Nurul Fadilah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Storytelling Sebagai Strategi Healing Dakwah: Analisis Content Dakwah Ustadz Hilman Fauzi Nurul Fadilah; Yoga Basyiril Sabirin; Canra Krisna Jaya
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 19, No 2 (2025): Da'wah Tranformation
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v19i2.3886

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the content of Ustadz Hilman Fauzi's preaching in digital preaching and explain the role of storytelling strategies in shaping Islamic messages, the healing process of preaching, and its transformative dimensions for Muslim female audiences. The background of this study stems from the increasing spiritual and emotional needs of Muslim women in the digital age who face psychological and social pressures and the influence of popular culture. This study uses a qualitative approach with content analysis methods on the comments of Muslim female audiences on Ustadz Hilman's preaching videos on the TikTok platform. The data is categorized into several themes, namely the acceptance of Islamic messages, emotional responses, perceptions of healing, and the spiritual experiences of the audience. The results of the analysis show that the content analysis of the storytelling da'wah used by Ustadz Hilman Fauzi in digital da'wah plays an important role in the healing process of da'wah for Muslim female audiences. Through real stories, personal experiences, and simple parables delivered in a light and interactive manner, Islamic messages become easier to understand and touch the emotional side of the audience. Storytelling has proven to be effective in creating a calming preaching space, building social solidarity, and strengthening spiritual closeness to Allah. Thus, storytelling is not only a method of conveying messages, but also a transformative da'wah strategy that integrates cognitive, emotional, social, and spiritual aspects into a holistic religious experience.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konten dakwah Ustadz Hilman Fauzi dalam dakwah digital serta menjelaskan peran strategi storytelling dalam membentuk pesan Islami, proses healing dakwah, dan dimensi transformatifnya bagi audiens muslimah. Latar belakang penelitian berangkat dari meningkatnya kebutuhan spiritual dan emosional perempuan muslim di era digital yang menghadapi tekanan psikologis, sosial, dan pengaruh budaya populer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten (content analysis) terhadap komentar audiens muslimah pada video dakwah Ustadz Hilman di platform TikTok. Data dikategorikan ke dalam beberapa tema, yaitu penerimaan pesan Islami, respon emosional, persepsi terhadap healing, serta pengalaman spiritual audiens. Hasil analisis menunjukkan bahwa analisis konten dari dakwah storytelling yang digunakan Ustadz Hilman Fauzi dalam dakwah digital berperan penting dalam proses healing dakwah bagi audiens muslimah. Melalui kisah nyata, pengalaman pribadi, dan perumpamaan sederhana yang disampaikan secara ringan dan interaktif, pesan Islami menjadi lebih mudah dipahami dan menyentuh sisi emosional audiens. Storytelling terbukti mampu menciptakan ruang dakwah yang menenangkan, membangun solidaritas sosial, serta memperkuat kedekatan spiritual dengan Allah. Dengan demikian, storytelling tidak hanya menjadi metode penyampaian pesan, tetapi juga strategi dakwah transformatif yang mengintegrasikan aspek kognitif, emosional, sosial, dan spiritual dalam satu pengalaman religius yang utuh.
Strategi Pemberdayaan Yayasan Al-Kahfi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Pemulung melalui UMKM: Analisis Pelatihan dan Kendala yang Dihadapi Nurul Fadilah; Jumadil Wildani
TATHWIR: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 16, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jt.v16i1.10993

Abstract

 ABSTRACTThe condition of the scavenger community in Pejeruk Abian, who work as scavengers, is not yet prosperous when viewed from various aspects of life. Their condition is actually quite concerning. This is evident in their low level of education, insufficient income, inadequate housing, and so on. In this situation, the Al-Kahfi Foundation has stepped in to empower them using strategies deemed appropriate for the community's circumstances. Therefore, the purpose of this study is:(1) to explain the Al-Kahfi Foundation's empowerment strategy for scavengers to become UMKM actors in Pejeruk Abian, Mataram, NTB to improve welfare, (2) explain what are the obstacles to empowerment faced by the Al-Kahfi Foundation in improving the welfare of scavengers through UMKM development. This type of research is qualitative with data collection methods through interviews, observation and documentation to add data. The results showed that (1) the Al-Kahfi Foundation's community empowerment strategy through skills training which includes: a) business management skills training; b) marketing and sales; c) production and quality; d) finance and accounting; e) communication and negotiation. (2) obstacles to community empowerment through the development of UMKM by Al-Kahfi cadres from internal and external factors. Internal factors are: a) limited access to financing and lack of capital; b) limited quality of human resources; c) the price of raw materials which increases every year. And the external factors are: Limited business, facilities; a) Judging from the business climate, b) Government policies in improving or developing UMKM. In addition, there are obstacles faced by scavengers, including: a) lack of human resources that can prosper the scavengers by opening training; b) lack of awareness of the scavenger community towards knowledge and technology.Key Word : Empowerment, Community Welfare, Scavenger ABSTRAKKondisi masyarakat Pemulung di Pejeruk Abian yang berprofesi sebagai pemulung pada kenyataannya belumlah sejahtera jika diperhatikan dari berbagai bidang kehidupan. Kondisi mereka justru telihat memprihatian. Hal ini terlihat pada tingkat pendidikan yang rendah, penghasilan tidak mencukupi, perumahan yang belum layak huni dan sebagainya. Dalam kondisi ini, Yayasan Al-Kahfi hadir untuk melakukan pemberdayaan terhadap mereka dengan menggunakan strategi yang dirasa sesuai dengan kondisi masyarakat. Sehingga penelitian ini bertujuan: (1) untuk menjelaskan strategi pemberdayaan yang dilakukan Yayasan Al-Kahfi terhadap pemulung menjadi pelaku UMKM di Pejeruk Abian, Mataram, NTB untuk meningkatkan kesejahteraan, (2) menjelaskan apa saja kendala pemberdayaan yang dihadapi oleh Yayasan Al-Kahfi dalam meningkatkan kesejahteraan pemulung melalui pengembangan UMKM. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi serta dokumentasi untuk menambah data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) strategi pemberdayaan masyarakat Yayasan Al-Kahfi melalui pelatihan keterampilan yang meliputi: a) pelatihan keterampilan manajemen usaha; b) pemasaran dan penjualan; c) produksi dan kualitas; d) keuangan dan akuntansi; e) komunikasi dan negosiasi. (2) kendala pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UMKM oleh kader Al-Kahfi dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu: a) terbatasnya akses pembiayaan dan kurangnya permodalan; b) kualitas SDM yang terbatas; c) harga bahan baku yang setiap tahunnya mengalami kenaikkan. Dan faktor eksternalnya yaitu: Terbatasnya usaha, sarana; a) Dilihat dari iklim usaha, b) Kebijakan Pemerintah dalam meningkatkan atau menumbuh kembangkan UMKM. Selain itu adapun kendala yang dihadapi oleh pemulung, meliputi: a) kurangnya SDM yang dapat mensejahterakan para pemulung dengan membuka pelatihan; b) kurangnya kesadaran masyarakat pemulung terhadap pengetahuan dan teknologi.Key Word: Pemberdayaan; Kesejahteraan Masyarakat, Pemulung
PENDEKATAN KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN LEMBAGA DAKWAH: GAYA MANAJEMEN KONFLIK (INTEGRATING, OBLIGING, DOMINATING, AVOIDING, COMPROMISING) Nurul Fadilah; Cecep Castrawijaya
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 18, No 2 (2024): DA'WAH PROGRESSIVE
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v18i2.3537

Abstract

The purpose of this study is to contribute ideas and introduce a communication approach to the leadership of da'wah institutions. This study departs from the root of the problem or individual conflicts that often occur in a group, especially groups of da'wah institutions, and basically every group needs a figure who can lead massively so that cooperation between groups can run according to goals. Through the identification of phenomena and literature studies that might be considered as a way to solve or manage conflicts in organizational groups using the concept of conflict management styles according to Rahim (2001) integrating, obliging, dominating, avoiding, and compromising. The results of his research show that conflict management in the leadership of da'wah institutions involves choosing the right style, such as collaborative, yielding, dominating, avoiding, and compromising, according to the situation at hand. An effective leader must be able to choose the appropriate style to maintain harmony and achieve organizational goals, taking into account the advantages and disadvantages of each style. Wise selection of styles will help resolve conflicts efficiently and ensure smooth communication within the da'wah institution.[Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan sumbangsih ide dan memperkenalkannya sebuah pendekatan komunikasi kepemimpinan lembaga dakwah. Kajian ini berangkat dari akar problem atau konflik individu yang sering terjadi dalam suatu kelompok, khususnya kelompok lembaga dakwah, dan pada dasarnya setiap kelompok membutuhkan sosok yang dapat memimpin secara massive agar kerjasama antar kelompoknya dapat berjalan sesusai dengan tujuan. Melalui identifikasi fenomena dan studi literatur yang mungkin dapat dipertimbangkan sebagai suatu cara untuk memecahkan atau memanajemen konflik di dalam kelompok organisasi dengan menggunakan konsep gaya manajemen konflik menurut Rahim (2001) integrating, obliging, dominating, avoiding, and compromising. Hasil penelitiannya menunjukkan manajemen konflik dalam kepemimpinan lembaga dakwah melibatkan pemilihan gaya yang tepat, seperti kolaboratif, mengalah, mendominasi, menghindar, dan kompromi, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Pemimpin yang efektif harus mampu memilih gaya yang sesuai untuk menjaga keharmonisan dan mencapai tujuan organisasi, dengan mempertimbangkan kelebihan dan kelemahan setiap gaya. Pemilihan gaya yang bijaksana akan membantu menyelesaikan konflik secara efisien dan memastikan kelancaran komunikasi dalam lembaga dakwah.]