Kirwan
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Reconception of Environmental Ethics in Islam: A Review of the Philosophy and Applications of Husein Nasr's Thought Syihabuddin, Muhammad; Kirwan
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23. No. 2 (2023): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v23i2.5228

Abstract

Wacana mengenai krisis dan etika lingkungan sangat penting untuk dikaji lebih mendalam. Hal ini karena kajian tersebut tidak pernah berhenti hanya sekedar konsep belaka dan selalu diperdebatkan. Tujuan tulisan ini ingin memahami gagasan Husein Nasr mengenai konsep etika lingkungan dalam bingkai ajaran tasawuf Islam (ekosufisme), aplikasi penerapan pemikiran Nasr, hingga gagasan filsafat etika lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan literatur berbasis deskriptif kualitatif berlandaskan teori atas pemikiran Husein Nasr mengenai Manusia, Tuhan, dan Alam. Adapun pengumpulan data dengan cara mengumpulkan beberapa teks-teks yang sesuai dengan topik yang dibahas berupa artikel dan buku dan dianalisis dengan teknik analisis keyword, abstrak, dan hasil atau kesimpulan pada sumber yang serupa. Hasil yang ditemukan 3 hal: Pertama, Husein Nasr menawarkan ajaran hubungan antara manusia dengan alam hablun min alam berupa ekosufime sebagai penghantar hubungan harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam. Kedua, secara aplikatif, berupa integrasi antara rekonsepsi dan kesadaran manusia sebagai khalifah fil ardhi untuk menjaga bumi. Terakhir yaitu merekonsepsikan filsafat etika lingkungan yang bersifat inklusif dan berkelanjutan dengan melibatkan para stakeholder berpartisipasi untuk kedaulatan alam. Kata Kunci: Husein Nasr, Ekologi, Ekosufisme, Inklusif
Spiritualitas dan Kemanusiaan: Membaca Kisah Nabi Ibrahim dalam QS. As-Saffat Ayat 100–107 melalui Hermeneutika Wilhelm Dilthey Muhammad Aska Irfani; Afdalul Ummah; Kirwan; Dendi Nugraha
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/mjsi.v10i2.4664

Abstract

Kisah nabi Ibrahim yang menerima perintah untuk menyerahkannya dalam QS. As-Saffat ayat 100–107 merupakan narasi keagamaan yang menyimpan kedalaman makna spiritual, historis, dan psikologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika Wilhelm Dilthey untuk memahami dinamika batin dan simbolik dalam kisah tersebut melalui tiga konsep utama: Erlebnis (pengalaman), Ausdruck (ekspresi), dan Verstehen (pemahaman). Dengan pendekatan ini, kisah tidak hanya dimaknai sebagai ketaatan terhadap perintah Ilahi, namun juga sebagai pengalaman eksistensial yang sarat emosi dan refleksi. Erlebnis merepresentasikan pergolakan batin nabi Ibrahim dan anak-anaknya dalam menghadapi perintah yang menguji keimanan dan kemanusiaan. Ausdruck tampak dalam dialog dan tindakan simbolik yang mencerminkan ekspresi spiritual serta menjadi titik balik nilai-nilai keagamaan yang lebih manusiawi. sementara Verstehen digunakan untuk menggali makna secara intersubjektif melalui empati dan refleksi mendalam terhadap tokoh. Dengan demikian, pendekatan ini memungkinkan kisah tersebut dibaca bukan hanya sebagai peristiwa keimanan, namun juga sebagai refleksi etika, budaya, dan kemanusiaan. Kisah Nabi Ibrahim yang menerima perintah untuk mengorbankan putranya dalam Surat As-Saffat, ayat 100-107, merupakan narasi keagamaan yang kaya akan kedalaman spiritual, historis, dan psikologis. Kajian ini menggunakan pendekatan hermeneutik Wilhelm Dilthey untuk mengeksplorasi dinamika batin dan simbolik kisah tersebut melalui tiga konsep utama: Erlebnis (pengalaman hidup), Ausdruck (ekspresi), dan Verstehen (pemahaman). Melalui pendekatan ini, kisah tersebut dimaknai bukan sekadar sebagai tindakan ketaatan kepada perintah Tuhan, melainkan juga sebagai pengalaman eksistensial yang sarat dengan emosi dan refleksi. Erlebnis merepresentasikan gejolak batin Nabi Ibrahim dan putranya saat mereka menghadapi perintah yang menguji iman dan kemanusiaan. Ausdruck tampak jelas dalam dialog dan tindakan simbolik yang mengekspresikan sentimen spiritual dan menandai titik balik menuju nilai-nilai keagamaan yang lebih berpusat pada manusia. Sementara itu, Verstehen digunakan untuk mengungkap makna secara intersubjektif melalui empati dan refleksi mendalam terhadap tokoh-tokoh yang terlibat. Dengan demikian, pendekatan ini memungkinkan narasi dibaca tidak hanya sebagai peristiwa keimanan, tetapi juga sebagai refleksi tentang etika, budaya, dan kemanusiaan.
Nilai-Nilai Lokal dalam Al-Qur'an dan Terjemahan Manuskripnya dalam Bahasa Madura Jati, Wasisto Raharjo; Kirwan; Misbahul Wani
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 23 No 2 (2025): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 23 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/jlka.v23i2.1350

Abstract

This study examines the emergence and development of Qur’an translation into Madurese, focusing on the work of lecturers at IAIN Madura under the directive of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia. Employing Nashruddin Baidan’s translation theory, particularly his framework of interpretive periodization in Arabic, this research adapts this approach to the context of Qur’anic translation into a regional language. Using qualitative descriptive analysis, the study traces the historical trajectory of Madurese Qur’an translation, beginning with the initiatives of Jema’ah Pengajian Surabaya (JPS), followed by the Institute for Translation and Study of the Qur’an (LP2Q), and culminating in the contributions of IAIN Madura. Findings suggest that the IAIN Madura project represents a developmental phase in the ongoing process of Qur’an translation into Madurese. The translation adopts a tafsīriyyah model characterized by dynamic adaptation of target-language grammar. A distinctive feature is the integration of the Madurese language hierarchy (bhâsa èngghi bhunten, bhâsa tèngghi/alos, bhâsa èngghi enten, and bhâsa ènjhâ’ iyâ), reflecting local cultural values. The Pamekasan–Sumenep dialect serves as the linguistic basis. The translation is guided by three principles: grounding Qur’anic values, advancing religious modera­tion and preserving regional linguistic heritage. Key references include Tafsīr Jalālain, Tafsīr Ibn Kathīr, and official translations published by the Ministry of Religious Affairs.