Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tari Pujoretno Sebagai Simbolisme Pemujaan: Analisis Nilai Religius Dalam Tradisi Budaya Jawa Wigaringtyas, Silih; Nugraheni, Wiga; Rizky Nareswari, Uli; Luh Enita Maharani, Ni
SENDRATASIK UNP Vol 13, No 4 (2024): (in progress)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/js.v13i4.131954

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Tari Pujoretno sebagai simbolisme pemujaan yang mencerminkan nilai religius dan tradisi budaya Jawa. Tari Pujoretno, sebagai salah satu tari klasik putri gaya Yogyakarta, memiliki kedalaman makna yang terkait dengan pemujaan kepada Tuhan, sebagai ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta penghormatan kepada Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan analisis semiotika untuk menggali makna simbolik dalam tari dan bagaimana masyarakat Jawa menghayati serta mempraktikkannya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan ketua Paguyuban Seni Suryo Kencono, serta kajian dokumentasi dan pustaka terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pujoretno tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi memiliki simbolisme pemujaan yang mewakili hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dan alam, serta menyatukan elemen tradisi budaya jawa. Bentuk penyajian dalam Tari Pujoretno, yang meliputi gerak tari, iringan, riasan, busana, tema, dan properti, berperan penting dalam merepresentasikan nilai religius dan keseimbangan spiritual dalam tradisi budaya Jawa. This research aims to analyze the Pujoretno Dance as a symbolism of worship that reflects religious values and Javanese cultural traditions. Pujoretno dance, as one of the woman classical Yogyakarta dances, has a deep meaning related to the worship of God, as an expression of gratitude, a request for salvation, and respect for God. This research uses a qualitative-interpretive approach with semiotic analysis to explore the symbolic meaning of dance and how Javanese people appreciate and practice it. Data was collected through observation, interview with the chairman of the Suryo Kencono Arts Association, as well as reviewing documentation and related literature. The results of the research show that the Pujoretno Dance not only functioning as entertainment, but has a cult symbolism that represents man's relationship with God, humans and nature, and unites elements of Javanese cultural tradition. The form of presentation in Pujoretno Dance, which includes dance movements, accompaniment, make-up, clothing, themes and props, plays an important role in representing religious values and spiritual balance in Javanese cultural traditions.
UPAYA PERINTISAN DESA JOGOTIRTO KABUPATEN SLEMAN SEBAGAI DAERAH RAMAH ANAK MELALUI PELATIHAN TARI “NGELMU” Nugroho, Supriyadi Hasto; Wigaringtyas, Silih; Nareswari, Uli Rizky
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.67142

Abstract

The 2025 Community Service (PkM) activity entitled "Ngilmu Dance Training as a Pioneering Effort for Jogotirto Village, Berbah District, Sleman Regency as a Child-Friendly Area" aims to provide arts training, especially dance, to the children of Jogotirto Village. The Ngilmu dance training, which carries an implied meaning of education, is expected to have a positive impact on the development and behavior of children, such as fostering a sense of togetherness, encouraging the courage to express opinions, promoting respect for others’ opinions, and building responsibility for their actions. The method used in this PkM is drill and practice, which involves continuous dance training through imitation and repetition, both individually and in groups. Data on the development and positive changes in the participants were obtained through observations during the training and interviews with the participants' parents. The results of the implementation of the DLK PkM show that the PkM team successfully conducted the activities by providing Ngilmu dance material over seven meetings. The implementation of the training was divided into several parts, namely delivering movement material, dividing participants into groups, introducing dance properties, and recording videos in an open-air setting. The results of the analysis collected by the PkM team show that the participants greatly enjoyed the training and were able to master the material provided, both in terms of movement techniques and rhythm. Initially, the participants appeared afraid, shy, reluctant, and tended to be passive. As the training progressed, they began to show confidence in speaking, asking questions, expressing opinions, collaborating with peers, and demonstrating a high level of responsibility.Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PkM) tahun 2025 yang berjudul “Pelatihan tari Ngilmu Sebagai Upaya Rintisan Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman Sebagai Daerah Ramah Anak” bertujuan untuk memberikan pelatihan seni khususnya tari kepada anak-anak desa Jogotirto. Pelatihan tari Ngilmu yang tersirat makna tentang pendidikan, diharapkan memberikan dampak positif terhadap perkembangan dan perubahan perilaku anak seperti rasa kebersamaan, keberanian mengutarakan pendapat, menghargai pendapat orang lain, dan bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan. Metode yang digunakan dalam PPM ini adalah drill and praktice, yakni pelatihan tari secara dengan cara praktik terus meneruskan dengan menirukan dan mempraktikkannya baik secara individu maupun berkelompok. Data yang diperoleh terhadap perkembangan dan perubahan positif dari para peserta pelatihan, didapat dari hasil pengamatan selama pelatihan dan wawancara kepada orang tua peserta. Hasil pelaksanaan PkM DLK menunjukkan bahwa, Tim PkM telah melaksanakan kegiatan PkM dengan memberikan materi tari Ngilmu sebanyak tujuh kali pertemuan. Pelaksanaan pelatihan tersebut dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu pemberian materi gerak, pembagian kelompok, penggunaan properti tari, dan pengambilan video di alam terbuka. Hasil analisis yang berhasil dihimpun oleh Tim PkM menunjukkan bahwa, peserta pelatihan begitu menikmati pelatihan ini swerta menguasai materi yang diberikan baik itu teknik gerak maupun irama geraknya. Pada awalnya peserta terlihat  takut, malu, sungkan dan cenderung pasif. Pada perkembangannya para peserta sudah mulai berani berbicara, bertanya, mengutarakan pendapat, bekerjasama dengan teman, serta mempunyai tanggungjawab yang tinggi.