Purwantoro
Jurusan Tarbiyah Program Studi Manejemen Pendidikan IslamSekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Tahdzib

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Mukhtalif Al-Hadith (Pertentangan Hadis dan Metodologi Penyelesaiannya) Purwantoro Purwantoro
AT-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 4 No 1 (2016): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Ngoro Jombang Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.928 KB)

Abstract

Hadis bersumber dari Rasulullah, dan segala sesuatu yang disampaikan Rasulullah adalah wahyu. Sehingga tidak dimungkinkannya pertentangan satu hadith dengan hadith yang lainnya. Namun dalam realita kita menjumpai hadis yang secara dhohir saling bertentangan. Hal inilah yang menggugah kita bagaimana bersikap ketika menemui pertentangan hadis (mukhtalif hadith). Artikel ini membahas metodologi penyelesaian pertentangan hadis yang membantu kita untuk dapat bersikap dan memahami hadis yang secara dhohir saling bertentangan.
Umrah pada Bulan Ramad?ân Adalah Haji; Studi Kualitas H?adîth dan Pemahamannya Purwantoro Purwantoro
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 5 No. 1 (2017): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1383.487 KB) | DOI: 10.52431/tafaqquh.v5i1.90

Abstract

Parable something with something else, we often see. Be it in the Qur’an or H?adîth of Prophet Muhammad saw. But what if the Prophet exemplifies or equate an act sunnah with deeds wajîb. In this respect there is a H?adîth of Prophet which states that Umrah in Ramad?ân is a Hajj. This article tries to to explore how the quality of H?adîth and how to understand it. So that we can practice the H?adîth correctly. This H?adîth needs to be understood correctly, Umrah is an act of sunnah can be equated with Hajj an act wajîb for Muslims.
Relevansi Madrasah Diniyah Takmiliyah terhadap Pengembangan Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah (Mu’amalah) di Madrasah Diniyah Takmiliyah At-Tahdzib Jombang Ahmad Insya' Ansori; Bustanul Arifin; Purwantoro
At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 7 No 1 (2019): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib, Ngoro, Jombang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang Relevansi Madrasah Diniyah Takmiliyah terhadap Pengembangan Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah (Mu’amalah) di Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib ini sangatlah penting. Karena penelitian ini meliputi aspek material yang terkandung dalam muatan kurikulum MDT dan kurikulum Prodi HES di STAI At-Tahdzib. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian menghasilkan kesimpulan sebagaimana berikut : 1) Peran Madrasah Diniyah dalam meningkatkan mutu Pendidikan khususnya dalam kemampuan pengembangan keagamaan dan Bahasa sangat banyak salah satunya dalam penanaman nilai -nilai Islam lebih dini pada peserta didik. 2) Kerjasama Madrasah Diniyah At-tahdzib dengan Prodi di lingkungan STAIA ini yang akan menjadi nilai plus bagi Prodi dalam peningkatan mutu pendidikan terutama dalam bidang keagamaan. 3) hasil mutu pendidikan sebagaiamana berikut, Ranah Kognitif ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Dan segala upaya yang menyangkut aktifitas otak hal ini bisa dibuktikan dengan hasil ujian persemester dan hasil ujian nasional Ranah Afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat,minat, motivasi, dan sikap. Peneliti mengidentifikasi ranah efektif ini dengan motivasi dan semangat mahasiswa dalam pelaksanaan sholat jamaah dan menjaga kebersihan. Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik seperti keaktifan mahasiswa baik dalam kelas maupun luar kelas dalam mengikuti segala kegiatan di kampus dan pesantren.
Mukhtalif Al-Hadith (Pertentangan Hadis dan Metodologi Penyelesaiannya) Purwantoro Purwantoro
At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 4 No 1 (2016): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib, Ngoro, Jombang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis bersumber dari Rasulullah, dan segala sesuatu yang disampaikan Rasulullah adalah wahyu. Sehingga tidak dimungkinkannya pertentangan satu hadith dengan hadith yang lainnya. Namun dalam realita kita menjumpai hadis yang secara dhohir saling bertentangan. Hal inilah yang menggugah kita bagaimana bersikap ketika menemui pertentangan hadis (mukhtalif hadith). Artikel ini membahas metodologi penyelesaian pertentangan hadis yang membantu kita untuk dapat bersikap dan memahami hadis yang secara dhohir saling bertentangan.
Pemahaman Matan Hadith Mukhtalif (Studi Hadith Nabi Musa Memukul Wajah Malaikat Maut) Purwantoro Purwantoro
At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 6 No 2 (2018): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib, Ngoro, Jombang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The content of the Prophet's Hadith will always be in line and in harmony with the content of the Qur'an. When encountering the Hadith content which is indicated as odd (mukhtalif), it is necessary to do in-depth research. It is found in the book of Saheeh Bukhari that the Prophet Musa struck the Angel of Death face. In simple words the hadith seems absurd, how a Prophet dared to hit the Angel face. In this study, we will find the fact that angels were human when they met the Prophets. When this human form, the Prophet Musa struck the face of the Angel of Death. Angels turned out to be a number of human beings when met with several Prophets.
Building Character Through the Qur’an and Hadith: Hadith’s Review the Wisdom Behind the Invisibility of God, Heaven and Hell Purwantoro
Ats-Tsaqofi: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol 6 No 2 (2024): Ats-Tsaqofi
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Ngoro Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/ats-tsaqofi.v6i2.485

Abstract

Character formation in Islam plays a very important role in shaping the attitudes and morals of Muslims to be in accordance with religious teachings. This study aims to analyze how the concept of the invisibility of God and the afterlife taught in the hadith of the Prophet Muhammad saw can contribute to the development of good character. Using a qualitative approach and library research method, this study reveals the relationship between belief in the invisibility of God and the afterlife with the formation of a Muslim’s character. The belief that God is invisible teaches Muslims to be humble, patient, and obedient to His commands, while belief in the afterlife encourages them to do good, maintain morals, and focus on the afterlife. The hadiths of the Prophet Muhammad saw provide clear instructions on how Muslims can live a life that focuses on happiness in this world and the hereafter. This study shows that belief in the invisibility of God and the afterlife plays a major role in shaping better character and providing encouragement to do good in everyday life. The author also suggests that Muslims deepen their understanding of the hadiths and apply them in everyday life to improve morals and achieve happiness in the hereafter.
Urinary Ethics in the Perspective of Hadith: (Analysis of the Contradictions of the Prophet's Hadith) Purwantoro
At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 12 No 2 (2024): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib, Ngoro, Jombang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/at-tahdzib.v12i2.484

Abstract

Backgound. The ethics of defecating in Islam are not only related to physical cleanliness, but also include the spiritual and social dimensions of Muslims. The hadiths of the Prophet Muhammad SAW provide clear guidance on the procedures and manners of defecating, which aim to maintain cleanliness, health, and social harmony. Although textually we often encounter contradictions between hadits mukhtalif the ethics of defecating. Aim. This article aims to analyze the ethics of defecating taught in the hadith, especially hadiths that textually appear to be mukhtalif. The author analyzes the main principles contained therein, and explores the relevance of these teachings in modern life. Methods. With a textual and contekstual analysis approach to relevant hadiths. This article will reveal how important it is to interpret hadith contextually, and how to understand the mukhtalif hadiths. Results. The hadith of the Prophet Muhammad SAW shows the Islamic religion's concern for cleanliness, politeness, and respect for certain places. After conducting in-depth research, it was found that there were no contradictions between the hadiths were found.
Pendampingan Kelompok Kajian Tasawuf di Dewan Pimpinan Cabang Penyiar Sholawat Wahidiyah Kabupaten Lamongan Moh. Ulumuddin; Ahmad Insya Ansori; Arifin, Bustanul; Purwantoro
Ihsanniat: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2025): Ihsanniat
Publisher : LP3M STAI At-Tahdzib Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/5jw92m91

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat kapasitas spiritual dan kelembagaan jamaah di lingkungan Dewan Pimpinan Cabang Penyiar Sholawat Wahidiyah (DPC PSW) Kabupaten Lamongan. Kegiatan dilatarbelakangi oleh kebutuhan masyarakat akan pembinaan tasawuf amali yang mampu menumbuhkan kesadaran religius, akhlak sosial, dan keseimbangan hidup di tengah tantangan modernitas. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif dalam bentuk pengajian umum dengan peserta sekitar 1000–1500 orang yang berasal dari 8 kecamatan, 19 desa, dan 26 kelurahan di Kabupaten Lamongan. Materi utama difokuskan pada penanaman nilai ajaran Wahidiyah yang meliputi lillah-billah (berbuat semata-mata karena dan dengan pertolongan Allah), lirrosul-birrosul (berjuang karena dan dengan bimbingan Rasulullah), lilghouts-bilghouts (mengabdi karena dan dengan bimbingan Al-Ghauts Al-A‘zham), serta prinsip yukti kulla dzihaqqin haqqoh, taqdimul aham fal aham tsuma anfa fal anfa (memberikan hak secara proporsional dan mendahulukan yang paling penting serta bermanfaat). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman jamaah terhadap nilai-nilai ihsan, tumbuhnya semangat kebersamaan, terbentuknya kelompok kajian lanjutan, serta munculnya inisiatif dakwah digital oleh kader muda Wahidiyah. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan tasawuf amali berbasis komunitas efektif dalam memperkuat spiritualitas, moralitas, dan harmoni sosial masyarakat Lamongan.
Criticism of Sanad Hadith in DSN-MUI Fatwa No. 115/DSN-MUI/IX/2017 on the Mudharabah Contract Purwantoro
At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 13 No 2 (2025): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib, Ngoro, Jombang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/a51r3s42

Abstract

Background. The fatwa of the National Sharia Council–Indonesian Ulema Council (DSN-MUI) serves as a bridge between Islamic legal principles and modern financial practices in Indonesia, including in the regulation of mudharabah contracts through DSN-MUI Fatwa No. 115/DSN-MUI/IX/2017. This fatwa is based on the Qur’an, hadith, and ijtihad of scholars as its normative basis. However, the quality of the hadith referred to has not been comprehensively explained, even though its validity is highly dependent on the takhrij process which includes source tracing, analysis of sanad and matan, and determination of the hadith’s degree according to the rules of hadith science. Aim. This study aims to analyze the quality of the hadiths used in DSN-MUI Fatwa No. 115/DSN-MUI/IX/2017 concerning Mudharabah Contracts through the hadith takhrij approach. Methods. This research is a qualitative study using library research methods. Data sources include the main books of hadith (kutub al-tis’ah), books of hadith commentary, and rijal al-hadith literature. The research process is carried out through identification of hadith in fatwas, tracing of narration sources in lafzi and ma’nawi, analysis of the continuity of the sanad (ittishal al-sanad), evaluation of the credibility of narrators based on jarh wa ta’dil, and assessment of the quality of hadith from the sanad aspect to determine its degree (sahih, hasan, or da’if). Results. The hadith used in the fatwa does not yet have a completely authentic level. So it is still necessary to search for supporting hadiths of authentic quality.