Cuplikan Tari Bagurau yang diunggah di akun TikTok @ayief menampilkan perubahan mendasar dari bentuk aslinya, seperti pergantian komposisi penari dari perempuan menjadi laki-laki, penggunaan kostum yang tidak sesuai, serta koreografi yang tidak utuh, sehingga memunculkan beragam respons audiens pada kolom komentar. Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi audiens TikTok terhadap cuplikan Tari Bagurau di ruang digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis resepsi berbasis model encoding-decoding Stuart Hall, yang dipilih karena mampu memetakan variasi posisi pembacaan audiens terhadap teks media secara sistematis. Data berupa 206 komentar pada video tersebut dalam rentang tahun 2024-2025 dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan tiga posisi resepsi, yaitu dominant reading (48 komentar), negotiated reading (35 komentar), dan oppositional reading yang mendominasi (123 komentar) secara konsisten pada kedua periode. Dominasi oppositional reading membuktikan bahwa kepekaan estetik audiens terhadap Tari Bagurau berakar pada sistem nilai budaya Minangkabau yang mengakar kuat, bukan sekadar reaksi spontan, dan mampu melahirkan pembacaan kritis meski tanpa latar belakang formal dalam dunia tari. Penelitian ini menyimpulkan bahwa TikTok bukan hanya ruang distribusi karya tari, melainkan juga ruang negosiasi makna antara keterbukaan ekspresi digital dan kekuatan sistem nilai budaya lokal. Penelitian lanjutan disarankan memperluas cakupan platform digital dan memperdalam wawancara audiens guna memahami kerangka kultural yang membentuk resepsi mereka.