Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Arahan Zonasi Aktivitas Wisata Di Sempadan Sungai Bolango Afivah Virgiani Putri Sadrach; La Ode Juni Akbar; Sri Rahayu Ayuba; Bambang Djau
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2568

Abstract

Tujuan penelitian yaitu menentukan arahan zonasi sempadan sungai Bolango yang dapat digunakan untuk aktivitas wisata. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi lapangan dan dokumentasi. Jenis penelitian deskriptif kualitatif menggunakan analisis stakeholder yaitu pemetaan dan pemahaman kekuasaan, posisi dan sudut pandang dari para stakeholder yang memiliki kepentingan dalam pembuatan kebijakan, atau mereka yang dipengaruhi oleh kebijakan tersebut serta menjadi bagian dari kebijakan dan analisis spasial untuk menentukan arahan zonasi pola ruang berdasarkan hasil skoring dan pembobotan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) berupa metode overlay. Berdasarkan matriks ITBX berhasil mengidentifikasi arahan zonasi aktivitas wisata di sempadan Sungai Bolango dengan mempertimbangkan aspek regulasi, lingkungan, dan sosial-ekonomi. Berdasarkan analisis stakeholder, ditemukan bahwa aktivitas wisata harus disesuaikan dengan ketentuan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai, yang melarang pembangunan permanen di sempadan sungai. Persepsi stakeholder bervariasi, di mana pemerintah menekankan kepatuhan terhadap regulasi, akademisi dan LSM lebih berfokus pada dampak lingkungan, sementara masyarakat lokal dan pelaku usaha cenderung mendukung aktivitas yang meningkatkan pendapatan. Hasil analisis menggunakan matriks ITBX menunjukkan bahwa aktivitas seperti fotografi dan piknik dapat diizinkan secara penuh (I), sedangkan river tubing dan arung jeram diizinkan dengan pembatasan (T) atau syarat tertentu (B), seperti pengawasan keselamatan dan mitigasi dampak lingkungan. Sementara itu, aktivitas berisiko tinggi seperti snorkeling dan pembangunan cottage/villa tidak diizinkan (X) karena ketidaksesuaian dengan kondisi sungai dan potensi kerusakan ekosistem.
Evaluasi Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Kesesuaian Lahan Di Kota Kota Gorontalo Mohamad Fiqri Hunta; Bambang Djau; Dewi Sartika T. Zees
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.2569

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan dan kesesuaian spasial Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Gorontalo. Pertumbuhan kota yang pesat telah menyebabkan berkurangnya ruang ekologis, sehingga keberadaan RTH menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, wilayah perkotaan diwajibkan memiliki minimal 30% luas wilayah berupa RTH. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji status eksisting RTH serta kesesuaiannya terhadap rencana tata ruang wilayah. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui survei lapangan (observasi langsung, pencatatan koordinat, dokumentasi) dan studi pustaka menggunakan peta tematik seperti penggunaan lahan, kemiringan lereng, dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian mengidentifikasi sepuluh lokasi RTH yang tersebar di berbagai titik kota. Sebagian besar RTH memiliki karakter campuran antara vegetasi, area perkerasan, dan lahan terbangun. Analisis overlay menunjukkan bahwa hampir seluruh RTH berada pada zona yang sesuai, kecuali Lapangan Bulota yang terletak di zona tidak sesuai berdasarkan RTRW. Secara fungsional, RTH memenuhi peran ekologis dan sosial, namun tantangan masih ditemukan dalam aspek keberlanjutan fungsi dan perlindungan terhadap alih fungsi lahan. Keywords: Ruang Terbuka Hijau, Kesesuaian Lahan, Tata Ruang, Perkotaan, Kota Gorontalo Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan dan kesesuaian spasial Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Gorontalo. Pertumbuhan kota yang pesat telah menyebabkan berkurangnya ruang ekologis, sehingga keberadaan RTH menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, wilayah perkotaan diwajibkan memiliki minimal 30% luas wilayah berupa RTH. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji status eksisting RTH serta kesesuaiannya terhadap rencana tata ruang wilayah. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui survei lapangan (observasi langsung, pencatatan koordinat, dokumentasi) dan studi pustaka menggunakan peta tematik seperti penggunaan lahan, kemiringan lereng, dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian mengidentifikasi sepuluh lokasi RTH yang tersebar di berbagai titik kota. Sebagian besar RTH memiliki karakter campuran antara vegetasi, area perkerasan, dan lahan terbangun. Analisis overlay menunjukkan bahwa hampir seluruh RTH berada pada zona yang sesuai, kecuali Lapangan Bulota yang terletak di zona tidak sesuai berdasarkan RTRW. Secara fungsional, RTH memenuhi peran ekologis dan sosial, namun tantangan masih ditemukan dalam aspek keberlanjutan fungsi dan perlindungan terhadap alih fungsi lahan.
Implementasi Pertanian Kota Dalam Memaksimalkan Fungsi Ekologis Ruang Terbuka Hijau Kota Gorontalo Bambang Djau
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2941

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk memberikan ide rancangan implementatif pada Ruang Terbuka Hijau melalui konsep Pertanian Kota di Kota Gorontalo yaitu dengan mengintegrasikan nilai ekologis dan nilai ekonomi. Metode yang digunakan adalah perancangan tapak dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta analisis penentuan persentase fungsi ekologis dan jenis vegetasi pada desain tapak ruang terbuka hijau. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan wadah multifungsi yang tidak hanya mengakomodasi kegiatan ruang terbuka hijau sesuai kebutuhan, tetapi juga menjadi instrumen keseimbangan yang justru dapat mewujudkan fungsi ekologis dan kemandirian pangan. Sehingga memberikan pergeseran pada fungsi ruang terbuka hijau yang selama ini hanya ditekankan pada fungsi ekologis dan estetika semata. Studi dan implementasi yang sudah ada di kota-kota lain membuktikan bahwa pengembangan pertanian kota mampu membalikkan keadaan dari kondisi keterbatasan karena alih fungsi lahan menjadi produktif dilahan terbatas. Hal ini sejalan dengan program nasional tentang Ketahanan Pangan Indonesia