Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENERAPAN SANITASI MASYARAKAT KEPULAUAN DENGAN PEMBUATAN JAMBAN SEHAT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN Abdullah, Yazmin Armin; Pratama, Eka Firmansyah
Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat Vol 5, No 2 (2024): November: Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jpkm.v5i2.27405

Abstract

Kegiatan pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir pada umumnya merupakan kegiatan masyarakat nelayan yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh hubungan yang erat dengan karakteristik ekonomi pesisir, kondisi sosial, dan keterbukaan sarana dan prasarana pendukung. Isu yang sering muncul di wilayah pesisir adalah rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat dan rendahnya kualitas lingkungan. Alasan dilaksanakannya aksi bakti sosial ini adalah untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat di Kota Ponelo tentang pentingnya mewujudkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan memanfaatkan jamban sehat dan memberikan bantuan pembuatan jamban sehat. Adapun strategi dalam melaksanakan kegiatan ini meliputi perencanaan, penggunaan, pengawasan dan penilaian. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap upaya sanitasi dan kebersihan lingkungan melalui penyuluhan dan pembiasaan penggunaan jamban sehat, dan selama kegiatan penyuluhan antusiasme masyarakat sangat tinggi terhadap pemanfaatan jamban sehat. Kesimpulannya, dalam mengupayakan perilaku tersebut, diperlukan komitmen bersama untuk saling mendukung dalam memajukan kesejahteraan masyarakat, khususnya keluarga, sehingga peningkatan kesejahteraan dapat tercapai dalam dunia yang sempurna.Kata kunci: Sanitasi; Jamban sehat; Lingkungan.
Efektivitas Cuka Apel sebagai Insektisida dalam Pengendalian Lalat Rumah (Musca domestica) Sudirman, Fitriani; Adam, Maghfira; Suma, Juwita; Abdullah, Yazmin Armin
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 5, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v5i1.1427

Abstract

Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk menjadi tempat berkembang biaknya berbagai jenis penyakit. Lalat termasuk salah satu vektor dalam penularan penyakit terutama dalam meningkatkan penularan penyakit diare dan penyakit lingkungan lainnya melalui makanan dan minuman serta rendahnya kesadaran dalam menjaga kebersihan. Jumlah kasus diare yang terjadi di Provinsi Gorontalo tahun 2023 mencapai 8.551 kasus. Salah satu cara pengendalian vektor termasuk lalat rumah yaitu dengan menggunakan bioinsektisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas cuka apel sebagai insektisida dalam pengendalian lalat rumah. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang menggunakan metode true experiment. Sampel pada penelitian ini yaitu cuka apel pada variasi konsentrasi 15%, 25%, dan 35% dilakukan 3 kali pengulangan yang diamati selama 10 jam. Jumlah lalat yaitu 180 ekor lalat rumah yang berisi 15 ekor lalat setiap konsentrasi. Kematian lalat rumah ditemukan paling banyak pada konsentrasi 35% dan waktu kontak selama 8 jam. Hasil uji Kruskal-Wallis terhadap total mortalitas lalat rumah di berbagai konsentrasi larutan cuka apel, diperoleh nilai p = 0,040 < 0,05 yang bermakna adanya perbedaan yang signifikan secara statistik dalam jumlah kematian lalat rumah di tiap-tiap kategori konsentrasi larutan cuka apel. Semakin tinggi konsentrasi cuka apel yang digunakan, semakin besar pula efektivitasnya dalam membunuh lalat rumah. Oleh karena itu, cuka apel dapat menjadi salah satu alternatif pengganti racun serangga (insektisida) yang lebih ramah lingkungan.Poor environmental sanitation conditions provide a breeding ground for various types of diseases. Flies are one of the vectors that transmit diseases, especially by increasing the spread of diarrheal diseases and other environmentally related illnesses through food and beverages, as well as due to low awareness of hygiene. In 2023, the number of diarrhea cases in Gorontalo Province reached 8,551. One of the efforts to control vectors is by using natural insecticides. This study aims to determine the effectiveness of apple cider vinegar as an insecticide against houseflies. This type of research is an experimental study using a true experimental method. The research samples used were apple cider vinegar at varying concentrations of 15%, 25%, and 35%, with three repetitions for each, observed over a period of 10 hours. A total of 180 houseflies were used, with 15 flies in each concentration group. The highest average housefly mortality was observed at the 35% concentration with a contact time of 8 hours. The Kruskal-Wallis test on the number of housefly deaths at various concentrations of apple cider vinegar yielded a p-value of 0.040 < 0.05, indicating a statistically significant difference in the number of housefly deaths among the different concentration groups. The higher the concentration of apple cider vinegar used, the greater its effectiveness in killing houseflies. Therefore, apple cider vinegar can be considered an environmentally friendly alternative to chemical insecticides.
Evaluasi Kualitas Udara dalam Ruang: Studi Deskriptif Paparan PM2,5 pada Toko Bangunan Utama, Deddy Alif; Diandra, Syakila Gita; Abdullah, Yazmin Armin
Buletin Keslingmas Vol. 44 No. 4 (2025): BULETIN KESLINGMAS: VOL. 44 NO. 4 TAHUN 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v44i4.13829

Abstract

Activities in building material stores potentially pollute indoor air through construction dust, particularly PM2.5, which poses significant health risks. This study aimed to evaluate indoor air quality regarding PM2.5 concentrations and identify respiratory complaints among workers at Building Material Store X, Gorontalo City. This descriptive observational study involved 15 active workers (total sampling) and measured PM2.5 concentrations at three strategic working points using a Portable Dust Monitor for one hour at five-minute intervals. The results indicated that all sampling points exceeded the threshold value of the Indonesian Ministry of Health Regulation Number 2 of 2023 (25 μg/m3), falling into the category of Not Meeting Requirements. The highest extreme concentration was found in the Cement Warehouse at 1,244.95 μg/m3 (nearly 50 times the threshold value), while the lowest concentration in the showcase area was recorded at 52.77 μg/m3. The health profile of workers revealed a dominance of upper respiratory tract irritation symptoms, with 60% of workers experiencing sneezing, 13.3% coughing, and 6.7% reporting chest tightness. The high particulate exposure, resulting from poor ventilation and lack of personal protective equipment compliance, classifies this work environment as hazardous, necessitating technical ventilation interventions and strict enforcement of occupational health and safety regulations.