Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Politik Identitas di Panggung Demokrasi: Melihat Simbol Agama Melalui Lensa Habitus dan Dramaturgi Abadi, Muhammad Zidan
Politik Islam Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/pi.v3i2.13898

Abstract

Artikel ini membahas permasalahan politik identitas berbasis agama di Indonesia, yang menjadi isu penting dalam konteks dinamika demokrasi modern. Fokus utama penelitian adalah bagaimana simbol-simbol agama digunakan dalam kampanye politik untuk menarik dukungan publik, serta dampaknya terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis literatur, mengadopsi teori habitus dari Pierre Bourdieu dan dramaturgi Erving Goffman untuk memahami interaksi antara simbol agama dan praktik politik. Hasil temuan menunjukkan bahwa meskipun politik identitas berbasis agama dapat meningkatkan partisipasi politik dan solidaritas kelompok, dampak negatifnya juga signifikan. Penggunaan simbol agama sering kali menciptakan polarisasi sosial dan diskriminasi, yang dapat merusak kohesi masyarakat. Sebagai contoh, dalam berbagai pemilu, simbol-simbol agama dimanfaatkan untuk membentuk citra politik yang mengarah pada pembagian masyarakat menjadi "kami" dan "mereka." Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan beberapa langkah strategis. Pertama, pentingnya pendidikan multikultural untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keberagaman. Kedua, perlu adanya regulasi yang ketat terhadap pemanfaatan simbol agama dalam politik untuk mencegah eksploitasi yang berlebihan. Ketiga, penguatan dialog antar-komunitas sangat diperlukan untuk membangun saling pengertian dan toleransi. Melalui pendekatan ini, diharapkan politik berbasis identitas dapat sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang inklusif dan berkeadilan, serta menjaga harmoni sosial dan integrasi nasional di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Integrasi Psikologi dan Tasawuf dalam Menangani Dampak Toxic Masculinity pada Kesehatan Mental Pria Abadi, Muhammad Zidan
Psikodidaktika Vol 9 No 2 (2024): Jurnal Psikodidaktika
Publisher : Guidance and counseling the university of Prof. Dr. Hazairin. SH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/psikodidaktika.v9i2.4889

Abstract

Toxic masculinity refers to social norms that encourage men to fulfil rigid standards of masculinity, such as obstinacy, emotional avoidance, and dominance, which often have a negative impact on mental health, including anxiety, depression, and difficulty building healthy social relationships. This study aims to explore the integration between psychology and Sufism as a more holistic approach in addressing the impact of toxic masculinity. The method used was qualitative analysis with a literature review, which included an understanding of toxic masculinity, psychological techniques such as Cognitive Behavioural Therapy (CBT) and Emotion Regulation Theory (ERT), and Sufism principles such as muhasabah, dhikr, and tazkiyah al-nafs. The results showed that while modern psychological approaches are effective in managing emotions and maladaptive thought patterns, integration with Sufism provides a deeper spiritual dimension in mental health recovery. With this integrative approach, men affected by toxic masculinity can manage their emotions and behaviours more effectively and achieve a balance between psychological and spiritual aspects. This study concludes that the integration of psychology and Sufism can be a more comprehensive and sustainable solution in addressing the problem of toxic masculinity in men.
Rekonstruksi Akhlak Islam dalam Seni Pertunjukan: Penerapan Pemikiran Al-Zarnuji di Teater Jangkarbumi Abadi, Muhammad Zidan; Taufikin, Taufikin
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 21, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/tarbawi.v21i2.7435

Abstract

Moral education has an important role in shaping good Muslim character, but traditional methods are often less effective in attracting the attention of the younger generation. This research examines the application of Al-Zarnuji's thoughts in the performing arts with a focus on Jangkarbumi Theatre as a case study. Using a descriptive qualitative approach, data was obtained through observation, interviews, and analysis of performance scripts such as Titik or Koma and Demama'an. The results showed that Teater Jangkarbumi's performances successfully integrated Islamic moral values, such as sincerity, patience, and social solidarity, through strong narratives, symbolic gestures, and relevant characters. This performance not only entertains, but also educates the audience, especially the younger generation, by inserting moral messages that are relevant to everyday life. This research confirms the importance of performing arts as an innovative and effective medium of moral education, while offering a dynamic way to integrate Islamic values in modern art. This study enriches the discussion on the adaptation of Islamic teachings in contemporary educational practices, particularly in arts-based character building.
Politik Identitas di Panggung Demokrasi: Melihat Simbol Agama Melalui Lensa Habitus dan Dramaturgi Abadi, Muhammad Zidan
Politik Islam Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/pi.v3i2.13898

Abstract

Artikel ini membahas permasalahan politik identitas berbasis agama di Indonesia, yang menjadi isu penting dalam konteks dinamika demokrasi modern. Fokus utama penelitian adalah bagaimana simbol-simbol agama digunakan dalam kampanye politik untuk menarik dukungan publik, serta dampaknya terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis literatur, mengadopsi teori habitus dari Pierre Bourdieu dan dramaturgi Erving Goffman untuk memahami interaksi antara simbol agama dan praktik politik. Hasil temuan menunjukkan bahwa meskipun politik identitas berbasis agama dapat meningkatkan partisipasi politik dan solidaritas kelompok, dampak negatifnya juga signifikan. Penggunaan simbol agama sering kali menciptakan polarisasi sosial dan diskriminasi, yang dapat merusak kohesi masyarakat. Sebagai contoh, dalam berbagai pemilu, simbol-simbol agama dimanfaatkan untuk membentuk citra politik yang mengarah pada pembagian masyarakat menjadi "kami" dan "mereka." Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan beberapa langkah strategis. Pertama, pentingnya pendidikan multikultural untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keberagaman. Kedua, perlu adanya regulasi yang ketat terhadap pemanfaatan simbol agama dalam politik untuk mencegah eksploitasi yang berlebihan. Ketiga, penguatan dialog antar-komunitas sangat diperlukan untuk membangun saling pengertian dan toleransi. Melalui pendekatan ini, diharapkan politik berbasis identitas dapat sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang inklusif dan berkeadilan, serta menjaga harmoni sosial dan integrasi nasional di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Quarter-Life Crisis (QLC) dalam Budaya Indonesia: Analisis Konstruksi Sosial Peter Berger Abadi, Muhammad Zidan
Journal of Education and Social Culture Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Education and Social Culture
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58363/jesc.v2i1.26

Abstract

Quarter-Life Crisis (QLC) is a psychosocial phenomenon that is increasingly prominent among young Indonesians, especially in a cultural context laden with social expectations. This study aims to analyse QLC through the perspective of Peter L. Berger's social construction theory, highlighting how social norms, family pressure, and media representations shape individuals' subjective experiences. The research method used is qualitative analysis based on literature review, with an emphasis on the processes of habitualisation, objectification, and internalisation in constructing social reality related to QLC. The results of the analysis show that QLC arises as a consequence of the tension between institutionalised social expectations and the diverse actual conditions of individuals. Norms internalised within individuals often cause psychological pressure in the form of anxiety and identity crises. This study concludes that QLC in Indonesia is a socially constructed reality, thus requiring a more inclusive and adaptive socio-cultural approach to help the younger generation deal with this phase in a healthier and more reflective manner.