Immanuel Kant dalam filsafatnya berusaha menjembatani dua aliran utama dalam epistemologi rasionalisme dan empirisme. Immanuel kant berpendapat bahwa baik rasionalisme, yang menekankan peran akal dalam memperoleh pengetahuan, maupun empirisme, yang menekankan pentingnya pengalaman inderawi memiliki kelemahan jika dipahami secara terpisah. Di sisi lain, pendidikan Islam menekankan wahyu sebagai sumber utama pengetahuan, yang dalam beberapa hal menimbulkan perbedaan mendasar dengan epistemologi Immanuel kant. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konsep epistemologi Kant dapat diintegrasikan atau justru berkonflik dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber yang relevan, seperti buku, artikel ilmiah, serta penelitian terdahulu. Tahapan analisis data studi literatur meliputi identifikasi topik, pencarian dan seleksi literatur yang relevan, evaluasi kritis, serta pengorganisasian berdasarkan tema. Peneliti kemudian mensintesis data dari berbagai sumber untuk menarik kesimpulan dan mengidentifikasi celah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa epistemologi kritisme yang diusung oleh Kant dapat diintegrasikan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang lebih terbuka terhadap analisis kritis. Meskipun wahyu tetap menjadi sumber utama kebenaran, pendekatan transendental Kant memungkinkan peserta didik memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap ajaran agama. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menerima wahyu secara dogmatis, tetapi juga mampu memahaminya dengan menggunakan pemikiran rasional. Implikasinya, pendidikan Islam dapat menjadi lebih holistik dengan mengintegrasikan aspek intelektual, moral, dan spiritual, serta lebih siap menghadapi tantangan zaman modern.Immanuel Kant in his philosophy tried to bridge two main schools of thought in epistemology, namely rationalism and empiricism. Immanuel Kant argued that both rationalism which emphasizes the role of reason in gaining knowledge, and empiricism which emphasizes the importance of sensory experience, have weaknesses if understood separately. On the other hand, Islamic education emphasizes revelation as the main source of knowledge, which in some ways creates fundamental differences with Immanuel Kant's epistemology. This article aims to explore how Kant's epistemological concept can be integrated or contradicted with the principles of Islamic education. This study uses a literature study method to collect and analyze data from various relevant sources, such as books, scientific articles, and previous research. The stages of literature study data analysis include topic identification, searching and selecting relevant literature, critical evaluation, and organizing by theme. The researcher then synthesizes data from various sources to draw conclusions and identify research gaps. The results of this study indicate that the critical epistemology promoted by Kant can be integrated in the development of Islamic education that is more open to critical analysis. Although revelation remains the primary source of truth, Kant's transcendental approach allows students to have a deeper understanding of religious teachings. Thus, students not only receive revelation dogmatically, but are also able to understand it using rational thinking. The implication is that Islamic education can be more holistic by integrating intellectual, moral, and spiritual aspects, and be better prepared to face the challenges of the modern era.