Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pendampingan Pencatatan Daftar Pemilih Tetap Untuk Pemilihan Kepala Daerah di Kelurahan Mawang Kabupaten Gowa Isma Muthahharah; Hardianti Hafid; Bungatang; Yati Samsyuddin
Jurnal Hasil-Hasil Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2024): Volume 03 Nomor 02 (Oktober 2024)
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/jhp2m.v3i2.4227

Abstract

Kelurahan Mawang adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam rangka pemutakhiran data pemilu kelurahan mawanng menugaskan beberapa pantarlih untuk melakukan pencatatan daftar pemilih tetap dan mencocokan data dengan Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga apakah sudah sesuai dengan yang ada di aplikasi. Dalam pelaksanaan pencatatan dan pemutakhiran daftar pemilih tetap untuk Pimilihan Kepala Daerah (Pilkada) di kelurahan mawang berjumlah 570 orang dengan berarapa keterangan yaitu keterangan status perkawinan (Kawin, Belum kawin, pernah kawin, keterangan status kepimilikan KTP-el (Sudah memeiliki KTP el dan Belum memiliki KTP-el), dan keterangan lain (meninggal, ganda, pindah domisili, di bawah umur, WNA, TNI, Polri, dan TPS tidak sesuai). Selain itu, ada beberapa kendala dalam pencatatan daftar pemilih tetap yaitu kendala yaitu ada warga yang tidak mau membuka pintu rumahnya, ada yang rumahnya sudah tidak dihuni, dan ada warga yang sudah tercatat dalam daftar pemilih tetapi sudah meninggal.
Analisis Bahasa dan Makna Budaya Siri’ na Pacce dalam Ungkapan Tradisional Bugis Pinrang: Kajian Antropolinguistik: Penelitian Nurul Fitrah Yani; Bungatang; Husni BT Salam
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6473

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara bahasa dan budaya dalam ungkapan tradisional Bugis yang mencerminkan nilai Siri’ na Pacce. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan perspektif antropolinguistik. Data penelitian berupa ungkapan tradisional Bugis yang diperoleh dari studi pustaka dan dokumentasi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Bugis tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media transmisi nilai budaya seperti kehormatan (siri’), empati sosial (pacce), tanggung jawab, dan solidaritas. Ungkapan-ungkapan tersebut digunakan dalam berbagai konteks sosial seperti pendidikan keluarga, interaksi sosial, dan penyelesaian konflik. Secara linguistik, bentuk bahasa Bugis menunjukkan penggunaan metafora, paralelisme, dan simbolisme yang mencerminkan pola pikir masyarakat Bugis. Dalam perspektif antropolinguistik, bahasa berperan sebagai representasi sistem nilai budaya sekaligus sebagai alat pembentuk identitas sosial. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya di tengah arus globalisasi.
ANALISIS WACANA KRITIS ATAS RELASI KUASA DALAM CERPEN “CORET-CORET DI TOILET KARYA EKA KURNIAWAN” MICHAEL FOUCAOLT Nensilianti; Bungatang; Nhayla Zahra Annisa Muchlis Nhayla
Jurnal PENEROKA Vol. 6 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/peneroka.v6i2.5072

Abstract

This study aims to analyze the power relations represented in the short story “Corat-Coret di Toilet” by Eka Kurniawan through Michel Foucault’s discourse perspective. The scope of this research focuses on discursive practices that demonstrate the mechanisms of power through the regulation of bodies, the formation of thought, and the emergence of forms of resistance in literary texts. The method used is descriptive qualitative with a critical discourse analysis approach based on Michel Foucault to examine the relationship between discourse, knowledge, and power. The research data consist of words, phrases, sentences, dialogues, and quotations from the short story “Corat-Coret di Toilet” that indicate discursive practices, social control, power relations, and forms of resistance against power. The findings reveal three main points: power relations over the body, power relations over thought, and resistance to power. Power relations over the body are identified through the father’s control over his daughter’s freedom in “Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam,” whereas power relations over thought are seen in the university’s efforts to erase writings on toilet walls as a form of discourse control. An interesting fact from this study is that the toilet walls, often considered unimportant spaces, actually become alternative spaces for anonymous individuals to express criticism, ideas, and social unrest. These findings show that power operates not only through formal rules but also through discourse control, while resistance can emerge through discursive spaces that exist outside dominant power.
Meruntuhkan Narasi Besar Rumah dan Pulang dalam Antologi Puisi Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang Karya Theoresia Rumthe Postmodernisme Lyotard Bungatang; Naufal Hadi Nugraha
Asas: Jurnal Sastra Vol. 15 No. 2 (2026): Asas: Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/w5e2ds61

Abstract

Penelitian ini membahas runtuhnya narasi besar tentang rumah dan pulang dalam antologi puisi Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang karya Theoresia Rumthe dengan menggunakan postmodernisme Jean-François Lyotard. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pembacaan mendalam dan pencatatan larik serta bait puisi yang berkaitan dengan tema rumah, pulang, trauma, dan relasi keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi-puisi dalam antologi ini menghadirkan gambaran rumah yang tidak selalu identik dengan kehangatan, keamanan, dan keharmonisan. Rumah justru ditampilkan sebagai ruang yang menyimpan luka, rahasia, ketakutan, rutinitas yang melelahkan, serta pengalaman penyesalan dalam relasi keluarga. Selain itu, makna pulang juga tidak selalu menghadirkan kebahagiaan, melainkan sering kali disertai jarak emosional dan konflik batin. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman tentang rumah dan pulang bersifat plural dan fragmentaris, sehingga meruntuhkan narasi besar yang selama ini memandang rumah sebagai simbol kebahagiaan yang tunggal dan universal.