Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

REPRESENTASI HEGEMONI DALAM ANIME ONE PIECE PADA TRAGEDI OHARA (ANALISIS SEMIOTIKA JOHN FISKE ) Brilliant L.P, Farrel; Dwi Arianto, Irwan
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 11 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i11.2023.4997-5007

Abstract

Anime One Piece adalah serial animasi tentang perjalan seorang bocah bernama Monkey D. Luffy untuk menjadi raja bajak laut  yang diadaptasi dari buku komik karya Eiichiro Oda. Film yang diproduksi oleh Toei Animation. Film animasi ini menjadi subjek dari penelitian karena peneliti melihat adanya representasi hegemoni yang bisa ditampilkan dari film tersebut. Dalam upaya pembuktian representasi tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode analisis dari teori semiotika oleh John Fiske yang bernama “Kode-Kode Televisi”. Melalui analisis menggunakan teori kode televisi yang terdiri dari tiga level yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi pada beberapa adegan dan scene yang di dalamnya dipilih beberapa shot. Dalam pemilihan adegan-adegan tersebut akan disesuaikan kembali berdasarkan teori hegemoni milik Antonio Gramsci. Dari hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa representasi hegemoni dimunculkan secara jelas apabila diperhatikan secara seksama. Hal itu ditunjukkan dengan penggunaan perangkat militer dalam penerapan hegemoni pemerintah dunia yang memiliki peran dalam keberhasilan tercapainya dominasi.
ANALISIS JARINGAN KOMUNIKASI PADA TAGAR #PERINGATANDARURAT DALAM SOSIAL MEDIA X (TWITTER) Akbar, Danendra; Dwi Arianto, Irwan
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 3 (2025): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i3.2025.944-955

Abstract

Aktivisme digital lahir sebagai gerakan dalam dunia virtual sebagai cara untuk menyuarakan isu atau peristiwa yang sedang terjadi dalam dunia sosial politik. Media yang digunakan dalam gerakan aktivisme digital salah satunya adalah media sosial X yang sebelumnya dikenal dengan twitter. Dalam fiturnya, media sosial X memiliki banyak fitur yang dapat digunakan untuk melakukan komunikasi seperti tweet, retweet, follow, search bar, direct message, hashtage, mention, spaces. Dalam penelitian ini penulis mengambil isu mengenai revisi UU Pilkada pada media sosial X penelitian tersebut menemukan topinfluencer dalam jaringan #PeringatanDarurat sebagai komunikator politik. topinfluencer tersbut dalam konsep digital activism memiliki peran tersendiri dalam tweet yang di unggahnya.
PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK SCARLETT WHITENING X EXO OLEH KOMUNITAS ERIJO_L1485 Anjung Muryn, Dynita; Dwi Arianto, Irwan
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 3 (2025): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i3.2025.918-926

Abstract

Penggemar K-Pop terkenal dengan loyalitasnya terhadap idola mereka. Salah satunya adalah dengan melakukan pembelian terhadap merchandise hingga produk yang diiklankan oleh idolanya. Melihat potensi ini berbagai merek lokal tidak mau ketinggalan dan mulai menggunakan artis Korea sebagai brand ambassador mereka. Salah satunya Scarlett Whitening yang menunjuk boygroup EXO sebagai Glow Ambassador mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor perilaku konsumen apa saja yang memengaruhi EXO-L dalam melakukan pembelian produk Scarlett Whitening x EXO. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dengan anggota dari komunitas Erijo_L1485. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4 faktor perilaku konsumen oleh Kotler dan Armstrong yakni faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis, faktor sosial menjadi faktor utama pembelian produk Scarlett Whitening x EXO oleh 5 informan yang merupakan anggota komunitas Erijo_L1485. EXO sebagai kelompok referensi menjadi alasan utama bagi anggota komunitas Erijo untuk melakukan pembelian produk Scarlett Whitening x EXO. Faktor lain yang mendukung perilaku konsumsi produk Scarlett Whitening x EXO adalah faktor pribadi yakni usia, ekonomi, dan gaya hidup.
REPRESENTASI HEGEMONI DALAM ANIME ONE PIECE PADA TRAGEDI OHARA (ANALISIS SEMIOTIKA JOHN FISKE ) Brilliant L.P, Farrel; Dwi Arianto, Irwan
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 11 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i11.2023.4997-5007

Abstract

Anime One Piece adalah serial animasi tentang perjalan seorang bocah bernama Monkey D. Luffy untuk menjadi raja bajak laut  yang diadaptasi dari buku komik karya Eiichiro Oda. Film yang diproduksi oleh Toei Animation. Film animasi ini menjadi subjek dari penelitian karena peneliti melihat adanya representasi hegemoni yang bisa ditampilkan dari film tersebut. Dalam upaya pembuktian representasi tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode analisis dari teori semiotika oleh John Fiske yang bernama “Kode-Kode Televisi”. Melalui analisis menggunakan teori kode televisi yang terdiri dari tiga level yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi pada beberapa adegan dan scene yang di dalamnya dipilih beberapa shot. Dalam pemilihan adegan-adegan tersebut akan disesuaikan kembali berdasarkan teori hegemoni milik Antonio Gramsci. Dari hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa representasi hegemoni dimunculkan secara jelas apabila diperhatikan secara seksama. Hal itu ditunjukkan dengan penggunaan perangkat militer dalam penerapan hegemoni pemerintah dunia yang memiliki peran dalam keberhasilan tercapainya dominasi.
IMPRESSION MANAGEMENT BUPATI PADA MEDIA SOSIAL (Analisis Isi Kualitatif Bupati Sidoarjo Pada Akun Instagram @ahmadmuhdlorali) Sodiq Anashrulloh, Ahmad; Dwi Arianto, Irwan
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 10 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i10.2023.4768-4774

Abstract

Penelitian analisis isi pada unggahan konten media sosial instagram. Pemanfaatan media sosial instagram dilakukan oleh pemimpin daerah yaitu bupati kabupaten sidoarjo provinsi jawa timur. Bupati secara aktif  mengunggah konten kinerja pemerintahan pada media sosial instagram pribadi @ahmadmuhdlorali. Dari unggahan konten instagram pribadi akan memberikan kesan kepada masyarakat. Penelitian ini memberikan gambaran kesan pejabat publik seorang bupati dalam mengekspresikan kesan pada media sosial digital instagram. Terdapat unggahan pada bulan januari – maret 2023 sebanyak 107 unggahan terdapat caption, foto, video dan hastag yang digunakan. Data unggahan yang diperoleh dilakukan analisis isi pesan menurut teori content analysis Parker, Saundage dan Lee. Kesan dan Impression management. Hasil temuan dari penelitian menjelaskan Impression management pada pejabat publik bupati dalam instagram pribadi @ahmadmuhdlorali. Hasil temuan analisis isi pesan bupati memiliki kesan kepada masyarakat sebagai bupati kinerja pembangunan infrastruktur, Kerjasama program kerja pemerintahan dengan organisasi masyarakat, Penggerak ekonomi daerah.
ANALISIS JARINGAN KOMUNIKASI PADA TAGAR #PERINGATANDARURAT DALAM SOSIAL MEDIA X (TWITTER) Akbar, Danendra Akbar; Dwi Arianto, Irwan
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 3 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i3.2025.944-955

Abstract

Aktivisme digital lahir sebagai gerakan dalam dunia virtual sebagai cara untuk menyuarakan isu atau peristiwa yang sedang terjadi dalam dunia sosial politik. Media yang digunakan dalam gerakan aktivisme digital salah satunya adalah media sosial X yang sebelumnya dikenal dengan twitter. Dalam fiturnya, media sosial X memiliki banyak fitur yang dapat digunakan untuk melakukan komunikasi seperti tweet, retweet, follow, search bar, direct message, hashtage, mention, spaces. Dalam penelitian ini penulis mengambil isu mengenai revisi UU Pilkada pada media sosial X penelitian tersebut menemukan topinfluencer dalam jaringan #PeringatanDarurat sebagai komunikator politik. topinfluencer tersbut dalam konsep digital activism memiliki peran tersendiri dalam tweet yang di unggahnya.
Decoding Hegemony in Digital Marketing Jobs: A Semantic Network Analysis of Jobstreet Indonesia Nurimansyah, Rafi; Dwi Arianto, Irwan
Jurnal Ketenagakerjaan Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Kebijakan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47198/jnaker.v20i2.518

Abstract

The rapid growth of Indonesia’s digital workforce has been accompanied by increasingly symbolic dynamics in the labor market, especially in how language shapes perceptions of job value. This study analyzes how employers use language in job advertisements to construct symbolic hierarchies and maintain dominance, particularly in the digital marketing sector. Using a descriptive quantitative approach and semantic network analysis, 987 job listings containing the keyword “digital marketing” were collected from Jobstreet over a one-month period and analyzed through bipartite (job title–requirement) and monopartite (job title–job title) networks. The results show that English-dominant job vacancies are closely associated with senior-labeled positions and higher salary offers, while Indonesian appears more frequently in operational roles with lower pay. However, symbolic elevation through titles such as “Manager” or “Specialist” often fails to correspond with actual compensation, and positions requiring many skills are frequently framed with low-status labels such as “Intern” or “Remote,” indicating the use of language to normalize job status while obscuring workload imbalances. Salary information is also often undisclosed, limiting bargaining power and weakening transparency. Additional descriptive findings indicate a geographical concentration of high-value jobs in Jakarta, where English proficiency is more frequently required and median wages are notably higher. Overall, this study demonstrates how recruitment language operates as a form of linguistic hegemony—normalizing inequality by framing structurally similar jobs as symbolically distinct—and highlights the need for stronger regulation and public awareness regarding fair compensation and transparent hiring practices in Indonesia’s digital labor market.
KEKERASAN VERBAL DI RUANG DIGITAL: ANALISIS FOUCAULDIAN TENTANG DISKURSUS PELECEHAN SEKSUAL VERBAL PADA KASUS FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA Angel Meilisa Sitorus, Indah; Dwi Arianto, Irwan
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Verified
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.59937

Abstract

This study examines how discourse on verbal sexual harassment was produced, contested, and legitimized in digital space following the April 2026 sexual harassment case at the Faculty of Law, Universitas Indonesia (FH UI). Verbal harassment remains one of the least examined forms of campus sexual violence, since it leaves no physical evidence and is often dismissed as trivial. This case is analytically significant because a private WhatsApp conversation, once leaked onto the X (formerly Twitter) platform, rapidly transformed into a national public discourse involving the institution, the perpetrators' parents, student organizations, and the online public. The study adopts a qualitative interpretive approach through Foucauldian Discourse Analysis (FDA), adapted from Carabine (2001) and Khan and MacEachen (2021), applied to X posts, institutional statements, national news coverage, and relevant policy documents collected between April and June 2026. Four competing discursive formations were identified: a trivializing "joke" discourse produced by the perpetrators, a campus-reputation discourse produced by the institution, a safe-space and victim-protection counter-discourse produced by students and activists, and a victim-blaming discourse that ultimately failed to gain legitimacy. Analysis of power-knowledge relations shows that discursive authority remained unevenly distributed among the institution, national media, and digital publics, while victims' voices were present only through mediation by other parties. Two contesting regimes of truth emerged: a legal-institutional regime emphasizing due process and confidentiality, and a victim-protection regime emphasizing survivors' testimony and public accountability. The institution's eventual imposition of graduated sanctions is read not as the triumph of either regime, but as a negotiated compromise between them. These findings suggest that higher-education institutions need crisis-communication protocols foregrounding victims' experience over procedural language alone, and that digital activism can meaningfully reconfigure, without fully dismantling, institutional hierarchies of discursive authority.