Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Ethical Integrity and Transformational Leadership in Implementing STEM-Based Merdeka Curriculum in Rural Elementary Schools Daniel Sudibyo Tjandra
Indonesian Journal of Educational Research and Review Vol. 8 No. 2 (2025): July-INPRESS
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijerr.v8i2.101982

Abstract

The limited resources that can integrate transformational leadership and ethical integrity to support the implementation of the STEM-based Independent Curriculum are the main focus that must be resolved. This study aims to analyze how ethical academic integrity is embedded within the transformational leadership practices of an elementary school principal implementing the STEM-based Merdeka Curriculum in a rural setting. The research focuses on five leadership dimensions: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, individualized consideration, and an added ethical integrity dimension. A qualitative case study approach was employed, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis, and then coded thematically using ATLAS.ti. The findings integrated ethical principles into decision-making, organizational communication, and resource distribution. These practices fostered an inclusive environment that encouraged innovation, cross-generational collaboration, and institutional trust, despite the school’s structural limitations. The principal empowered teachers to experiment with STEM instructional strategies, provided personalized support, and maintained transparency in curriculum-related decisions. Collectively, these actions demonstrate that a transformational leadership model grounded in ethical integrity significantly contributed to the success of curriculum reform in a marginalized school context. The study concludes that ethical leadership is not merely complementary to transformational leadership but integral to sustaining educational change in under-resourced environments. It is recommended that school leadership development programs emphasize ethical decision-making and value-driven leadership, particularly for principals serving in disadvantaged educational settings.
Implementation of the Independent Curriculum in Christian Education Lessons Tjandra, Daniel Sudibyo
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 16 No. 1 (2024): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v16i1.5103

Abstract

The education curriculum in Indonesia continues to evolve with the times. Recently, the education system transitioned from the 2013 Curriculum to the Merdeka Curriculum. This research aims to analyze the implementation of the Merdeka Curriculum in Christian Education Lessons, highlighting its impact and effectiveness. The significance of this study lies in its contribution to understanding curriculum development in Indonesia and how the Merdeka Curriculum aligns with national educational goals and the Pancasila student profile. A literature review methodology was employed, gathering relevant information from the Google Scholar database and other sources. Data were analyzed using a SWOT framework to identify key considerations in implementing the Independent Curriculum, aiming to maximize opportunities and minimize threats. The findings indicate that the Merdeka Curriculum aligns with the vision of Indonesian Education, promoting life competencies in students. This vision supports the Pancasila student profile, emphasizing differentiated learning to meet individual student interests and needs. The analysis involved a systematic literature review, data extraction, and SWOT analysis to synthesize and interpret the findings.
Pembelajaran Ruang Ketiga: Hibriditas, Imajinasi Poskolonial, dan Transformasi Pendidikan Agama Kristen dalam Konteks Multikultural Indonesia Daniel Sudibyo Tjandra
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.357

Abstract

Abstract: This article examines the application of third-space theory and hybridity concepts to Christian religious education in Indonesia's multicultural context. Drawing on postcolonial theoretical frameworks by Homi Bhabha and contemporary educational scholarship, this study examines how third-space pedagogy can transform Christian education from an exclusivist approach to inclusive, dialogical practices that honour religious and cultural diversity. Through an analysis of recent scholarship on Indonesian Christian education, intercultural theology, and postcolonial pedagogy, the article argues that third-space learning environments create transformative possibilities for negotiating Christian identity while embracing pluralism. The study identifies key pedagogical strategies, including cultural integration, interreligious dialogue, decolonial imagination, and contextual curriculum development. Findings suggest that third-space pedagogy enables Christian educators to maintain theological integrity while fostering mutual understanding, social justice, and harmonious coexistence within Indonesia's diverse religious landscape. This approach offers practical implications for curriculum design, teacher training, and educational policy in multicultural Christian education contexts. Abstrak: Artikel ini mengeksplorasi penerapan teori ruang ketiga dan konsep hibriditas dalam pendidikan agama Kristen di konteks multikultural Indonesia. Berdasarkan kerangka teoretis poskolonial dari Homi Bhabha dan kajian pendidikan kontemporer, penelitian ini mengkaji bagaimana pedagogi ruang ketiga dapat mentransformasi pendidikan Kristen dari pendekatan eksklusif menuju praktik inklusif dan dialogis yang menghormati keberagaman agama dan budaya. Melalui analisis literatur terkini tentang pendidikan Kristen Indonesia, teologi interkultural, dan pedagogi poskolonial, artikel ini berargumen bahwa lingkungan pembelajaran ruang ketiga menciptakan kemungkinan transformatif untuk menegosiasikan identitas Kristen sambil merangkul pluralisme. Studi ini mengidentifikasi strategi pedagogis kunci, termasuk integrasi budaya, dialog antaragama, imajinasi dekolonial, dan pengembangan kurikulum kontekstual. Temuan menunjukkan bahwa pedagogi ruang ketiga memungkinkan pendidik Kristen mempertahankan integritas teologis sambil memupuk saling pengertian, keadilan sosial, dan hidup berdampingan secara harmonis dalam lanskap religius Indonesia yang beragam. Pendekatan ini menawarkan implikasi praktis untuk desain kurikulum, pelatihan guru, dan kebijakan pendidikan dalam konteks pendidikan Kristen multikultural
Urgensi Dan Signifikansi Metode Mentor Terhadap Pertumbuhan Gereja GBI House of Miracle, Cabang Pamulang, Tangerang Selatan Pidianko; Daniel Soedibyo Tjandra
Jurnal Shema Vol. 9 No. 01 (2025): Jurnal Shema: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Shema Cianjur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas urgensi dan signifikansi metode mentor dalam konteks pertumbuhan gereja, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Dalam era modern yang ditandai oleh perubahan sosial, budaya, dan spiritual yang cepat, gereja menghadapi tantangan dalam mempertahankan relevansi dan efektivitas pelayanan. Metode mentor menjadi pendekatan strategis yang menekankan pembinaan pribadi melalui hubungan yang intensif antara mentor dan mentee, dengan tujuan membentuk karakter, memperdalam iman, dan memperkuat tanggung jawab pelayanan. Studi ini menunjukkan bahwa pembinaan melalui mentoring berkontribusi secara signifikan terhadap pengembangan kepemimpinan rohani, keterlibatan anggota jemaat, dan reproduksi pelayanan. Pendekatan ini bukan hanya menambah jumlah anggota gereja, tetapi juga meningkatkan kedewasaan rohani komunitas iman. Dengan demikian, metode mentor memiliki peran sentral dalam membangun gereja yang dinamis, relevan, dan berorientasi pada pemuridan yang berkelanjutan.
Gereja sebagai komunitas formatif: Landasan teologis untuk etika pendidikan Kristiani Daniel Sudibyo Tjandra
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1072

Abstract

Contemporary Christian education faces a fundamental challenge in grounding its ethical dimension within a coherent theological framework. This article argues that the church as a formative community provides the essential theological foundation for ethics in Christian education. Through library research with conceptual analysis, this study demonstrates that moral formation cannot be reduced to individual cognitive processes but requires embedding within ecclesial practices and communal narratives. The framework integrates four dimensions: ecclesiological identity, communal moral formation, the dialectic between personal piety and social responsibility, and pedagogical implications. This reconceptualization shifts Christian education from mere knowledge transmission toward transformative character formation within the believing community. The article concludes that effective ethical education requires pedagogical designs rooted in the church's formative practices and narrative identity.   Abstrak Pendidikan Kristiani kontemporer menghadapi tantangan mendasar dalam melandasi dimensi etisnya pada kerangka teologis yang koheren. Artikel ini berargumen bahwa gereja sebagai komunitas formatif menyediakan fondasi teologis yang esensial bagi etika dalam pendidikan Kristiani. Melalui penelitian kepustakaan dengan analisis konseptual, studi ini menunjukkan bahwa formasi moral tidak dapat direduksi menjadi proses kognitif individual, melainkan memerlukan penanaman dalam praktik-praktik gerejawi dan narasi komunal. Kerangka ini mengintegrasikan empat dimensi: identitas eklesiologis, formasi moral komunal, dialektika kesalehan pribadi dan tanggung jawab sosial, serta implikasi pedagogis. Rekonseptualisasi ini menggeser pendidikan Kristiani dari sekadar transmisi pengetahuan menuju formasi karakter transformatif dalam komunitas beriman. Artikel menyimpulkan bahwa pendidikan etis yang efektif memerlukan desain pedagogis yang berakar pada praktik-praktik formatif dan identitas naratif gereja.
Harmoni Sains dan Iman Kristen: Teori Relativitas Einstein Dalam Pandangan Kristen Di Era Modern dan Implikasinya Bagi Kehidupan Orang Kristen Daniel Sudibyo Tjandra
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.330

Abstract

This article aims to discuss Albert Einstein's exploration of relativity theory in the context of the Bible and its implications for the lives of Christians. Where many people consider the theory of relativity to be contrary to the Word of God. However, in fact this is not the case. The Bible provides examples in stories such as Judas' betrayal and Peter's denial to demonstrate the concept of relativity in human life. Einstein changed the world's ideas about motion, space, and time with his theory that developed relationships and comparisons between things and others. Einstein's theory of relativity explains that the speed of light is absolute, while space and time combine to give humans space and time to move. The method used is descriptive qualitative. The results of the study show that the theory of relativity does not conflict with the Bible. This theory has implications in contemporary theology. The theory of relativity applies to His creation, not to God. Christians are taught to have a strong belief in the eternity and truth of God, as well as an open heart to continue learning and growing in faith. God's truth remains unchanged even though the world and human views can be relative. For Christians, it is important to align faith with scientific discovery, so that faith and science can complement each other.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk membahas eksplorasi teori relativitas Albert Einstein dalam konteks Alkitab dan implikasinya bagi kehidupan orang Kristen. Di mana banyak orang menganggap teori relativitas bertentangan dengan Firman Allah. Namun, faktanya tidak demikian. Alkitab memberikan contoh-contoh dalam kisah-kisah seperti penghianatan Yudas dan penyangkalan Petrus untuk menunjukkan konsep relativitas dalam kehidupan manusia. Einstein mengubah gagasan dunia tentang gerak, ruang, dan waktu dengan teorinya yang berkembang dalam hubungan dan perbandingan antara sesuatu dengan yang lain. Teori relativitas Einstein menjelaskan bahwa kecepatan cahaya adalah mutlak, sementara ruang dan waktu bersatu untuk memberi manusia ruang dan waktu bergerak. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa teori relativitas tidak bertentangan dengan Alkitab. Teori ini memiliki implikasi dalam teologi kontemporer. Teori relativitas berlaku bagi ciptaan-Nya, bukan bagi Allah. Orang Kristen diajarkan untuk memiliki keyakinan yang kuat pada kekekalan dan kebenaran Allah, serta keterbukaan hati untuk terus belajar dan bertumbuh dalam iman. Kebenaran Allah tetap tidak berubah meskipun dunia dan pandangan manusia bisa relatif. Bagi orang Kristen, penting untuk menyelaraskan iman dengan penemuan ilmiah, sehingga iman dan ilmu pengetahuan dapat saling melengkapi.
Pelatihan Pembinaan Mental dan Spiritual untuk Meningkatkan Karakter Positif Warga Binaan di Lapas 1 Tangerang Banten Daniel Sudibyo Tjandra
Devotion: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/devotion.v2i1.11-18

Abstract

Pembinaan mental dan spiritual merupakan aspek penting dalam proses rehabilitasi warga binaan di lembaga pemasyarakatan. Program Pelatihan Pembinaan Mental dan Spiritual untuk Meningkatkan Karakter Positif Warga Binaan di Lapas Kelas 1 Tangerang, Banten bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai moral, kecerdasan emosional, dan spiritualitas guna membentuk karakter positif yang mendukung reintegrasi sosial. Kegiatan ini dirancang secara komprehensif dengan melibatkan pelatihan kecerdasan emosional, refleksi spiritual, penguatan nilai-nilai kehidupan, dan pendampingan pasca-pelatihan. Metode pelaksanaan program mencakup pendekatan partisipatif melalui diskusi, simulasi, dan pelatihan interaktif yang disesuaikan dengan kebutuhan warga binaan. Evaluasi program dilakukan melalui observasi, wawancara, dan umpan balik dari peserta serta petugas lapas. Hasil yang diharapkan adalah peningkatan pemahaman, sikap, dan perilaku positif warga binaan yang dapat mendukung pembentukan lingkungan lapas yang lebih harmonis sekaligus mempersiapkan mereka menjadi individu yang produktif dan berkarakter di masyarakat setelah menjalani masa hukuman.