M. Fairuz Rosyid
UIN K.H. Abdurrahhman Wahid Pekalongan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi Analisis Morfologis Fi’il (Kata Kerja) ditinjau dari Huruf Penyusunnya pada Surah Al-bayyinah Nurfadila Hulantu; Adtman A. Hasan; Dzulkifli M Mooduto; M. Fairuz Rosyid
Al-Kilmah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Humaniora Vol. 4 No. 1 (2025): June 2025. Al-Kilmah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Humaniora
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58194/al-kilmah.v4i1.2827

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis morfologis fi’il (kata kerja) dalam Surah Al-Bayyinah dengan fokus pada huruf-huruf penyusunnya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (literatur review), yang melibatkan pengumpulan dan analisis data dari sumber-sumber literatur terkait. Pendekatan ini dilakukan untuk memahami struktur morfologis fi’il serta pola perubahan kata kerja dalam konteks bahasa Arab Al-Qur’an. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi fi’il yang terdapat dalam Surah Al-Bayyinah, menguraikan huruf-huruf penyusunnya, serta mengelompokkan fi’il berdasarkan bentuk dan jenisnya, baik dari sisi wazan (pola) maupun fungsi gramatikalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fi’il dalam Surah Al-Bayyinah ditemui sebanyak 18 fi’il,dengan fi’il mujarrad sebanyak 13 dan fi’il mazid sebanyak 5. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat bagi pengajaran bahasa Arab dan kajian tafsir Al-Qur’an, karena membantu memperjelas makna kata kerja dalam konteks ayat. Kesimpulan penelitian ini memperkuat urgensi studi morfologi dalam memahami kedalaman struktur bahasa Al-Qur’an.
في البرنامج العلاجي لتعليم اللغة العربية المكثف بالجامعة كياهي الحاج عبد الرحمن واحد بكالونجان الإسلامية الحكومية(SRL) تعليم علم النحو على ضوء التعلم المنظم الذاتي: Pengajaran Tata Bahasa Arab Berbasis Pembelajaran Berbasis Pengaturan Diri (SRL) dalam Program Intensif Perbaikan Bahasa Arab Muhammad Zayinil Akhas; M. Fairuz Rosyid; Ahmad Ubaedi Fathuddin
ELOQUENCE : Journal of Foreign Language Vol. 4 No. 2 (2025): AUGUST
Publisher : Language Development Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58194/eloquence.v4i2.2702

Abstract

Background: Grammar teaching in Arabic language learning often fails to encourage student independence and motivation, especially in the context of remedial programs.  Purpose: This study aims to examine the application of Self-Regulated Learning (SRL) strategies in grammar teaching in an intensive Arabic remedial program at UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Method: This study employs a qualitative descriptive approach with a non-experimental field design, involving 23 students selected purposefully due to their low grammar proficiency. Data were collected through observation, SRL questionnaires, pre- and post-tests, and in-depth interviews. Data analysis was conducted qualitatively and quantitatively to evaluate the effectiveness of the SRL strategy and its impact on grammar mastery. Results and Discussion: The results of the study showed a significant improvement in students' grammar comprehension after the implementation of the SRL strategy. Students demonstrated increased independence, motivation, and engagement in grammar learning. SRL components such as planning, self-monitoring, and reflection were proven effective in addressing grammar learning challenges in an intensive short-term environment. Conclusions and Implications: These findings indicate that integrating SRL into Arabic grammar instruction can improve learning outcomes and foster student independence. This study contributes to the development of SRL theory in language learning and offers practical implications for designing more effective remedial programs in Arabic language education. The integration of Self-Regulated Learning in Arabic grammar instruction in remedial programs not only improves mastery of the material but also fosters the independent learning character essential for long-term academic development. Therefore, this approach is recommended for widespread adoption in Arabic language learning programs in higher education, with the support of policies, faculty training, and adequate learning resources.
Semantic Reception of Khilafiyyah Hadith and the Production of Horizontal Religious Conflict in Indonesia Muhandis Azzuhri; Faliqul Isbah; Abdul Basith; M. Fairuz Rosyid; Ana Faila Sufa
EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ibtikar.v14i2.23653

Abstract

This study examines how differing semantic receptions of ḥadīth khilāfiyyah among Islamic mass organizations (ormas Islam) in Indonesia contribute to horizontal conflict and prolonged religious controversy, thereby challenging the spirit of religious moderation. The research aims to analyze how identical ḥadīth texts generate divergent meanings and truth claims that shape social exclusion and intergroup tensions. Employing a qualitative approach, this study investigates selected ḥadīth khilāfiyyah from kutub al-tis‘ah as the material object and the contested receptions of Islamic organizational figures as the formal object. Data were collected through textual documentation of ḥadīth and their commentaries, online observation of national news reporting religious conflicts, and semi-structured interviews with relevant actors. Data analysis followed the Miles and Huberman model, encompassing data reduction, display, and verification, and was further interpreted through the reception theory framework of Hans Robert Jauss and Wolfgang Iser. The findings reveal that key semantic gaps within specific ḥadīth phrases—such as bid‘ah, al-jamā‘ah, and khālifū—enable exclusive interpretations that are institutionalized as truth claims by dominant groups. These receptions function performatively, legitimizing practices of stigmatization, rejection of mosques, dissolution of religious gatherings, and marginalization of minority groups. The study concludes that horizontal religious conflict is rooted not in the ḥadīth texts themselves but in closed semantic receptions, underscoring the necessity of hermeneutical awareness and semantic literacy to strengthen religious moderation.Key words: ḥadīth khilāfiyyah; semantic reception; Islamic mass organizations; horizontal conflict. Penelitian ini mengkaji bagaimana perbedaan resepsi semantik terhadap hadis-hadis khilafiyah di kalangan organisasi massa Islam (ormas Islam) di Indonesia berkontribusi pada terjadinya konflik horizontal dan kontroversi keagamaan yang berkepanjangan, sehingga menantang semangat moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teks hadis yang sama dapat menghasilkan makna dan klaim kebenaran yang berbeda-beda, yang kemudian membentuk praktik eksklusi sosial dan ketegangan antarkelompok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji sejumlah hadis khilafiyah yang bersumber dari kutub al-tis‘ah sebagai objek material, serta resepsi yang diperdebatkan di kalangan tokoh ormas Islam sebagai objek formal. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks hadis dan kitab syarahnya, observasi daring terhadap pemberitaan nasional terkait konflik keagamaan, serta wawancara semi-terstruktur dengan aktor-aktor terkait. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta ditafsirkan lebih lanjut menggunakan kerangka teori resepsi Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa celah-celah semantik pada frasa hadis tertentu—seperti bid‘ah, al-jamā‘ah, dan khālifū—memungkinkan lahirnya tafsir eksklusif yang dilembagakan sebagai klaim kebenaran oleh kelompok dominan. Resepsi tersebut berfungsi secara performatif dalam melegitimasi praktik stigmatisasi, penolakan masjid, pembubaran kegiatan keagamaan, serta peminggiran kelompok minoritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik keagamaan horizontal tidak bersumber dari teks hadis itu sendiri, melainkan dari resepsi semantik yang tertutup, sehingga diperlukan kesadaran hermeneutik dan literasi semantik untuk memperkuat moderasi beragama.Kata kunci: hadis khilafiyah; resepsi semantik; organisasi massa Islam; konflik horizontal.Penelitian ini mengkaji bagaimana perbedaan resepsi semantik terhadap hadis-hadis khilafiyah di kalangan organisasi massa Islam (ormas Islam) di Indonesia berkontribusi pada terjadinya konflik horizontal dan kontroversi keagamaan yang berkepanjangan, sehingga menantang semangat moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teks hadis yang sama dapat menghasilkan makna dan klaim kebenaran yang berbeda-beda, yang kemudian membentuk praktik eksklusi sosial dan ketegangan antarkelompok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji sejumlah hadis khilafiyah yang bersumber dari kutub al-tis‘ah sebagai objek material, serta resepsi yang diperdebatkan di kalangan tokoh ormas Islam sebagai objek formal. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks hadis dan kitab syarahnya, observasi daring terhadap pemberitaan nasional terkait konflik keagamaan, serta wawancara semi-terstruktur dengan aktor-aktor terkait. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta ditafsirkan lebih lanjut menggunakan kerangka teori resepsi Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa celah-celah semantik pada frasa hadis tertentu—seperti bid‘ah, al-jamā‘ah, dan khālifū—memungkinkan lahirnya tafsir eksklusif yang dilembagakan sebagai klaim kebenaran oleh kelompok dominan. Resepsi tersebut berfungsi secara performatif dalam melegitimasi praktik stigmatisasi, penolakan masjid, pembubaran kegiatan keagamaan, serta peminggiran kelompok minoritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik keagamaan horizontal tidak bersumber dari teks hadis itu sendiri, melainkan dari resepsi semantik yang tertutup, sehingga diperlukan kesadaran hermeneutik dan literasi semantik untuk memperkuat moderasi beragama.Kata kunci: hadis khilafiyah; resepsi semantik; organisasi massa Islam; konflik horizontal.