Pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial menyebabkan industri musik, khususnya konser luring, mengalami stagnasi sehingga promotor dan musisi terdorong mencari bentuk penyelenggaraan baru berbasis teknologi digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis konser virtual sebagai dinamika industri musik Indonesia sekaligus melihat bagaimana praktik tersebut merekonstruksi relasi komunikasi antara musisi dan audiens, dengan studi kasus Wave Djava Virtual Concert yang disiarkan melalui kanal YouTube Hellprint Official. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposif, observasi terhadap tayangan konser virtual di YouTube (termasuk karakteristik konten, jumlah penonton, dan interaksi di kolom komentar), serta studi literatur sebagai landasan konseptual. Analisis data dilakukan secara induktif dengan model Miles dan Huberman melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan-verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konser virtual membentuk segmen penonton baru dan memperlihatkan adaptasi musisi serta promotor terhadap teknologi digital, sehingga memperluas jangkauan audiens dan menjaga keberlanjutan aktivitas industri musik di masa krisis. Konser virtual juga merepresentasikan konvergensi media, di mana unsur komunikasi tetap berlangsung namun bergeser ke medium digital sehingga interaksi menjadi tidak langsung dan berpotensi tertunda. Selain itu, praktik ini menguatkan hubungan komunikasi parasosial melalui kedekatan emosional yang dibangun lewat fitur platform dan pola konsumsi daring, serta mendorong terbentuknya kebiasaan baru dalam menikmati pertunjukan musik.