Bangunan dua lantai memiliki perilaku struktural yang unik saat mengalami gempa karena adanya kombinasi pengaruh beban statik dan dinamik pada tiap lantainya. Evaluasi nilai kerugian akibat gempa dilakukan dengan mempertimbangkan empat tingkatan intensitas, yaitu ringan, sedang, kuat, dan sangat kuat, menggunakan dua metode linier yang umum digunakan, yaitu Linear Static Equivalent (LSE) dan Response Spectrum Analysis (RSA). Metode LSE menghitung respons lateral bangunan dengan pendekatan beban statik ekuivalen sehingga analisisnya lebih sederhana dan cepat diterapkan, sedangkan RSA memperhitungkan kontribusi masing-masing mode getaran melalui spektrum respons gempa sehingga menghasilkan estimasi yang lebih realistis terhadap perilaku dinamik multi-mode. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai kerugian yang diprediksi menggunakan RSA lebih besar dibandingkan LSE pada tingkat gempa sedang hingga sangat kuat; sebagai contoh, kerugian pada gempa kuat menunjukkan peningkatan signifikan karena RSA mampu menangkap efek resonansi dan distribusi energi yang lebih kompleks dalam struktur. Hasil analisis juga mengindikasikan bahwa LSE cenderung memberikan nilai kerugian lebih rendah dan kurang sensitif terhadap perubahan intensitas gempa, sedangkan RSA memberikan gambaran kerusakan yang lebih rinci dan dekat dengan kondisi aktual. Temuan ini menegaskan pentingnya pemilihan metode analisis yang tepat dalam estimasi kerugian seismik serta perlunya mempertimbangkan efek dinamik multi-mode untuk memperoleh prediksi risiko gempa yang lebih akurat, komprehensif, dan mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan struktur tahan gempa.