Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Memanusiakan Manusia: Eksplorasi Sastra Apokaliptik dan Panggilan Kemanusiaan Dalam Injil Matius 25:31-46 Melalui Semboyan ‘Sitou Timou Tumou Tou’ Udang, Frety Cassia; Kalundang, Audriano
Tepian : Jurnal Misiologi dan Komunikasi Kristen Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Tepian (Desember)
Publisher : Program Studi Misiologi dan Komunikasi Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/tjmkk.v4i2.2144

Abstract

The Current situation continuestondegenerate into apatheic and inhumane actions towards humanity. A lot of data is accessible that shows the level of dehumanitation occuring everywhere. So in this research the call to humanity will be studied in the light of the Gospel of Matthew 25:31-46 in the frame of the motto Si Tou Timou Tumou Tou. This research uses qualitative research methods with a descriptive approach. Because it uses biblical tekts, the approach used is an apocalyptic literary approach. The results of this research show that the text of Matthew 25:31-46 contains apocalyptic elements that are typical of the Gospel of Matthew, and the situation of serving the ‘despicable’ becomes a style of humanitarian service that must be carried out and lived. On the other side, Si Tou Timou Tumou Tou has becomes a lifestyle in creating a humanist living situation.
Perilaku Hidup Sehat: Memahami Pesan Pastoral Paulus Kepada Timotius Menurut 1 Timotius 5:23 Adilang, Ryanto; Kalundang, Audriano
Journal of Psychology Humanlight Vol. 4 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Psikologi Kristen IAKN MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/jph.v4i1.1314

Abstract

Kesehatan adalah kebutuhan. Ini tak dapat disangkal karena pada umumnya orang-orang pasti ingin sehat dalam hidup yang dijalani sehingga dengan berbagai cara membiasakan diri dalam gaya hidup sehat. Kesakitan dan penyakit pasti menjadi momok yang ditakuti untuk dialami karena banyaknya resiko dan penderitaan yang akan teralami jikalau ada dalam kondisi yang tidak sehat. Realita ini membawa peneliti untuk mengkaji mengenai gaya hidup sehat dalam kaitannya dengan minuman beralkohol dengan menyoroti teks alkitab dari 1 Timotius 5:23 dalam pastoral Paulus kepada Timotius menurut bingkai teologi kesehatan. Penelitian ini dibangun dengan metode kualitatif pendekatan deskriptif. Metode tafsir historis dan naratif digunakan oleh peneliti dalam membantu membedah teks yang diangkat dalam penelitian ini kemudian dikontraskan dengan konteks dan perkembangan masa kini. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa mengonsumsi minuman beralkohol bukan hanya berbicara pada batas takaran saja tetapi dengan tujuan untuk kesehatan. Orang kristen harus bekhikmat dalam menganggapi perilaku meminum minuman beralkohol yang hanya diperlukan untuk kesehatan tubuh.
Keramah-tamahan Porodisa: Sebuah Dialog Kritis-Teologis antara Kebudayaan Manarogho dan Narasi Zakheus Kalundang, Audriano; Yuni Feni Labobar
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 5 No 2 (2025): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/bex6xv66

Abstract

Perayaan adat Manarogho, khas masyarakat Taroda (Talaud), berfungsi sebagai simbol penerimaan individu ke dalam masyarakat, gereja, dan keluarga. Dalam konteks umat beragama, perayaan ini sering dikaitkan dengan ibadah dan pewartaan Injil, namun menimbulkan ketegangan akibat perbedaan pemahaman. Konflik pro-kontra muncul terutama terkait tuduhan sinkretisme dalam pelaksanaan budaya ini. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi budaya Manarogho dalam dialog dengan narasi Zakheus sekaligus memperkaya praktik berteologi kontekstual, sehingga penelitian ini juga menjadi penting untuk menghadirkan perspektif baru dalam kontekstualisasi Injil di masyarakat Talaud. Tulisan ini menggunakan penelitian kualitatif di mana memadukan observasi, wawancara, dan studi pustaka di Talaud dengan analisis historis-kritis teks Zakheus untuk mengeksplorasi dialog antara budaya Manarogho dan narasi Alkitab. Hasil penelitian ini menemukan bahwa penerimaan dalam budaya Manarogho dan narasi Zakheus bersifat inklusif, mendorong aksi nyata, dan menegaskan integrasi individu ke dalam komunitas.
Meruntuhkan Tirani, Membangun Pembebasan: Kajian Poskolonial terhadap Matius 2:13-23 dan Relevansinya dalam Realitas Pengungsian Kontemporer Kalundang, Audriano
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i2.72

Abstract

Abstract:  This article discusses the narrative of Jesus' flight to Egypt in Matthew 2:13–23 by placing it within a postcolonial hermeneutical framework and the reality of contemporary displacement. The exile of Joseph, Mary, and the infant Jesus is not merely seen as a theological symbol that fulfils prophecy, but rather seeks to reveal the power relations, agency, and resistance of the subaltern under imperial rule. This study aims to emphasise that the flight in Matthew 2:13–23 represents the strategies of marginalised subjects in facing paranoid and repressive power, and to relate it to the reality of contemporary displacement. This study uses a qualitative method with a postcolonial hermeneutic approach to interpret Matthew 2:13–23. Data were collected through a literature study and text analysis. The results show that the family of Joseph, Mary, and the infant Jesus appear as migrant subjects who have the capacity to read the political situation, make strategic decisions, and develop survival patterns as a form of non-confrontational resistance. These findings challenge the church to revise its pastoral and diaconal paradigm towards refugees and/or subalterns, from objects of pity to theological subjects who bring experiences of faith, hope, and practices of liberation. Abstrak:  Tulisan ini membahas narasi penyingkiran Yesus ke Mesir dalam Matius 2:13–23 dengan menempatkannya dalam kerangka hermeneutik poskolonial dan realitas pengungsian kontemporer. Pengungsian Yusuf, Maria dan Yesus kecil tidak sekadar dilihat sebagai simbol teologis semata yang menggenapi nubuatan namun berusaha menyingkap relasi kuasa, agensi, serta resistensi subaltern di bawah kekuasaan imperial. Tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa pengungsian dalam Matius 2:13-23 merepresentasikan cara dan strategis subjek marginal dalam menghadapi kekuasaan yang paranoid dan represif, serta merelevansikannya dengan realitas pengungsian kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik poskolonial untuk menafsirkan Matius 2:13–23. Data dikumpulkan  melalui studi pustaka dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga Yusuf, Maria dan Yesus kecil tampil sebagai subjek migran yang memiliki kapasitas membaca situasi politik, mengambil keputusan strategis, dan membangun pola bertahan hidup sebagai bentuk resistensi non-konfrontatif. Temuan ini menantang gereja untuk merevisi paradigma pastoral dan diakonianya terhadap pengungsi dan/atau subaltern, dari objek belas kasihan semata menjadi subjek teologis yang membawa pengalaman iman, harapan, dan praksis pembebasan.
Encountering God Through Communal Feasting: A Critical Examination of the Minahasan Christian Thanksgiving Tradition from the Perspective of the Theology of Eating Kalundang, Audriano; Salainti, Samuel
Proskuneo: Journal of Theology Vol 2, No 2 (2026): Proskuneo Journal of Theology
Publisher : STT Transformasi Indonesia Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/pjt.v2i2.320

Abstract

The tradition of Thanksgiving is a religious cultural heritage of the Minahasa Christian community that continues to thrive with communal meals as a central practice. Commensality not only plays an important role in building social relations and community cohesion, but also as a theological locus of encounter with God. This study discusses communal meals in Thanksgiving from the perspective of Norman Wirzba's theology of eating. Using a qualitative approach, this study employs literature review, analysis of relevant theological texts, and interviews with pastors and the Minahasa Christian community to gain an in-depth understanding of the practice of communal meals in Thanksgiving. The results of the study show that eating in Thanksgiving has three profound dimensions: First, communal eating functions as an act of faith that becomes a means of nurturing, fellowship, and hospitality. Second, communal eating shapes a new way of understanding food, fellow human beings, and God in the practice of Thanksgiving as a gift that must be appreciated. Third, communal eating becomes a space for social criticism and transformation to combat consumerism, social prestige, and food waste.