Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Muatan profil pelajar Pancasila dalam buku ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tingkat SMP Kurikulum Merdeka Aulia, Selena; Anwar , Saepul; Nugraha, Risris Hari
TA`DIBUNA Vol 13 No 6 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tadibuna.v13i6.18009

Abstract

The Pancasila Student Profile plays an important role in forming character and national values in the world of education, and textbooks are the leading media for conveying and integrating national values in the learning process. The purpose of the Pancasila Student Profile is in line with the function of Religious Education as stated in PP No. 55 of 2007, namely to form human beings who believe and are devoted to God Almighty, have noble morals, and can maintain peace and harmony in inter-religious relations. This study is important to determine the extent to which Islamic Religious Education textbooks reflect the dimensions of the Pancasila Student Profile, which are very important for character education. This study is a qualitative study with a literature review method, where the Islamic Religious Education textbook for the Independent Curriculum for junior high school level is the primary data source, and journal articles are secondary data. Data were collected and analyzed using the content analysis method. The study results indicate that the dimensions of the Pancasila Student Profile are contained in the Islamic Religious Education textbook. AbstrakProfil Pelajar Pancasila berperan penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai kebangsaan di dunia pendidikan, dan buku ajar adalah media utama untuk menyampaikan dan mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dalam proses pembelajaran. Tujuan dari Profil Pelajar Pancasila ini selaras dengan fungsi Pendidikan Agama yang tercantum dalam PP No. 55 Tahun 2007 yakni membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana buku ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti mencerminkan dimensi Profil Pelajar Pancasila, yang esensial untuk pendidikan karakter. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode kajian pustaka, di mana buku ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kurikulum Merdeka tingkat SMP menjadi sumber data primer dan artikel jurnal sebagai data sekunder. Data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan metode analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi Profil Pelajar Pancasila termuat dalam buku ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Epistemologi Immanuel Kant dalam Konteks Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Amanda, Restu Rizki; Aulia, Selena; Parhan, Muhamad
AT-TAJDID Vol 9, No 2 (2025): JULI-DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/att.v9i2.3760

Abstract

Immanuel Kant dalam filsafatnya berusaha menjembatani dua aliran utama dalam epistemologi rasionalisme dan empirisme. Immanuel kant berpendapat bahwa baik rasionalisme, yang menekankan peran akal dalam memperoleh pengetahuan, maupun empirisme, yang menekankan pentingnya pengalaman inderawi memiliki kelemahan jika dipahami secara terpisah. Di sisi lain, pendidikan Islam menekankan wahyu sebagai sumber utama pengetahuan, yang dalam beberapa hal menimbulkan perbedaan mendasar dengan epistemologi Immanuel kant. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konsep epistemologi Kant dapat diintegrasikan atau justru berkonflik dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber yang relevan, seperti buku, artikel ilmiah, serta penelitian terdahulu. Tahapan analisis data studi literatur meliputi identifikasi topik, pencarian dan seleksi literatur yang relevan, evaluasi kritis, serta pengorganisasian berdasarkan tema. Peneliti kemudian mensintesis data dari berbagai sumber untuk menarik kesimpulan dan mengidentifikasi celah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa epistemologi kritisme yang diusung oleh Kant dapat diintegrasikan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang lebih terbuka terhadap analisis kritis. Meskipun wahyu tetap menjadi sumber utama kebenaran, pendekatan transendental Kant memungkinkan peserta didik memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap ajaran agama. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menerima wahyu secara dogmatis, tetapi juga mampu memahaminya dengan menggunakan pemikiran rasional. Implikasinya, pendidikan Islam dapat menjadi lebih holistik dengan mengintegrasikan aspek intelektual, moral, dan spiritual, serta lebih siap menghadapi tantangan zaman modern.Immanuel Kant in his philosophy tried to bridge two main schools of thought in epistemology, namely rationalism and empiricism. Immanuel Kant argued that both rationalism which emphasizes the role of reason in gaining knowledge, and empiricism which emphasizes the importance of sensory experience, have weaknesses if understood separately. On the other hand, Islamic education emphasizes revelation as the main source of knowledge, which in some ways creates fundamental differences with Immanuel Kant's epistemology. This article aims to explore how Kant's epistemological concept can be integrated or contradicted with the principles of Islamic education. This study uses a literature study method to collect and analyze data from various relevant sources, such as books, scientific articles, and previous research. The stages of literature study data analysis include topic identification, searching and selecting relevant literature, critical evaluation, and organizing by theme. The researcher then synthesizes data from various sources to draw conclusions and identify research gaps. The results of this study indicate that the critical epistemology promoted by Kant can be integrated in the development of Islamic education that is more open to critical analysis. Although revelation remains the primary source of truth, Kant's transcendental approach allows students to have a deeper understanding of religious teachings. Thus, students not only receive revelation dogmatically, but are also able to understand it using rational thinking. The implication is that Islamic education can be more holistic by integrating intellectual, moral, and spiritual aspects, and be better prepared to face the challenges of the modern era.