Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Bentuk Trikoma (Urticaceae) dan Pemanfaatan dalam Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Tablasupa Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Demena, Widelmina Keterina; Raunsay, Edoward Krisson; Aisoi, Leonardo E.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8099

Abstract

Masyarakat Kampung Tablasupa Distrik Depapre menggunakan tumbuhan daun gatal, daun jilat, dan jelatang dalam pengobatan secara tradisional untuk mengatasi keluhan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk trikoma Daun Gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd.), Daun Jilat (Villebrunia rubescens Bl.), Daun Jelatang (Urtica dioica L.) dan penggunaan daun dalam pengobatan tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, eksperimen, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa bentuk trikoma Daun Gatal dan Daun Jilat berbentuk uniseluler sedangkan bentuk trikoma pada Daun Jelatang berbentuk bintang. Daun gatal dapat digunakan untuk menghilangkan rasa pegal-pegal pada badan, Daun Jilat dapat digunakan untuk mengeluarkan darah mati atau darah kotor akibat memar, Daun Jelatang dapat digunakan untuk mengobati asam urat.
PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS SAGU DAN JERAMI SEBAGAI MEDIA TERHADAP PRODUKSI JAMUR MERANG (Volvariela volvacea) Pambudi, Norman; Raunsay, Edoward K.; Aisoi, Leonardo E.
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 14 No. 2 (2023): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan pengolahan sagu mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sehingga menimbulkan dampak positif dan dampak negatif bagi masyarakat. Dampak positif yaitu meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat, sedangkan dampak negatif yaitu menimbulkan limbah. Sama hal nya dengan ampas sagu, limbah pertanian lain seperti jerami yang ada di wilayah Papua juga hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. di daerah Jawa dan sekitarnya, mereka memanfaatkan limbah jerami untuk dijadikan sebagai media jamur merang. Penelitian ini bertujuan untuk 1). mengetahui pengaruh penggunaan ampas sagu dan jerami sebagai media terhadap produksi jamur merang 2). mengetahui media apa yang terbaik untuk pertumbuhan dan produksi jamur merang. Rancangan penelitian mengguanakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil perlakuan untuk munculnya primordia terlama adalah perlakuan S3J1 dengan rata-rata yaitu 36 hari setelah inokulasi, sedangkan untuk masa tumbuh tercepat adalah perlakuan S1J3 dengan rata-rata yaitu 17 hari setelah inokulasi. Hasil perlakuan untuk masa panen tercepat adalah perlakuan S1J3 dengan rata-rata yaitu 22 hari setelah inokulasi, sedangkan untuk masa panen terlama adalah S3J1 dengan rata-rata yaitu 39 hari setelah inokulasi. hasil perlakuan terbaik berat tubuh buah jamur merang adalah perlakuan S1J3 yaitu 178.67 gram, sedangkan berat tubuh buah jamur merang paling rendah adalah perlakuan S4J0 yaitu 16.00 gram. hasil perlakuan terbaik Jumlah tubuh buah jamur merang adalah perlakuan S1J3 yaitu 22 buah, sedangkan jumlah tubuh buah jamur merang paling rendah adalah perlakuan S4J0 yaitu 2 buah. Hasil terlama lama masa panen adalah perlakuan S3J1 yaitu 46 hari, sedangkan lama masa panen paling tercepat adalah perlakuan S4J0 yaitu 24 hari. hasil perlakuan terbaik frekuensi jamur merang adalah perlakuan S1J3 yaitu 7x, sedangkan frekuensi jamur merang paling rendah adalah perlakuan S4J0 yaitu 1x. Penambahan ampas sagu pada jamur merang berpengaruh terhadap produktifitas jamur merang dan Media yang terbaik untuk produktifitas jamur merang adalah media S1J3, dengan perbandingan sagu : jerami 1 : 3 Kata Kunci: Ampas sagu., Jerami, Jamur Merang
PENGAPLIKASIAN EKSTRAK BEBERAPA BIOSTIMULAN PADA PERTUMBUHAN STEK MATOA (Pometia pinnata L.) Aisoi, Leonardo E.; Jeujanan, Semuel
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 14 No. 2 (2023): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbanyakan Matoa (Pometia pinnata L.) secara generatif memang baik, namun memerlukan waktu yang cukup lama untuk suatu tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Perkembangan secara vegetatif merupakan salah satu alternatif yang perlu dilakukan, salah satunya dengan cara stek. Perkembangan dengan cara stek diharapkan dapat menjamin sifat-sifat yang sama dengan induknya. Penggunaan beberapa biostimulan alami dapat merangsang perakaran stek karena menghasilkan IAA (auksin). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan mempelajari teknik pembiakan vegetatif Matoa (Pometia pinnata L.) dan mengetahui pengaruh biostimulan yang cocok terhadap pembiakan vegetatif melalui stek pucuk dan stek batang Matoa (Pometia pinnata L.). Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu cara pemberian biostimulan (kontrol, perendaman dan pasta) dan jenis stek (batang dan pucuk), digunakan tiga kali ulangan dengan 3 batang stek setiap satuan perlakuan sehingga didapatkan 54 satuan percobaan dengan dua kali pengamatan. Perubahan-perubahan yang diamati adalah persentase stek hidup, persentase stek berkalus, jumlah kalus, persentase stek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, persentase stek berakar, jumlah akar, panjang akar, berat basah akar dan berat kering akar. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang teknik pembiakan yang cocok serta biostimulan yang cocok untuk pengembangan stek Matoa (Pometia pinnata L.). Hasil penelitian menunjukan bahwa, tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari beberapa biostimulan terhadap pertumbuhan stek Matoa (Pometia pinnata L.). Kata Kunci : Biostimulan, Matoa, Vegetatif Generative propagation of Matoa (Pometia pinnata L.) is good, but it takes quite a long time for a plant to grow and develop into an adult. Vegetative development is an alternative that needs to be done, one of which is by cutting. Development by cuttings is expected to guarantee the same characteristics as the parent. The use of several natural biostimulants can stimulate the rooting of cuttings because they produce IAA (auxin). This research is an experimental study which aims to study the vegetative propagation techniques of Matoa (Pometia pinnata L.) and determine the effect of suitable biostimulants on vegetative propagation through shoot cuttings and stem cuttings of Matoa (Pometia pinnata L.). The research was carried out using a Completely Randomized Design (CRD) with two factors, namely the method of administering the biostimulant (control, soaking and paste) and the type of cuttings (stems and shoots), three replications were used with 3 cuttings per treatment unit so that 54 experimental units were obtained with two observation times. The changes observed were the percentage of live cuttings, the percentage of cuttings with callus, the number of callus, the percentage of sprouted cuttings, the number of shoots, the length of shoots, the percentage of rooted cuttings, the number of roots, the length of roots, the wet weight of roots and the dry weight of roots. It is hoped that the results of this research can provide information about suitable breeding techniques and suitable biostimulants for developing Matoa (Pometia pinnata L.) cuttings. The research results showed that there was no significant effect of several biostimulants on the growth of Matoa (Pometia pinnata L.) cuttings. Keywords : Biostimulant, Matoa, Vegetative.
ANALISIS VEGETASI GULMA INVASIF PADA DUA LAHAN PERKEBUNAN JAGUNG DI KELURAHAN KOYA BARAT, DISTRIK MUARA TAMI, KOTA JAYAPURA Didu, Maria Irene; Aisoi, Leonardo E.; Rophi, Apriani H.
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 15 No. 2 (2024): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis vegetasi dilakukan pada penelitian ini untuk mengetahui komposisi jenis dan struktur vegetasi gulma invasif pada dua lahan perkebunan jagung di Kelurahan Koya Barat, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Penelitian ini menggunakan metode kuadrat, dengan 3 transek dengan panjang 100 m pada setiap lahan perkebunan jagung dengan jumlah plot sebanyak 20 plot berukuran 2 x 2 m pada setiap transek yang diletakkan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan komposisi gulma invasif pada kedua lahan perkebunan jagung terdiri dari 11 famili, 23 spesies, dan jumlah individu sebanyak 3429 individu. Jumlah individu pada perkebunan jagung 1 sebanyak 2098 individu, sedangkan pada perkebunan jagung 2 sebanyak 1331 individu. Euphorbia heterophylla mendominasi lahan perkebunan jagung 1 dengan total indeks nilai penting sebesar 38,53, sedangkan Synedrella nodiflora mendominasi lahan perkebunan jagung 2 dengan total indeks nilai penting sebesar 62,06. Indeks keanekaragaman pada kedua lahan perkebunan jagung tergolong sedang, sedangkan indeks kemerataan kedua lahan perkebunan jagung terindikasi semakin merata. Kata Kunci : Analisis vegetasi, Gulma invasif, Perkebunan Jagung di Kelurahan Koya Barat
PERKEMBANGAN TUMBUHAN PAKU Platycerum wandae DAN SUMBANGSIHNYA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI Aisoi, Leonardo E.; Jeujanan, Semuel
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 15 No. 2 (2024): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan Paku atau Pteridophyta merupakan salah satu topik dalam pembelajaran Biologi di SMP/SMA terutama mengenai metagenesis. Jenis paku yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran menganai metagenesis paku adalah Paku Platycerium wandae. Paku Platycerium wandae termasuk dalam kelompok Paku Tanduk Rusa adalah sekelompok tumbuhan paku epifit yang semuanya tergabung dalam genus Platycerium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan morfologi pada tiap fase perkembangan siklus hidup tumbuhan paku (Pteridophyta) dan waktu yang diperlukan selama proses perberkembangan mulai dari fase pembelahan sampai fase sporofit muda. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskritif. Data dikumpulkan melalui kegiatan pengamatan dan dokumentasi kemudian data tersebut deskripsikan secara komprehensif serta disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa struktur morfologi siklus tumbuhan paku yaitu Platycerium wandae mengalami perubahan-perubahan pada setiap fase siklus hidupnya. Waktu yang dibutuhkan tumbuhan paku mulai dari fase pembelahan sampai dengan terbentuknya sporofit muda yaitu selama 3-19 minggu. Paku Platycerium wandae dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran Biologi karena selama ini informasi mengenai metagenesis tumbuhan paku terbatas hanya pada jenis paku tertentu saja, maka dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai siklus hidup tumbuhan paku terutama dari jenis Platycerium wandae. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan materi tambahan pada pelajaran biologi di SMA kelas X semester 1 yang berhubungan dengan kompetensi dasar 3.8 Menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan tumbuhan ke dalam divisio berdasarkan pengamatan morfologi dan metagenesis tumbuhan serta mengaitkan peranannya dalam kelangsungan kehidupan di bumi. Kata Kunci : Platycerium wandae, Metagenesis, Media pembelajaran IPA
Bentuk Trikoma (Urticaceae) dan Pemanfaatan dalam Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Tablasupa Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Demena, Widelmina Keterina; Raunsay, Edoward Krisson; Aisoi, Leonardo E.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8099

Abstract

Masyarakat Kampung Tablasupa Distrik Depapre menggunakan tumbuhan daun gatal, daun jilat, dan jelatang dalam pengobatan secara tradisional untuk mengatasi keluhan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk trikoma Daun Gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd.), Daun Jilat (Villebrunia rubescens Bl.), Daun Jelatang (Urtica dioica L.) dan penggunaan daun dalam pengobatan tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, eksperimen, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa bentuk trikoma Daun Gatal dan Daun Jilat berbentuk uniseluler sedangkan bentuk trikoma pada Daun Jelatang berbentuk bintang. Daun gatal dapat digunakan untuk menghilangkan rasa pegal-pegal pada badan, Daun Jilat dapat digunakan untuk mengeluarkan darah mati atau darah kotor akibat memar, Daun Jelatang dapat digunakan untuk mengobati asam urat.
Pemanfaatan Minyak Pandemor Oleh Suku Byak di Meosbefondi Kabupaten Supiori Imbab, Diana; Aisoi, Leonardo E.; Jesajas, David R.
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 16 No. 01 (2025): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengobatan tradisional telah lama menjadi bagian penting dari praktik kesehatan masyarakat Indonesia, terutama pada komunitas yang memiliki kedekatan dengan kekayaan hayati lokal. Suku Byak di Meosbefondi merupakan salah satu kelompok etnis yang mempertahankan pengetahuan pengobatan turun-temurun melalui penggunaan minyak pandemor, yaitu minyak herbal yang diproses secara tradisional dan dipercaya bermanfaat untuk berbagai keluhan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan teknik pengolahan minyak pandemor serta bentuk pemanfaatannya oleh masyarakat setempat. Penelitian dilakukan pada Desember 2023–Januari 2024 menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan praktik etnobotani yang masih dipertahankan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua metode utama dalam pembuatan minyak pandemor, yaitu (1) daun pandemor dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari sebelum dicampur dengan minyak kelapa, dan (2) daun pandemor langsung dicampur dengan minyak kelapa tanpa proses pengeringan. Minyak yang dihasilkan digunakan sebagai obat tradisional untuk patah tulang, keseleo, pegal-pegal, luka bakar ringan, gigitan serangga, bisul, cacar air, serta sebagai penyubur rambut. Temuan ini menegaskan bahwa minyak pandemor memiliki nilai penting dalam praktik kesehatan tradisional suku Byak, sekaligus menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tersebut masih dilestarikan dan dimanfaatkan hingga saat ini. Kata Kunci : Minyak pandemor, Pengobatan tradisional, Suku Byak, Etnobotani, Papua
Respon Pertumbuhan Tanaman Anggrek Dendrobium crumenatum Terhadap Pemberian Pupuk Gandasil D dan Air Kelapa (Cocos nucifera) di Kampung Maribu Distrik Sentani Barat Kabupaten Jayapura Papua Lumbantungkup, Romauli; Aisoi, Leonardo E.; Satar, Suriyah
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 16 No. 01 (2025): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anggrek merupakan tanaman yang pertumbuhannya lambat dibandingkan dengan tanaman hias lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pemberian pupuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro. Salah satu bahan yang digunakan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman anggrek adalah pemberian pupuk Gandasil D dan air kelapa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dan dosis pemberian dosis Gandasil D dan air kelapa terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium crumenatum di Kampung Maribu Distrik Sentani Barat Kabupaten Jayapura Pappua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode eksperimen Rancangan Acak lengkap (RAL). Hasil penelitian pengaruh dosis pupuk Gandasil D dan air kelapa menunjukkan pertumbuhan yang baik. Pupuk Gandasil D terbaik pada dosis 1,5 ml. Dosis ini memberikan respon pertumbuhan tinggi tanaman dengan rata-rata 31,5 cm dan diameter batang dengan rata-rata 1,6 cm. Dosis air kelapa 200 ml memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman dengan rata-rata 28,3 cm, dosis 100 ml berpengaruh nyata terhadap lebar daun dengan rata-rata 3,4 cm. Kata Kunci : Anggrek, Air Kelapa, Dendrobium crumenatum, Gandasil D, Jayapura, Maribu, Papua, Respon
Pemanfaatan Mangrove Sebagai Bahan Olahan Pangan di Kampung Anggraidi Yarangga, Nichelle I.; Antoh, Alfred A.; Aisoi, Leonardo E.
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 16 No. 01 (2025): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan mangrove memiliki peran penting sebagai penyedia sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung, termasuk sebagai alternatif cadangan pangan bagi masyarakat pesisir. Namun, pemanfaatannya sebagai bahan makanan masih terbatas pada kelompok tertentu, seperti masyarakat Kampung Anggraidi yang memanfaatkan mangrove pada musim tertentu untuk memenuhi kebutuhan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis mangrove yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan, mendeskripsikan cara pengolahannya, serta menggambarkan upaya masyarakat dalam melestarikan hutan mangrove di Kampung Anggraidi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor. Penelitian dilaksanakan pada November hingga Desember 2023 menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat jenis mangrove di wilayah tersebut, namun masyarakat hanya memanfaatkan satu jenis, yaitu Bruguiera gymnorrhiza, khususnya bagian buahnya. Buah mangrove diolah melalui proses perebusan, pengupasan, pengirisan, perendaman, perebusan ulang, dan penggilingan hingga menjadi tepung, yang kemudian diolah menjadi berbagai makanan seperti kue cake, keladi tumbuk, dan kue campuran kelapa. Selain pemanfaatan sebagai pangan, masyarakat juga berperan dalam menjaga kelestarian mangrove melalui kegiatan penanaman kembali (reboisasi). Temuan ini menunjukkan bahwa mangrove memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif sekaligus mempertegas pentingnya pelestarian ekosistem mangrove bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir. Kata Kunci : Mangrove, Bruguiera gymnorrhiza, pangan lokal, pengolahan tradisional, Anggraidi
Anatomi dan Tipe Spora Pteridophyta pada Kawasan Hutan Jalan Kampung Berap-Distrik Demta Kabupaten Jayapura Aisoi, Leonardo E.; Raweyai, Rosamina; Jeunajanan, Semuel
NOVAE GUINEA Jurnal Biologi Vol. 16 No. 02 (2025): Novae Guinea Jurnal Biologi
Publisher : Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keanekaragaman tumbuhan paku (Pteridophyta) serta menganalisis karakter morfologi spora yang meliputi ornamentasi, bentuk, tipe, dan tekstur di kawasan hutan Jalan Kampung Berap, Distrik Demta, Kabupaten Jayapura. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 21 spesies tumbuhan paku yang tergolong ke dalam tujuh famili, yaitu Aspleniaceae, Polypodiaceae, Pteridaceae, Thelypteridaceae, Dryopteridaceae, Athyriaceae, dan Selaginellaceae. Tingginya keanekaragaman ini mencerminkan kondisi lingkungan kawasan penelitian yang mendukung pertumbuhan paku epifit maupun terestrial. Analisis morfologi spora menunjukkan variasi ornamentasi berupa faveolate, verrucate, reticulate, dan cristate yang berkaitan erat dengan perbedaan mikrohabitat. Paku epifit umumnya memiliki ornamentasi faveolate dan reticulate, sedangkan paku terestrial lebih banyak menunjukkan tekstur verrucate. Bentuk spora yang ditemukan meliputi elips/bilateral, segitiga (trilete), tetragonal, dan monolet, dengan bentuk trilete sebagai tipe dominan yang mencerminkan strategi penyebaran luas melalui angin. Berdasarkan tipe spora, ditemukan empat tipe utama, yaitu trilet, monolet, reticulate, serta faveolate/cristate, dimana tipe trilet mendominasi dan menunjukkan karakter evolusi dasar tumbuhan paku. Tekstur spora yang beragam mengindikasikan peran penting spora dalam adaptasi ekologis terhadap kondisi lingkungan hutan tropis Papua. Variasi morfologi spora ini memiliki nilai penting dalam kajian taksonomi, ekologi, serta hubungan filogenetik tumbuhan paku. Kata Kunci : Anatomi spora, tipe spora, Pteridophyta