Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

GAYA BAHASA SINDIRAN DALAM LIRIK LAGU IWAN FALS PADA ALBUM WAKIL RAKYAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Rosanna Samosir; Ahmad Muzaki; Chadis Chadis.
Alegori: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 3, No 1 (2023): Alegori: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/alegori.v3i1.8614

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis gaya bahasa sindiran dalam Lirik Lagu Iwan Fals pada Album Wakil Rakyat. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis isi, berupa lirik lagu. Selain itu, penulis menggunakan tabel analisis dan membuat langkah kerja. Teknik penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian tentang gaya bahasa sindiran pada lirik lagu Iwan Fals dalam Album Wakil Rakyat, dengan urutan pertama yaitu gaya bahasa sinisme ditemukan sebanyak 11 kalimat dengan persentase 29%; urutan kedua yaitu gaya bahasa ironi dan juga sarkasme masing-masing sebanyak 9 temuan dengan persentase 24%; urutan ketiga yaitu gaya bahasa satire sebanyak 5 temuan dengan persentase 13%; dan urutan terakhir ada gaya bahasa inuendo sebanyak 4 temuan dengan persentase 10%. Berdasarkan temuan di atas penulis dapat menyimplukan bahwa Lirik Lagu Iwan Fals dalam Album Wakil Rakyat  memiliki ciri khas dengan penggunaan gaya bahasa sindiran yang mengaitkan sindiran orang lain. Dengan demikian, Lirik Lagu Iwan Fals dalam Album Wakil Rakyat lebih banyak menggunakan gaya bahasa sinisme karena berupa sindiran, dengan terang-terangan menyampaikan kritik yang ditujukan kepada wakil rakyat. Lirik ini berisikan pesan, sindiran dan juga harapan rakyat terhadap pemerintahan.
Kesantunan Berbahasa pada Remaja di TBM TPQ Al Hidayah Kota Depok Muzaki, Ahmad; Hilaliyah, Hilda; Chadis, Chadis
Jurnal PKM: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): Jurnal PKM: Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v7i3.22759

Abstract

Komparasi Lanskap Linguistik Wilayah Entikong dan Tebedu sebagai Potret Negosiasi Identitas di Perbatasan Indonesia-Malaysia Hilda Hilaliyah; Sulis Setiawati; Ahmad Muzaki; Ahmad Khoiril Anam; Fauzi Rahman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8382

Abstract

Tebedu (Malaysia) as a form of representation of identity negotiation in the Indonesia-Malaysia border area. The method used in this study is qualitative with a descriptive-comparative type of research. The data collection was carried out through participatory observation and visual documentation carried out in the Entikong area, Sanggau Regency, West Kalimantan and Tebedu, Sarawak State, Malaysia. The collected data were then analyzed based on Landry & Bourhis' linguistic landscape concept which consists of informational and symbolic functions of linguistic markers of public space. The results showed that the linguistic landscape in Entikong represented symbolic messages such as nationalism, anti-corruption and anti-drug campaigns, hero honor, and the strengthening of the rupiah currency. In contrast, the linguistic landscape in Tebedu displays symbolic messages in a more limited form through directional markers, usage instructions, appeals, prohibitions, local cultural icons, and local political slogans. This difference confirms that Entikong makes language a means of state ideology, while Tebedu positions the language of the public space as a means of functional communication. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lanskap linguistik di wilayah Entikong (Indonesia) dan Tebedu (Malaysia) sebagai bentuk representasi negosiasi identitas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi visual yang dilakukan di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan Tebedu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis berdasarkan konsep lanskap linguistik Landry & Bourhis yang terdiri atas fungsi informatif dan simbolis terhadap penanda linguistik ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di Entikong merepresentasikan pesan simbolik seperti nasionalisme, kampanye anti-korupsi dan anti-narkoba, penghormatan pahlawan, serta penguatan mata uang Rupiah. Sebaliknya, lanskap linguistik di Tebedu menampilkan pesan simbolik dalam bentuk lebih terbatas melalui penanda-penanda petunjuk arah, petunjuk penggunaan, imbauan, larangan, ikon budaya lokal, dan slogan politik setempat. Perbedaan ini menegaskan bahwa Entikong menjadikan bahasa sebagai sarana ideologi negara, sementara Tebedu memosisikan bahasa ruang publik sebagai sarana komunikasi fungsional.