Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana jejaring sosial dimanfaatkan sebagai ruang kolaboratif di lingkungan sekolah, dengan menyoroti dinamika sosial dan budaya yang muncul dalam proses pembelajaran digital. Fenomena ini menjadi relevan seiring meningkatnya penggunaan platform jejaring sosial seperti WhatsApp dan Instagram sebagai sarana interaksi dan kolaborasi antara guru dan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan dilaksanakan di sepuluh Sekolah Dasar dan enam Madrasah Ibtidaiyah di Purbalingga. Partisipan penelitian berjumlah empat puluh delapan informan, terdiri atas enam belas guru dan tiga puluh dua siswa kelas lima dan enam, yang dipilih karena secara aktif menggunakan jejaring sosial dalam kegiatan pembelajaran dan kolaborasi. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi digital, kemudian dianalisis dengan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, jejaring sosial berfungsi sebagai ruang kolaboratif yang efektif, memungkinkan interaksi dan pembelajaran lintas waktu dan tempat. Kedua, terdapat tantangan dalam pengelolaan waktu, perlindungan privasi, dan pemanfaatan jejaring sosial yang belum sepenuhnya produktif. Ketiga, jejaring sosial berperan dalam penguatan profesionalisme guru melalui komunitas daring yang mendukung berbagi pengetahuan dan refleksi pedagogis. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang pembelajaran kolaboratif berbasis teknologi dan mendukung teori konstruktivisme sosial yang menekankan interaksi sebagai dasar pembentukan pengetahuan. Penelitian ini berimplikasi pada pentingnya literasi digital, kebijakan sekolah yang jelas, serta pelatihan bagi guru dan siswa untuk memaksimalkan potensi jejaring sosial dalam pembelajaran kolaboratif yang aman dan bermakna.