Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan politik lokal dalam pelestarian seni pertunjukan Ketoprak Dor sebagai identitas budaya masyarakat Jawa Deli di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Permasalahan utama yang diangkat adalah menurunnya frekuensi pertunjukan Ketoprak Dor dalam tiga tahun terakhir yang berdampak pada menurunnya minat generasi muda serta berkurangnya dukungan pemerintah desa terhadap kegiatan budaya tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap kepala desa, penggiat seni, serta masyarakat setempat. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan politik lokal memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan Ketoprak Dor melalui kebijakan, fasilitasi, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan anggaran, rendahnya partisipasi generasi muda, serta kurangnya inovasi dalam penyajian pertunjukan. Upaya kepala desa untuk menghidupkan kembali tradisi ini antara lain dilakukan dengan menjalin kolaborasi dengan sanggar seni, melibatkan pemuda desa dalam pelatihan seni, serta mengintegrasikan kegiatan budaya ke dalam program kerja pemerintah desa. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan lokal yang visioner, partisipatif, dan adaptif sangat dibutuhkan dalam menjaga kelestarian budaya tradisional agar tetap relevan di era modern