Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

The Effect of Heating of B20 Fuel to Combustion Characteristic on the Diesel Engine Based on Experiment Semin Semin; Beny Cahyono; Faris Mishbahul Muhammad; Barokah Barokah
International Journal of Marine Engineering Innovation and Research Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.632 KB) | DOI: 10.12962/j25481479.v4i4.5654

Abstract

According to Bank Indonesia, the current account deficit of Indonesia. In the second quarter of 2018 increased to USD 8.0 billion. One of the government's programs to reduce the current account deficit is by implementing a B20 biodiesel policy. The increasing percentage of biodiesel in fuel blends tends to decrease the quality of spray atomization, where it indicated by longer droplet breakup, spray penetration, droplet lifetime, and bigger droplet diameter. Higher viscosity causes a decrease in the quality of the spray from the injector. Previous research shows that the inlet temperature of the fuel can make the performance of small diesel engines slightly better. The research was conducted using petrodiesel and biodiesel fuel by varying inlet temperature of 50oC and 70oC. Based on that this research is conducted to understand the effect of fuel heating diesel engine combustion process. The result shows that generally maximum pressure is increased for every increase in fuel temperature. The heat release shows a decreasing trend for every increase in fuel temperature. Knock detection shows that generally when the fuel temperature increased the knocking is also increased. The increasing fuel temperature shows little effect on ignition delay except for the higher temperature of 60oC and 70oC where the ignition delay is the lowest and closest to that of a dexlite fuel.
Pembuatan Converter-kit Dual Fuel LPG-Diesel Fuel untuk Nelayan di Daerah Kenjeran Surabaya Adhi Iswantoro; I Made Ariana; Semin; Aguk Zuhdi Muhammad Fathallah; Beny Cahyono
Sewagati Vol 6 No 6 (2022)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8604.354 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v6i6.235

Abstract

Terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) beberapa daerah di Indonesia memberikan dampak langsung kepada masyarakat, termasuk nelayan. Akibatnya nelayan tidak bisa melaut mencari ikan. Salah satu metode yang bisa dipilih untuk mengatasi masalah ini untuk membantu nelayan adalah dengan bahan bakar alternatif yaitu bahan bakar gas (BBG). Tentu perlu peralatan tambahan agar mesin diesel kapal nelayan bisa beroperasi dengan BBG. Yaitu dengan modifikasi dan penambahan alat berupa converter-kit, sehingga mesin konvensional bisa menjadi mesin dual fuel. Dalam kegiatan ini kami membuat alat converter-kit untuk bisa dipasang pada mesin kapal nelayan dan menghibahkan alat tersebut kepada nelayan di daerah Kenjeran Surabaya. Dari hasil analisis yang dilakukan berdasarkan uji laboratorium, performansi mesin diesel masih stabil ketika menggunakan mode dual fuel, yaitu daya yang dihasilkan. Kemudian untuk konsumsi bahan bakar terjadi penurunan yang signifikan dengan komposisi BBM & BBG. Selain itu tingkat emisi yang dihasilkan baik itu NOx, SOx & partikel karbon turun drastis karena penggunaan gas. Dari sini kami bisa simpulkan bahwa penggunaan gas pada mode dual-fuel lebih ekonomis dan lebih ramah lingkungan.
Pelatihan Tentang Modifikasi, Pengoperasian dan Perawatan Mesin Dual Fuel untuk Nelayan di Daerah Kenjeran Surabaya Adhi Iswantoro; I Made Ariana; Semin; Aguk Zuhdi Muhammad Fathallah; Beny Cahyono
Sewagati Vol 4 No 3 (2020)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.49 KB)

Abstract

Saat ini kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) meningkat, tetapi tidak dibarengi ketersediaan BBM melimpah. Sehingga beberapa daerah di Indonesia mengalami kelangkaan BBM. Salah satu masyarakat yang merasakan dampaknya nelayan. Nelayan tidak bisa mencari ikan karena kelangkaan BBM. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah adanya bahan bakar alternatif, diantaranya adalah bahan bakar gas (BBG). Beberapa nelayan telah menggunakan kombinasi antara LPG dan BBM. Akan tetapi perlu adanya sosialisasi lebih lanjut kepada nelayan agar penggunaannya lebih aman dan modifikasi mesin dilakukan dengan benar. Atas permasalahan tersebut, maka perlu adanya pelatihan kepada nelayan tentang modifikasi mesin konvensional menjadi mesin dual fuel. Dalam kegiatan ini kami melakukan pelatihan kepada nelayan di daerah Kenjeran Surabaya tentang cara memodifikasi, pengoperasian dan perawatan mesin. Dari hasil analisis yang dilakukan berdasarkan keterangan nelayan, dengan jarak tempuh yang sama, jika menggunakan BBM, sekali melaut pergi-pulang membutuhkan 8 liter BBM, jika dirupiahkan sekitar Rp 80.000,-. Tetapi jika menggunakan mesin dual fuel, untuk mesin bensin membutuhkan 1 tabung LPG 3 kg harganya Rp 17.000,-. Sementara untuk mesin diesel butuh 1 tabung LPG 3 kg harganya Rp 17.000,- dan BBM 3 liter harga sekitar Rp 30.000,- sehingga jika ditotal Rp 47.000,-. Sehingga ini bisa sebagai bahan bakar alternatif dan lebih hemat.
Pengenalan dan Pemberian Wawasan Sistem Propulsi Kapal pada Siswa SMA Insan Cendekia Sukoharjo Adhi Iswantoro; I Made Ariana; Semin; Aguk Zuhdi Muhammad Fathallah; Beny Cahyono
Sewagati Vol 6 No 4 (2022)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1390.907 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v6i4.376

Abstract

Sejalan dengan visi pemerintah Indonesia di era Presiden Joko Widodo yaitu ingin membuat Indonesia menjadi poros maritim dunia, maka ada banyak hal yang harus disiapkan. Salah satunya adalah menumbuhkan jiwa bahari pada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa serta menyiapkan sumber daya manusia yang handal di bidang maritim. Dimana saat ini cukup banyak generasi muda yang kurang mengenal sektor maritim. Atas dasar hal-hal tersebut, maka perlu ada kegiatan yang betujuan untuk kembali menumbuhkan jiwa bahari. Salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas adalah dengan melakukan pengenalan dan pemberian wawasan bahari dan maritim pada generasi muda, yaitu pada siswa-siswi sekolah menengah atas atau kejuruan. Untuk itu tim pengabdian masyarakat membuat suatu kegiatan yang melibatkan pihak sekolah, yaitu SMA Insan Cendekia Sukoharjo. Dalam kegiatan ini dilakukan pengenalan mengenai Indonesia sebagai bangsa bahari & kepulauan, perjuangan Ir. Juanda dalam bidang maritim dan sistem propulsi yang ada di kapal. Dari hasil kegiatan tersebut, di awal memang mayoritas siswa belum mengetahui tentang bidang maritim. Akan tetapi para siswa sangat antusias ketika sesi tanya jawab berlangsung. Dalam kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Kepala sekolah bidang akademik dan 35 siswa.
Pembuatan Water Bike untuk Mendukung Wisata Air di Ecowisata Waduk Tempuran Blora Trika Pitana; Agoes Santoso; Beny Cahyono; Adhi Iswantoro; Nurhadi Siswantoro; Dwi Oktavianto Wahyu Nugroho
Sewagati Vol 7 No 1 (2023)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5628.155 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v7i1.462

Abstract

Waduk Tempuran merupakan salah satu waduk yang terletak di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Peran daripada waduk ini sangat penting terutama untuk pengairan lahan pertanian di sekitar wilayah Kecamatan Blora sejak jaman sebelum Indonesia merdeka. Selain itu, manfaat lain dari waduk ini adalah sebagai salah satu wisata andalan di Kabupaten Blora. Dengan anugerah kondisi alam dan geografis yang indah, tentu ini menjadi daya tarik untuk wisatawan. Wisata yang selama ini sudah ada di Waduk Tempuran adalah wisata air seperti perahu naga, perahu dayung kano dan wisata kuliner berupa ikan bakar Waduk Tempuran serta wisata petik buah. Khusus untuk wisata air, masih sangat bisa dikembangkan lagi sehingga lebih menarik, salah satunya adalah dengan adanya sepeda air atau water bike. Dengan adanya sepeda air ini maka akan semakin banyak pilihan wisata air bagi wisatawan untuk menikmati keindahan Waduk Tempuran. Harapannya pembuatan sepeda air ini menjadi edukasi kepada pengunjung untuk tetap berolahraga dan menjadi pemicu warga sekitar untuk membuat sepeda air dengan desain yang lain.
Penerapan Konverter-kit Bahan Bakar Ganda untuk Mesin Kapal Nelayan di Kalanganyar Sidoarjo Adhi Iswantoro; I Made Ariana; Semin; Aguk Zuhdi Muhammad Fathallah; Beny Cahyono
Sewagati Vol 7 No 3 (2023)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v7i3.516

Abstract

Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di masyarakat untuk transportasi, termasuk nelayan masih sangat tinggi, sementara penggunaan bahan bakar gas (BBG) pada sektor transportasi masih tergolong rendah. Padahal BBG memiliki banyak keunggulan, yakni lebih murah dan lebih bersih dari segi emisinya. Ketergantungan pada satu jenis bahan bakar ini sangat berpengaruh pada kesiapan operasional kapal nelayan. Banyak nelayan yang terpaksa tidak mencari ikan karena harga BBM dianggap mahal atau terkadang tidak tersedia di pasaran. Salah satu cara menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan adanya bahan bakar jenis lain selain BBM, yaitu BBG. Salah satu BBG yang bisa digunakan adalah Liqufied Petroleum Gas (LPG), karena relatif mudah didapatkan masyarakat. Penggunaan bahan bakar ganda antara LPG dan BBM bertujuan agar konsumsi BBM bisa minimal, sehingga bisa menghemat biaya operasional kapal, selain juga emisi yang dihasilkan lebih rendah. Untuk itu perlu adanya modifikasi pada mesin diesel kapal nelayan yaitu dengan pemasangan konverter kit. Sasaran dalam kegiatan pengabdian ini adalah nelayan di Kalanganyar, Sidoarjo, Jawa Timur.
Effect of Rudder Bulb Installation on Ship Propulsion Performance of Anchor Handling Design VS 491 CD during Towing Barge Operation Harifuddin Harifuddin; I Made Ariana; Beny Cahyono
International Journal of Marine Engineering Innovation and Research Vol 8, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25481479.v8i3.17703

Abstract

An anchor handling ship is a ship designed to support offshore operations in the form of handling offshore building anchors and carrying out activities of moving objects such as FPSO, Semi-Submersible Rigs, construction, production, and barges from one place to another where it requires bollard strength. pull which varies depending on the size of the object, besides that it is also to support other activities such as exploration and drilling. The VS 491 design type anchor handling tug supply (AHTS) vessel which has been built by a shipyard in Batam has a maximum bollard pull test of 255 tons. This paper will analyze the propeller thrust, power, and efficiency propeller before and after the installation of the Rudder Bulb (RB) respectively in free-running conditions and towing barge conditions in 50% barge conditions and full loaded capacity, as well as in draft, and Speed on certain Anchor Handling ships. The resistance of the object being towed (towing) will be calculated on the load and speed of each. By using Maxsurf, software Rhinoceros 3D, dan the Numeca CFD, the shape of the ship's hull is produced according to the original. Then validation is carried out by comparing the resistance in the calculation by Maxsurf/Holtrop and the resistance in the calculation by CFD where resulting in a difference of less than 5% so that it can be said that the form of the model is in accordance with the original shape of the ship. Based on the calculation results in the free running conditions of the Anchor Handling ship, the Propulsive Coefficient (Pc) without ESD Rudder-Bulb (RB) at speeds of 10, 12, and 16.36 knots is 0.5162, 0.5407, and 0.5769 respectively, while with ESD-RB each is 0.5008, 0.5417, and 0.5921. Comparison of the Propulsive Coefficient without ESD-RB and with ESD-RB, that at speeds of 12 and 16.36 knots, the Propulsive Coefficient (Pc) increased by 0.19% and 2.58%, respectively, but the Propulsive Coefficient (Pc) decreased by 3.08% at 10 knots. Based on the analysis that has been carried out, it indicates that the installation of the Rudder Bulb (RB) will give an increase in the Propulsive Coefficient (Pc) at speeds of 10 knots and above in free-running conditions, whereas when towing it hardly gives an increase in the Propulsive Coefficient (Pc).