Jamaly, Za’farullah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menganalisis Pemikiran Filsafat Gadamer (Pemikiran Hermeneutika) Jamaly, Za’farullah; Hidayatunnisa, Nazwa; Azzahra, Velisa; Wahid, Ramadhani Firmansyah; Nashikin, Nashikin
Leksikon: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2024): LEKSIKON: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, & Budaya
Publisher : UPT Publikasi dan Penerbitan Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/leksikon.v2i1.190

Abstract

Hans Georg Gadamer meyakini bahwa pemahaman terjadi dalam konteks sejarah dan budaya, menolak gagasan "kebenaran" objektif dan mutlak yang terpisah dari konteks sejarah dan pengalaman pribadi. Konsep sentralnya menggambarkan hubungan dinamis antara penafsir, teks, dan konteks. Visinya meresapi berbagai disiplin, menciptakan landasan bagi pendekatan pemahaman yang holistik dan kontekstual. Ketertarikannya pada relativitas pengalaman dan sejarah membentuk pandangan hermeneutisnya, memperkaya wawasannya terhadap keragaman penafsiran. Filsafat hermeneutika Gadamer, yang dikenal sebagai Hermeneutik, mengakui bahwa pemahaman terjadi dalam konteks sejarah dan budaya. Hermeneutika Gadamer menawarkan landasan konseptual yang kuat untuk menyelidiki makna dalam konteks yang kompleks dan terus berubah. Pemikirannya mempromosikan pemahaman yang lebih mendalam melalui pengakuan terhadap ketidakberlanjutan kebenaran mutlak, mendorong pandangan yang lebih inklusif terhadap interpretasi dan makna.
Bulan Suro dalam Perspektif Islam dan Tradisi Bulan Suro di Pulau Jawa Jamaly, Za’farullah
Leksikon: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2024): LEKSIKON: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, & Budaya
Publisher : UPT Publikasi dan Penerbitan Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/leksikon.v2i1.194

Abstract

Bulan Suro di Indonesia merupakan salah satu bulan dalam penanggalan Jawa yang memiliki makna dan nilai kultural yang mendalam. Diperingati pada bulan Muharram, Bulan Suro memiliki signifikansi tersendiri bagi masyarakat Jawa, terutama dalam konteks keagamaan dan budaya. Bulan Suro dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan keberuntungan. Masyarakat Jawa percaya bahwa Bulan Suro merupakan saat yang tepat untuk memulai kegiatan positif, seperti pernikahan, upacara keagamaan, dan usaha baru. Kebanyakan orang meyakini bahwa tindakan baik yang dilakukan selama Bulan Suro akan mendatangkan keberuntungan sepanjang tahun. Selain itu, Bulan Suro juga dihubungkan dengan tradisi-tradisi keagamaan, terutama dalam konteks Islam. Banyak umat Islam di Indonesia menggelar berbagai acara keagamaan seperti ziarah ke makam para wali, membaca Al-Qur'an, dan melaksanakan puasa sunnah. Bulan ini juga dianggap sebagai waktu yang baik untuk introspeksi diri dan meningkatkan kualitas spiritual. Selain aspek keagamaan, Bulan Suro juga memiliki nilai budaya yang kuat. Masyarakat Jawa sering mengadakan berbagai acara seni dan budaya, seperti wayang kulit, tari tradisional, dan pementasan drama. Hal ini bertujuan untuk memperkokoh identitas budaya dan melestarikan warisan nenek moyang. Namun, perlu diingat bahwa pemahaman dan penghayatan terhadap Bulan Suro dapat bervariasi di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun umumnya dianggap sebagai bulan yang baik dan penuh