of Marine Conservation Areas Through The Integration of Socio-Ecological Systems          The management effectiveness of Marine Protected Areas (MPAs) in Indonesia remains a significant challenge; evidence shows that only 25% of MPAs are effectively managed, while 71% of coral reefs and 42% of seagrass meadows are in poor condition. This study aims to identify key barriers and validate an adaptive governance model based on Social- Ecological Systems (SES) for MPAs using a Systematic Review and Meta-Analysis (SRMA) approach in accordance with PRISMA protocols. The study is limited to empirical articles in Indonesia (synthesising cases from Raja Ampat and Wakatobi) published between 2015 and 2025 in reputable journals (Q1-Q2/Sinta 1-2). Data from 75 studies were analysed through content analysis based on Ostrom’s framework and meta-analysis (Hedges’ g and meta-regression) to measure variables including coral cover, fish biomass, and social conflict. The results demonstrate a large cumulative effect size (g = 0.82) and R² = 0.79, indicating that the application of SES principles explains 79% of the variation in management effectiveness. Ecologically, SES implementation increased coral cover by 25% and fish biomass by up to 40%. Socially, tenurial conflicts and violations were successfully reduced by 55%. The primary barriers identified in SES integration were tenurial conflicts (42%) and policy fragmentation (25%). To address these obstacles, this research proposes a “20-30-50” adaptive zoning model (core zone, sustainable fisheries zone, and collaborative zone) supported by the strengthening of customary institutions, community-based blue economy initiatives, and participatory digital monitoring. This model is proven to improve overall ecological and social indicators. Consequently, SES integration significantly enhances MPA effectiveness and coastal wellbeing. Recommendations include the harmonisation of sectoral regulations, the institutionalisation of polycentric adaptive governance, and the adoption of an SES-MPA index for sustainable monitoring.
Peningkatan Kapasitas Pemuda Sadar Lingkungan di Kelurahan Leang-Leang: Menuju Partisipasi Aktif dan Konservasi Berbasis Komunitas Zulkifli Mappasomba; Nurhidayat Nur; Muh. Haidir; Aulia Saraswaty; Didiet Haryadi Hakim
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 01 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v5i01.3146

Abstract

Persoalan lingkungan di kawasan wisata Leang-Leang semakin kompleks akibat rendahnya keterlibatan pemuda, meskipun mereka memiliki potensi strategis sebagai agen perubahan, sehingga pelibatan komunitas bertujuan memperkuat kesadaran lingkungan dan kapasitas kepemimpinan pemuda di Kelurahan Leang‑Leang, Kecamatan Bantimurung, melalui pendekatan partisipatif dan berakar lokal. Kegiatan dilaksanakan dengan metode Penelitian Tindakan Partisipatif (PAR) melibatkan 36 pemuda. Prosedurnya meliputi observasi awal, survei pre‑test, edukasi lingkungan kontekstual, diskusi kelompok dengan studi kasus lokal, serta pembentukan kelompok komunitas yang dipimpin pemuda. Instrumen pengamatan dan pengumpulan data mencakup catatan lapangan, kuesioner, dan post‑test untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta perubahan perilaku. Hasil utama menunjukkan peningkatan pemahaman lingkungan sebesar 46 % (pre‑test 38 %, post‑test 84 %), terciptanya lima solusi lingkungan berbasis komunitas, dan pendirian kelompok “Pemuda Leang‑Leang Sadar Lingkungan” sebagai agen aksi berkelanjutan. Intervensi juga meningkatkan perilaku ekologi individu, seperti pemilahan sampah rumah tangga dan penyebaran pesan lingkungan. Evaluasi mengungkap 94 % peserta menilai program sangat relevan, partisipatif, dan berdampak. Temuan mendukung bahwa pendidikan partisipatif berbasis komunitas signifikan memperkuat kewarganegaraan ekologi pemuda serta kepemimpinan komunitas dalam mengatasi masalah lingkungan lokal. Model ini dapat diadaptasi ke area ekowisata lain dengan menyesuaikan konteks budaya dan ekologi setempat, memberikan contoh replikabel bagaimana pemuda dapat menjadi agen kunci konservasi melalui pengalaman belajar terstruktur dan sensitif konteks.