Sukmawati Sukmawati
Universitas Muhammadiyah Bone

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Myths and Beliefs Surrounding Mappaenre Bunge: Disease, Tradition, and Social Impact in Bugis Society Mutmainna Mutmainna; Nursyam Aisyah Nursyam; Asfar Asfar; Asfar Asfar; Nurannisa Nurannisa; Sukmawati Sukmawati; Rijal Rijal
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 26, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v26.n2.p213-218.2024

Abstract

The Mappaenre Bunge tradition as a ritual that has been going on for generations has deep meaning for the Bugis people. The community believes that by carrying out this tradition, they will establish a harmonious relationship with their ancestors and the universe. People think that if this tradition is not implemented, then people will be affected by disease. The aim of this research is to explore the Mappaenre Bunge tradition in Bugis community culture; examine people's views on counter-myths in the Mappaenre Bunge tradition in Bugis society; and reveal the influence of the Mappaenre Bunge tradition on the emergence of disease in the Bugis tribe. The research methods used are historical methods and phenomenological methods. The historical method is used to collect data about the origins and development of the Mappaenre Bunge tradition, while the phenomenological method is used to understand the experience and meaning of the Mappaenre Bunge tradition for the Bugis community. The results of this research reveal the aim of this research, namely to find out the origins of the emergence of the Mappaenre Bunge tradition; found 6 myths and 3 counter-myths; The myths present in the Tappale Village Community are stronger than the counter-myths.
IMPLEMENTASI PHENOMENON-BASED LEARNING BERBASIS ETNOMATEMATIKA MABBILANG WETTU DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP GEOMETRI DUA DIMENSI Sukmawati Sukmawati; Naimah Naimah; Sirwanti Sirwanti; Andi Muhammad Irfan Taufan Asfar; Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Andi Nurannisa
Pedagogy: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 11 No. 2 (2026): Pedagogy : Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/ame81326

Abstract

Rendahnya pemahaman konsep geometri dua dimensi pada peserta didik sekolah dasar disebabkan oleh pembelajaran yang masih bersifat abstrak dan minim mengintegrasikan konteks budaya lokal. Kondisi ini menyebabkan peserta didik mengalami kesulitan dalam mengenali bentuk, sifat, serta hubungan antarbangun datar secara bermakna. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan Phenomenon-Based Learning berbasis etnomatematika Mabbilang Wettu untuk meningkatkan pemahaman konsep geometri dua dimensi peserta didik. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analyze, design, development, implementation, dan evaluation. Subjek penelitian sebanyak masing-mmasing 20 peserta didik dari kelas VI UPT SD Inpres 5/81 Tompong Patu dan UPT SD Inpres 5/81 Ponre-Ponre. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, tes pemahaman konsep matematika, angket, dan validasi ahli. Validator ahli terdiri atas ahli materi matematika, ahli media pembelajaran, dan ahli budaya Bugis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis etnomatematika Mabbilang Wettu memenuhi kriteria valid berdasarkan penilaian ahli materi, ahli media, dan ahli budaya dengan kategori valid hingga sangat valid. Implementasi pembelajaran juga menunjukkan kategori praktis berdasarkan respons positif guru dan peserta didik. Hasil efektivitas menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep geometri dua dimensi yang ditandai oleh peningkatan rata-rata hasil posttest dan nilai N-Gain 0,70 atau kategori tinggi. Temuan penelitian membuktikan bahwa integrasi simbol budaya Mabbilang Wettu melalui pendekatan Phenomenon-Based Learning mampu menciptakan pembelajaran geometri yang lebih kontekstual, bermakna, dan mendukung penguatan literasi budaya peserta didik.