Articles
DI BALIK MIMPI SANG PERMAISURI UNSUR FEMINIS DALAM MATIUS 27:19
Arthur Gerung;
Ryanto Adilang
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 1 No. 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (254.757 KB)
|
DOI: 10.51667/djtk.v1i1.87
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali nilai feminis yang terkandung dalam narasi salah satu Injil dan kemudian menganalisis berdasarkan prinsip hermeneutik. Hal yang hendak dicapai adalah memahami apakah ada peran Yesus sehubungan dengan keadilan gender dalam catatan Injil Matius. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Dalam hal ini, peneliti memfokuskan penelitian pada pengkajian literatur dan tidak melaksanakan analisis lapangan. Metode kepustakaan ini sah berdasarkan buku panduan penulis karya ilmiah di IAKN Manado. Yesus Kristus adalah Allah yang dalam karya inkarnasi-Nya mengambil rupa sebagai manusia. Yesus Kristus hadir dan melayani dalam dunia sekaligus membawa perubahan besar. Ada banyak gebrakan yang Ia lakukan berdasarkan dengan tradisi-tradisi masyarakat ataupun tradisi agama yang keliru atau bahkan menyusahkan banyak pihak. Peneliti “curiga” bahwa hasrat dasar Yesus untuk menciptakan keseimbangan dan keadilan di semua lini, pada akhirnya juga akan membawa Dia pada aksi untuk menciptakan keadilan gender. Salah satu narasi dalam Injil Matius ini kemudian peneliti pilih sebagai bahan rujukan untuk menjawab “kecurigaan” tersebut.
BELENGGU TUJUH ROH JAHAT PESAN PASTORAL YESUS DALAM MATIUS 12:43-45
David Rade Manat Simanjuntak;
Ryanto Adilang;
Tesalonika Mandey
POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Vol. 2 No. 2 (2021): Desember
Publisher : LPPM IAKN MANADO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51667/pjpk.v2i2.765
Humans have a unique system called character. Character is a pattern that distinguishes attitudes and traits from one human to another. This character then becomes a non-standard measuring tool, to determine whether someone can be called good or bad. Besides face, character is the identity of a human being. However, it turns out that changes in a person's character can be influenced by many factors, both internal and external. One of the factors to be discussed is the intervention of evil spirits. Jesus explained in his sermon that evil spirits can make a person's condition worse. Even when the evil spirit is gone, he will come back inviting seven other, more evil spirits to come and destroy again. however, the second damage has a very high level of destructiveness. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. Because it involves Bible verses, specifically the New Testament, a hermeneutic method is needed. The hermeneutic method chosen is a combination of the methods of narrative criticism and historical criticism. This research will explore narrative elements and historical facts and then combine them in an analysis to obtain substantial meaning. The results of this study are expected to provide new contributions in the field of Theology, especially Pastoral and Biblical New Testament. It is hoped that there will be a substantial understanding of evil spirits and their effects on humans
Jesus in Disguise: Animated and Fantasy Films as Media for Christian Mission
Ryanto Adilang
Tepian : Jurnal Misiologi dan Komunikasi Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Tepian : Jurnal Misiologi dan Komunikasi Kristen
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (199.611 KB)
|
DOI: 10.51667/tjmkk.v2i1.850
Christian mission has undergone many shifts from the time of the apostles to the present day. However, the traditional understanding of Christian mission is still often found in many places. Christian missions that still have a Christianization flavor are of course no longer relevant in the midst of a pluralistic society. Forcing a traditional Christian mission in the context of changing times will certainly be read as a radical action. So a modern mission approach is needed. Christian mission approach that will not ignite the fire of conflict but also does not lose the identity of preaching the gospel. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. This research was written as an attempt to find a Christian Mission method that would not hit the fence of inter-religious tolerance. Therefore, in this research, theories related to Christian Mission and Evangelism and other relevant theories will be used. The results of this study are expected to maximize efforts to carry out Christian missions without having to interfere with the faithful activities of other religious people. The Christian mission will continue but will not lead to Christianization. There will be a clear distinction between Mission and imposing beliefs on others.
MEMANDANG DENGAN PERSPEKTIF BARU: KAJIAN MATIUS 22:32 DAN RELASINYA DALAM KEARIFAN LOKAL; PAWANG HUJAN
Ryanto Adilang;
Audriano Kalundang
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51667/pwjsa.v3i2.1221
Perkembangan dunia yang semakin pesat mengantarkan manusia pada suatu sisi kehidupan yang lebih modern dan yang tidak dianggap modern perlahan ditinggalkan dan tidak dipakai lagi. Kearifan lokal yang dilakukan turuntemurun juga dikikis dalam perkembangan teknologi yang pesat ini termasuk didalamnya kearifan lokal: pawang hujan. Masyarakat yang masih mempertahkan kearifan lokal pawang hujan ini dianggap sebagai ketinggalan perkembangan dunia dan terkadang dijadikan bahan olok-olokkan, buah bibir masyarakat yang dipandang negative. Maka di dalam penelitian ini akan dikaji mengenai padangan masyarakat terhadap kearifan lokal khusunya pawang hujan tersebut dalam sorotan teks Alkitab dari Injil Matius 22:32. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Karena merupakan penelitian di ranah Biblika, khususnya Biblika Perjanjian Baru, maka penelitian ini mengusung metode penafsiran campuran antara kritik historis dan kritik naratif dan akan diseberangkan dalam konteks masa kini. Hasil penelitian ini diharapkan agar mengubah cara pandang dan stigma negative para pembaca tentang mereka yang melakukan bentuk-bentuk kearifan lokal salah satunya pawang hujan.
REMAH UNTUK ANJING MEMAHAMI PERILAKU YESUS DAN RESPON PEREMPUAN DALAM MARKUS 7:24-30
Ryanto Adilang;
Audriano Kalundang
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 4 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51667/djtk.v4i1.1252
Mendengar istilah Kristen maka pastilah akan terbersit satu nama, yakni nama Yesus Kristus. Tokoh yang tersohor baik dalam lingkungan kekristenan dan non Kristen. Beliau juga mewarnai sejarah dunia dengan aksi-Nya di awal penanggalan Masehi. Tidak heran ketika dunia menjadikan kelahiran-Nya sebagai titik tolak kalender Masehi. Yesus yang terkenal dengan pelayanan-Nya yang sangat mengedepankan kasih, ternyata pernah berbuat hal yang jauh dari kata mengasihi kepada seorang perempuan Kanaan. Hal ini dicatat oleh Injil Markus. Masalah yang ditemukan adalah masalah dalam teks, yaitu bahwa Yesus yang dikenal lemah lembut dan pnuh kasih nyatanya pernah “tertangkap” bertindak cukup arogan dan jauh dari kesan mengasihi kepada seorang perempuan dalam narasi Injil. Maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami makna dibalik sikap Yesus yang tidak wajar tersebut dan respon perempuan Kanaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Karena melibatkan ayat Alkitab, tepatnya bagian Perjanjian Baru maka diperlukan metode hermeneutik. Metode hermeneutik yang dipilih merupakan kombinasi dari metode kritik naratif dan kritik historis. Data penelitian akan diperoleh melalui penelitian kepustakaan. Penelitian ini akan menggali unsur narasi dan fakta sejarah lalu digabungkan dalam suatu analisis untuk memperolah makna substansial. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberi persepsi baru mengenai perlakuan Yesus terhadap perempuan Kanaan dalam Markus 7:24-30. Apa maksud terselubung Yesus melalui tindakan yang terkesan arogan dan apa esensi iman di balik respon perempuan Kanaan.
Menuju Equilibrium: Pengintegrasian Makna Teologis pada Budaya Madundum Banua
Ryanto Adilang;
Junaydi Jufriadi Lempoy;
Tifany Fergie Tombokan;
Jekson Berdame;
David Rade Manat Simanjuntak
Jurnal Salvation Vol. 2 No. 2 (2022): Januari 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Abstrak: Madandum Banua is a culture carried out by the people of Dapihe Village, Talaud Islands Regency, which aims to expel riwu (seasonal diseases) or things that are considered odd by the local community through a ritual led by Ratumbanua or Inangguwanua on a large rock called Batu Tarenggo or Watum'barian. The existence of Christianity in Talaud Islands Regency as the majority religion is slowly starting to displace the existence of Madandum Banua. The labeling of syncretism towards the implementation of this culture certainly makes the congregation start to be reluctant and feel afraid in reflecting and implementing this culture. On the other hand, the government continues to encourage people who are also members of the congregation to preserve the culture of Madandum Banua by providing subsidies and establishing traditional groups. This situation shows that there is a struggle and clash of values between Christianity and the culture of Madandum Banua, which makes congregation members feel confused and in a dilemma. Through this paper, burapaya researchers seek common ground or balance (equilibrium) between the two values, namely by integrating theological meaning into the culture of Madandum Banua. The contextual theology approach of the translation model is used as an entry point in understanding the culture of Madandum Banua and interpreting theological values in that culture, so that the integration process can take place in a balanced way. In the end, it is hoped that writing will be an alternative for congregation members in responding to the circumstances experienced when practicing and preserving the madundum banua culture in accordance with government recommendations and avoiding the stigmatization of syncretism produced by the church. Abstrak: Madandum Banua merupakan budaya yang dilakukan masyarakat desa Dapihe Kabupaten Kepulauan Talaud yang bertujuan untuk mengusir riwu (penyakit musim) atau hal-hal yang dianggap janggal oleh masyarakat setempat melalui ritual yang dipimpin oleh Ratumbanua atau Inangguwanua di sebuah batu besar yang di sebut dengan batu Tarenggo atau Watum’barian. Keberadaan kekristenan di Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai agama mayoritas secara perlahan mulai menggusur eksistensi Madandum Banua. Pelebelan sinkretisme terhadap pelaksanaan budaya ini tentunya membuat jemaat mulai enggan dan merasa takut dalam merefleksikan dan melaksnakan budaya ini. Di sisi lain, pihak pemerintah terus mendorong masyarakat yang sekaligus anggota jemaat untuk melestarikan budaya Madandum Banua dengan memberikan subsidi dan pendirian kelompok adat. Keadaan ini menunjukan adanya pertarungan dan benturan nilai antara kekristanan dan budaya Madandum Banua sehingga membuat anggota jemaat merasa binggung serta dilematis. Melalui tulisan ini, peneliti burapaya mencari titik temu atau kesimbangan (equilibrium) antar kedua nilai tersbut yaitu dengan cara mengintegrasikan makna teologi pada budaya Madandum Banua. Pendekatan teologi kontekstual model terjemahan digunakan sebagai pintu masuk dalam memahami budaya Madandum Banua dan memaknai nilai teologis pada budaya tersebut, sehingga proses integrasi dapat berlangsung dengan seimbang. Pada akhirnya tulisan diharapkan mampu menjadi alternatif bagi anggota jemaat dalam merespon keadaan yang dialami ketika mempraktikan dan melestarikan budaya madundum banua sesuai dengan anjuran pemerintah dan terhindar dari stikmatisasi sinkretisme yang diproduksi oleh gereja.
Saksi Kerajaan Allah: Menguak Strategi Misi Nabi Yeremia Dan Relevansinya Bagi Pelayanan Misi Masa Kini
Adilang, Ryanto;
Pananggung, Rifke Alfione
Tepian : Jurnal Misiologi dan Komunikasi Kristen Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Tepian (Desember)
Publisher : Program Studi Misiologi dan Komunikasi Kristen
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51667/tjmkk.v4i2.2140
This article examines the mission strategy of the Prophet Jeremiah in the context of the significant challenges faced by the nation of Israel. Known as the "witness to the kingdom of God," Jeremiah was called by God to deliver messages that contained both judgment and hope amidst a national crisis. Utilizing the term "strategy," derived from the Greek word "strategos," this article explains how Jeremiah, as a spiritual leader, devised his plan to achieve divine objectives despite facing rejection and threats to his life. Through a qualitative approach, this analysis highlights Jeremiah's courage in taking risks, boldly addressing the moral decay of society, and his resilience in carrying out his mission, even when deemed politically unsuccessful. With extraordinary obedience, Jeremiah demonstrates that while outcomes may not always meet expectations, faith and perseverance in fulfilling God's call hold profound significance. Jeremiah's mission strategy offers valuable lessons about faithfulness and hope for future generations in facing life's challenges.
Theologia Sistematika sebagai Bahan Khotbah bagi Pembinaan Warga Gereja
Nuban, Eliazer;
Banfatin, Nahor;
Adilang, Ryanto
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.69932/kardia.v3i1.50
Abstract: Sermons need to be equipped with a strong foundation of the Word through systematic doctrine so that the preaching of God's Word can be conveyed and transform the faith of every believer. Therefore, the purpose of this article is to examine Systematic Theology is a discipline whose truth is systemized, structured, which comes from the teaching of the Bible which is the Word of God. Thus, if someone learns from the Bible regularly, it will have implications for the discovery of the truth about Christian doctrine which has an impact on the church to do systematic theology which can be integrated with preaching services, (Homiletics) for the development of church citizens. The approach used is descriptive qualitative with a literature study method where researchers review books and articles related to systematic theology and homiletics. The results of this study are expected to overcome the gap by making Systematic Theology through thematic aspects as preaching material so that the development of church members will run well because Systematic Theology comes from the Bible which is the Word of God. The implications of this research encourage preachers to preach systematically which has an impact on the congregation's transformative understanding of the Christian Faith. Abstract: Khotbah perlu diperlengkapi dengan dasar Firman yang kuat melalui doktrin yang sistematis agar pemberitaan Firman Tuhan dapat tersampaikan serta mentransformasi iman setiap orang percaya. Oleh karena itu, tujuan artikel ini adalah mengkaji Theologi Sistematika merupakan disiplin ilmu yang kebenarannya tersistem, terstruktur, yang bersumber dari pada pengajaran Alkitab yang adalah Firman Allah. Dengan demikian jika seseorang belajar dari Alkitab secara teratur akan berimplikasi pada penemuan kebenaran terhadap doktrin Kristen yang berdampak kepada gereja untuk bertheologi secara sistematika yang dapat diintegrasikan dengan pelayanan berkhotbah bagi pembinaan warga gereja. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur dimana peneliti mengkaji dari buku dan artikel terkait dengan teologi sistematika dan homiletika. Hasil penelitian ini diharapkan untuk mengatasi kesenjangan dengan menjadikan Theologia Sistematika melalui aspek tematis sebagai bahan khotbah, agar pembinaan warga gereja akan berjalan dengan baik karena Theologia Sistematika bersumber dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Implikasi dari penelitian ini mendorong pengkhotbah untuk berkhotbah secara sistematis yang berdampak pada pemahaman transformatif jemaat terhadap Iman Kristen.
Reimagining Divine Presence: Interpretation Of Matthew 28:20b And The Song “O Mawu Rendingane” As The Voice Of Sangihe Community
Adilang, Ryanto;
Kalintabu, Heliyanti;
Udang, Frety Cassia;
Tombokan, Tifany Fergie
ORTHOTOMEO : Jurnal Penelitian Ilmiah Vol. 2 No. 2 (2025): ORTHOTOMEO: Jurnal Penelitian Ilmiah
Publisher : Gereja Alkitab Anugerah Kadoudan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.71304/ag5gep18
Living life on earth as a human being is certainly not free from various challenges and problems. In our fragility, humans will always depend on God to prevent collapse when faced with life's challenges. For this reason, God's presence is crucial in human life and faith. Matthew 28:20B presents Jesus' narrative about His promise of presence to his disciples. Therefore, this study aims to highlight this promise of presence in a dialogue with the voices of the local community through the song "O Mawu Rendingane." This research was conducted using a qualitative method with a hermeneutic approach. Historical hermeneutics was chosen to analyze the biblical text, namely Matthew 28:20B. In the dialogue with the song "O Mawu Rendingane," Choan-Seng Song's Story Theology was chosen as the most appropriate theory. This research is expected to uncover new ways to read and understand Jesus' promise of presence contained in Matthew 28:20B. Furthermore, it is hoped that this dialogue will broaden the meaning of Matthew 28:20B.
Perilaku Hidup Sehat: Memahami Pesan Pastoral Paulus Kepada Timotius Menurut 1 Timotius 5:23
Adilang, Ryanto;
Kalundang, Audriano
Journal of Psychology Humanlight Vol. 4 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Psikologi Kristen IAKN MANADO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51667/jph.v4i1.1314
Kesehatan adalah kebutuhan. Ini tak dapat disangkal karena pada umumnya orang-orang pasti ingin sehat dalam hidup yang dijalani sehingga dengan berbagai cara membiasakan diri dalam gaya hidup sehat. Kesakitan dan penyakit pasti menjadi momok yang ditakuti untuk dialami karena banyaknya resiko dan penderitaan yang akan teralami jikalau ada dalam kondisi yang tidak sehat. Realita ini membawa peneliti untuk mengkaji mengenai gaya hidup sehat dalam kaitannya dengan minuman beralkohol dengan menyoroti teks alkitab dari 1 Timotius 5:23 dalam pastoral Paulus kepada Timotius menurut bingkai teologi kesehatan. Penelitian ini dibangun dengan metode kualitatif pendekatan deskriptif. Metode tafsir historis dan naratif digunakan oleh peneliti dalam membantu membedah teks yang diangkat dalam penelitian ini kemudian dikontraskan dengan konteks dan perkembangan masa kini. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa mengonsumsi minuman beralkohol bukan hanya berbicara pada batas takaran saja tetapi dengan tujuan untuk kesehatan. Orang kristen harus bekhikmat dalam menganggapi perilaku meminum minuman beralkohol yang hanya diperlukan untuk kesehatan tubuh.