Lysa Mariam
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Usia, Jenis Kelamin, dan Personal Hygiene dengan Kejadian Pedikulosis Kapitis Pada Siswa dan Siswi Sekolah Dasar di SDN 44 Cakranegara Ulfinda Riska Cahyani; Wiwin Mulianingsih; Suci Nirmala; Lysa Mariam
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14415

Abstract

ABSTRACT Pediculosis capitis is a cosmopolitan disease that can be found in all level of society, which is caused by lice infestation. Pediculus humanus var. capitis which belongs to the family Pediculidae is one of the causes of hair and head disorders. This is a health issue that needs attention due to its highly variable incidence rates, supported by various risk factors such as age, gender, personal hygiene, and others. Objective to determine the relationship between age, gender, and personal hygiene with the incidence of pediculosis capitis among male and female elementary school students at SDN 44 Cakranegara. This is an observational analytical study utilizing a cross-sectional research design, with the statistical test employed being the Spearman rank correlation. The sampling technique applied is proportional stratified random sampling, involving a total of 117 samples comprising fourth, fifth, and sixth grade students from SDN 44 Cakrangera. The age of students at SDN 44 Cakranegara in relation to the occurrence of pediculosis capitis is predominantly 12 years old, with 37 respondents (31.6%). Regarding gender at SDN 44 Cakranegara in relation to the occurrence of pediculosis capitis, the majority are female, with 51 respondents (43.6%). The personal hygiene of students at SDN 44 Cakranegara in relation to the occurrence of pediculosis capitis indicates that personal hygiene is inadequate in 67 respondents (57.3%). Respondents' age has a significant relationship with the incidence of Pediculosis Capitis with a p-value = 0.001. Gender has a significant relationship with the incidence of Pediculosis Capitis with a p-value = 0.025. Personal hygiene has a significant relationship with the incidence of Pediculosis Capitis with a p-value = 0.000. There is a correlation between age, gender, and personal hygiene with the incidence of pediculosis capitis among male and female elementary school students at SDN 44 Cakranegara. Keywords: Pediculosis Capitis, Age, Gender, Personal Hygiene, SDN 44                 Cakranegara.  ABSTRAK Pedikulosis kapitis merupakan penyakit cosmopolitan yang dapat ditemukan lapisan masyarakat, yang disebabkan oleh infestasi kutu. Pediculus humanus var. capitis yang termasuk famili Pediculidae merupakan salah satu penyebab gangguan pada rambut dan kepala. Ini merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan karena angka kejadiannya yang begitu bervariasi serta didukung oleh berbagai faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, personal hygiene, dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin, dan personal hygiene dengan kejadian pedikulosis kapitis pada siswa dan siswi sekolah dasar di SDN 44 Cakranegara. Penelitian analitik observasional dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional, dengan uji statistik yang digunakan yaitu rank spearmen. Teknik sampling yang digunakan yaitu proportional stratified random sampling yang berjumlah 117 sampel siswa dan siswi kelas IV, V, dan VI SDN 44 Cakrangera. Usia siswa dan siswi SDN 44 Cakranegara terhadap kejadian pedikulosis kapitis sebagian besar berusia 12 tahun sebanyak 37 responden (31,6%). Jenis kelamin di SDN 44 Cakranegara terhadap kejadian pedikulosis kapitis sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 51 responden (43,6%). Personal hygiene siswa dan siswi di SDN 44 Cakranegara terhadap kejadian pedikulosis kapitis ini didapatkan personal hygiene kurang baik sebanyak 67 responden (57,3%). Responden Usia dengan kejadian Pedikulosis Kapitis memiliki hubungan yang signifikan dengan p-value = 0,001. Jenis kelamin dengan kejadian Pedikulosis Kapitis memiliki hubungan signifikan dengan p-value = 0,025. Personal Hygiene dengan kejadian Pedikulosis Kapitis memiliki hubungan signifikan dengan p-value = 0,000. Terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, dan personal hygiene dengan kejadian pedikulosis kapitis pada siswa dan siswi sekolah dasar di SDN 44 Cakranegara. Kata Kunci: Pedikulosis Kapitis, Usia, Jenis Kelamin, Personal Hygiene, SDN 44                  Cakranegara
Hubungan Paparan Sinar Matahari, Penggunaan Kontrasepsi Hormonal dan Penggunaan Sunscreen terhadap Kejadian Melasma yang Diukur dengan Skor Masi pada Wanita Y Ang Sudah Menikah di Desa Kertasari Kecamatan Labuhan Haji Lombok Timur Nurma Hestika Maulani; Made Ayu Mirah Wulandari; Lysa Mariam; Wiwin Mulianingsih
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24832

Abstract

ABSTRACT Melasma is a chronic facial hyperpigmentation disorder commonly affecting women, particularly in coastal areas with high sun exposure. Ultraviolet radiation, hormonal contraceptive use, and sunscreen application are considered important factors influencing melasma occurrence and severity. The severity of melasma can be objectively assessed using the Melasma Area and Severity Index (MASI). Objective to determine the association between sun exposure, hormonal contraceptive use, and sunscreen use with melasma occurrence measured using the MASI score. This study was an analytical quantitative study with a cross-sectional design. The study population consisted of married women living in Kertasari Village, Labuhan Haji District, East Lombok Regency, totaling 302 individuals. The sample size was 80 respondents selected using a random sampling method. Data on sun exposure, hormonal contraceptive use, and sunscreen use were collected using structured questionnaires. The severity of melasma was assessed through clinical examination using the Melasma Area and Severity Index (MASI) score. Data analysis was performed using univariate and bivariate analyses to determine the association between the study variables. The majority of respondents were aged 26–35 years (31.3%). Most respondents worked as farmers (33.8%), and the highest proportion of respondents had completed senior high school education (35.0%). A high level of sun exposure was reported in 60.0% of respondents. The most commonly used hormonal contraceptive method was oral contraceptive pills (42.5%). Regarding sunscreen use, 40.0% of respondents reported moderate use. There was a significant association between sun exposure, hormonal contraceptive use, and sunscreen use with the occurrence of melasma in Kertasari Village, Labuhan Haji District, East Lombok Regency. Keywords: Melasma, Sun Exposure, Hormonal Contraceptives, Sunscreen, MASI Score.   ABSTRAK Melasma merupakan kelainan hiperpigmentasi kronis pada wajah yang sering dialami wanita, terutama di daerah pesisir dengan paparan sinar matahari tinggi. Faktor paparan sinar ultraviolet, penggunaan kontrasepsi hormonal, serta penggunaan sunscreen diduga berperan terhadap kejadian dan derajat keparahan melasma. Penilaian objektif derajat keparahan melasma dapat dilakukan menggunakan Melasma Area and Severity Index (MASI). Tujuan penelitianmengetahui hubungan paparan sinar matahari, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan penggunaan sunscreenterhadap kejadian melasma yang diukur menggunakan skor MASI. Penelitian kuantitatif analitik cross sectional. Populasi penelitian adalah wanita yang sudah menikah di Desa Kertasari, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur sebanyak 302 orang. Sampel penelitian berjumlah 80 responden yang dipilih menggunakan metode random sampling. Data paparan sinar matahari, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan penggunaan sunscreen dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur. Derajat keparahan melasma dinilai melalui pemeriksaan klinis menggunakan skor MASI. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel penelitian. Responden penelitian sebagian besar berusia 26-35 tahun (31,3%), mayoritas responden bekerja sebagai petani (33,8%) dan mayoritas adalah lulusan SMA (35,0%), paparan sinar matahari tinggi (60%), penggunaan kontrasepsi hormonal berjenis pil (42,5%), dan penggunaan sunscreen cukup (40,0%). Terdapat hubungan yang signifikan antara paparan sinar matahari, penggunaan kontrasepsi hormonal dan penggunaan sunscreen terhadap kejadian melisma di desa kertasari kecamatan labuan haji kabup[aten Lombok timur. Kata Kunci: Melasma, Paparan Sinar Matahari, Kontrasepsi Hormonal, Sunscreen, Skor MASI.