Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Self Healing Dengan Tingkat Stres Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Kayon Palangka Raya Nurhasanah; Agustina Nugrahini; Eva Priskila
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.354

Abstract

Latar belakang: Hipertensi disebut sebagai “The Silent Killer” karena sering kali tidak menunjukkan gejala, tetapi memiliki tingkat mortalitas tinggi dan dapat memengaruhi kualitas hidup. Salah satu penyebabnya adalah stres psikologis yang tidak disadari. Survei pendahuluan di Puskesmas Kayon Palangka Raya menunjukkan beberapa pasien hipertensi mengalami stres akibat pekerjaan, kelelahan, dan masalah keuangan, namun belum memiliki strategi pengelolaan stres yang efektif. Beberapa pasien tidak memahami konsep self healing, sedangkan sebagian lainnya telah menerapkan teknik seperti menarik napas dalam, berdoa, atau menyendiri, meskipun belum menyadari bahwa itu termasuk self healing. Padahal, self healing merupakan cara sederhana yang dapat membantu mengurangi stres melalui relaksasi dan kesadaran diri. Tujuan: Mengetahui hubungan antara self healing dan tingkat stres pada pasien hipertensi di Puskesmas Kayon Palangka Raya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 68 responden hipertensi dipilih secara purposive sampling. Instrumen menggunakan SHAS dan DASS-42 subskala stres. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Self healing sedang sebanyak 27 responden (39,7%) dan tinggi 26 responden (38,2%). Tingkat stres terbanyak adalah stres sedang sebanyak 25 responden (36,8%). Hasil uji menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan (p = 0,227; r = -0,149). Kesimpulan: Semakin tinggi kemampuan self healing, maka cenderung semakin rendah tingkat stres, namun hubungan ini sangat lemah. Hal ini diduga karena penerapannya belum konsisten dan dipengaruhi faktor eksternal seperti pekerjaan dan dukungan sosial.
Hubungan Gender dengan Kejadian Komplikasi pada Penderita Diabetes Mellitus di Ruang Rawat Inap Bougenville RSUD Dr. Murjani Sampit: Correlation Between Gender and the Occurance of Complications in Patients with Diabetes Mellitus in the Impatient Unit of Dr. Murjani Hospital Sampit Hermiwatie Hermiwatie; Meilitha Carolina; Eva Priskila
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v12i1.12794

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolik kronik yang dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani secara optimal. Faktor gender diketahui memiliki pengaruh terhadap variasi klinis dan komplikasi yang timbul pada pasien diabetes. Peran gender menjadi langkah krusial untuk merumuskan strategi pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi Diabetes Mellitus yang lebih tepat sasaran dan efektif. Fenomena di Ruang Rawat Bougenville RSUD Dr. Murjani menunjukkan bahwa pasien Diabetes Mellitus dengan komplikasi lebih banyak didominasi oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian komplikasi pada penderita Diabetes Mellitus di ruang rawat inap RSUD dr. Murjani Sampit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan retrospektif. Sampel berjumlah 46 responden yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi rekam medis. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 responden laki-laki, sebanyak 14 orang (87,5%) mengalami komplikasi, sedangkan dari 30 responden perempuan, 14 orang (46,7%) mengalami komplikasi. Uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,007 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian komplikasi. Odds Ratio sebesar 8,000 (CI 95%: 1,542–41,493) mengindikasikan bahwa laki-laki memiliki kemungkinan 8 kali lebih besar mengalami komplikasi dibandingkan perempuan. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian komplikasi pada penderita Diabetes Mellitus di ruang rawat inap RSUD dr. Murjani Sampit.
Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Pola Tidur dan Kejadian Hipertensi pada Tahanan di Ruang Tahanan Direktorat Tahanan dan Barang Bukti Polda Kalimantan Tengah Eka Cahaya; Meilitha Carolina; Eva Priskila
The Journal General Health and Pharmaceutical Sciences Research Vol. 2 No. 2 (2024): June : The Journal General Health and Pharmaceutical Sciences Research
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/tjghpsr.v2i2.424

Abstract

Smoking is the activity of inhaling or drawing in cigarette smoke using a pipe or cigarette. Smoking habits can affect sleep patterns and blood pressure. Cigarettes contain chemicals that stimulate the brain to release adrenaline, which can increase blood pressure and brain activity, making it difficult to fall asleep due to the stimulant effects of nicotine. Cigarettes that enter the bloodstream can damage blood vessel linings, leading to arteriosclerosis and high blood pressure. This study aims to examine the relationship between smoking habits, sleep patterns, and the incidence of hypertension among detainees at the Directorate of Detainees and Evidence Police Department of Central Kalimantan. Method: A correlational study with a cross-sectional approach, with a population of 46 detainees and a total sampling method involving 46 respondents. Data were collected using questionnaires. Data analysis was performed using Spearman Rank and Chi-square tests. Results: Statistical testing showed a significance value (2-tailed) of 0.00 < 0.05, indicating a relationship between smoking habits and sleep patterns. However, the p-value was 0.833 > 0.05, demonstrating no relationship between smoking habits and hypertension incidence among detainees at the Directorate of Detainees and Evidence Police Department of Central Kalimantan. Conclusion: The majority of respondents had moderate smoking habits, with 25 individuals (54.3%), and a smaller group had heavy smoking habits, with 10 individuals (21.7%). Most respondents had a good sleep pattern, with 32 individuals (69.6%), while a smaller group had poor sleep patterns, with 5 individuals (10.9%). The majority of respondents did not have hypertension, with 25 individuals (52.2%), and a smaller group had hypertension, with 22 individuals (47.8%).