Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIFUNGI DAN ANTIBAKTERI AIR PERASAN DENGAN EKSTRAK ETANOL UMBI WORTEL Rizki, Citra Aulia; Mukhlishah, Neneng Rachmalia I.
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.35836

Abstract

Penyakit infeksi adalah kondisi yang disebabkan oleh mikroba dan menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Beberapa jenis mikroba yang dapat menyebabkan infeksi diantaranya bakteri dan jamur. Pengobatan infeksi jamur dan bakteri sering menggunakan obat sintesis yang dapat menyebabkan efek samping. Selain itu, penggunaan antibiotik untuk infeksi bakteri telah menimbulkan banyak kasus resistensi, sehingga diperlukan alternatif tanaman obat yang berpotensi sebagai antibakteri dan antijamur yakni tanaman wortel. Wortel (Daucus carota L.)  merupakan sayuran berumbi berwarna kuning sampe jingga dan juga merupakan tanaman semusim. Wortel diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai agen antimikroba. Pada umbi wortel terdapat kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, dan saponin yang berguna sebagai antibakteri dan antifungi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri dan antifungi dari perasan air wortel dan ekstrak etanol umbi wortel. Metode penelitian meliputi tinjauan terhadap jurnal-jurnal terkini yang diambil dari database Google Scholar, dengan fokus pada aktivitas antifungi dan antibakteri pada air perasan dan ekstrak etanol umbi wortel. Hasil analisis menunjukkan bahwa perasan air wortel dengan konsentrasi 10% efektif dalam menghambat Staphylococcus aureus, sedangkan konsentrasi 75% dapat menghambat Candida albicans. Di sisi lain, ekstrak etanol wortel menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi, dengan konsentrasi 5% dan 1% yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur secara signifikan. Dengan demikian, ekstrak etanol umbi wortel lebih efektif sebagai antibakteri dan antifungi dibandingkan dengan perasan air wortel.
Narrative Review: Ethnomedicinal Study of Skin Diseases Diba, Asmara Yauma Putri Farah; Mukhlishah, Neneng Rachmalia I.; Sukenti, Kurniasih
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11693

Abstract

Infectious skin diseases in West Nusa Tenggara Province are listed as one of the ten most widespread diseases. Treatment for skin disorders can involve both medical and non-medical approaches. Ethnomedicine offers a way to investigate the applications of medicinal plants and can serve as a first step towards the discovery of new drugs. The purpose of this article is to explore the types of plants used in traditional skin disease treatments. The research results found that plants that can be used for skin disease treatment are predominantly betel, galangal, and members of the Zingiberaceae family. Then, other plants are tobacco, nettle (Toxicodendron radicans), brotowali (Tinospora arisp), kanangas (Ximenia sp.), pomegranate (Punica granatum), grepek (Erythrina sp.), ciplukan (Physalis angulate), water lettuce (Nasturtium microphyllum), lily (Chlorophytum comosum), kesum (Polygonum minus), gelinggang (Cassia alata), cogongrass (Imperata cylindrica), neem (Azadirachta indica), papaya (Carica papaya), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), teki (Cyperus rotundus), lime (Citrus aurantiifolia) and kedondong pagar (Lannea coromandelica), jackfruit (Artocarpus heterophyllus), rice (Oryza sativa), tamarind (Tamarindus indica), coconut milk (Lannea coromandelica), lamtoro (Leucaena leucocephala), sambiloto (Andrographis paniculata), frangipani (Plumeria alba), iodine (Jatropha multifida), and binahong (Anredera cordifolia). The use of medicinal plants by various communities significantly impacts public health and ecosystems. Utilizing these plants can reduce dependence on synthetic drugs and mitigate negative impacts on the environment. Ethnomedicine can further enhance the understanding and appropriate and safe application of medicinal plants, while supporting the preservation of community customs and heritage.