Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NUGET 4 BINTANG SEBAGAI MAKANAN BERGIZI UNTUK MENCEGAH STUNTING DI DESA BELANTING KECAMATAN SAMBELIA Damayanti, Yusnita; Pracoyo, Atas; Abidin, M. Ramdanil; Apriana, Baiq Tina; Robiah, Hanifatul; Masrul, L. Muji; Atimah, Nur; Affandi, Rustomi Rifki; Asri, Salsabila Nirmala; Wulandari, Sinta; Hadi, Yodhi Indra
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2024): Februari
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppm.v7i1.6356

Abstract

Stunting merupakan kurangnya gizi kronis balita, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan pertama. yang pada umumnya mempengaruhi pertumbuhan dan gangguan pada perkembangan otak. Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi yang dapat menyebabkan balita akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadi lebih rentan terhadap penyakit, dan di masa depan dapat beresiko pada penurunan tingkat produktivitas. Pada tahun 2013 prevalensi stunting di Indonesia berada di urutan kelima. Sedangkan di provinsi NTB, pada tahun 2018 prevalensi stunting berada di urutan kedua. Salah satu desa di NTB yang menghadapi masalah kesehatan stunting adalah Desa Belanting, kecamatan Sambelia, NTB. Faktor yang menyebabkan stunting, yaitu kurangnya kurangnya pengetahuan orang tua tentang makanan bergizi dan angka pernikahan dini yang cukup tinggi. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting, dilakukan penyuluhan pengolahan makanan bergizi nugget 4 bintang yang bahan utamanya ikan tongkol. Ikan tongkol merupakan salah satu hasil laut atau tambak yang merupakan komoditas utama di Desa Belanting. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan ibu dan calon ibu terkait stunting, gizi seimbang, dan pengolahan makanan bergizi seimbang. Olahan nugget ini bisa menjadi salah satu kreasi makanan tambahan untuk anak-anak agar lebih menarik. Upaya ini dilakukan dengan metode parasipatif, melalui penyuluhan gizi seimbang untuk mencegah stunting dan demonstrasi pembuatan makanan. Hasil kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu dan calon ibu terkait stunting dan cara pencegahannya, salah satunya melalui pemberian supan gizi yang cukup atau seimbang. Selain itu, masyarakat dapat meningkatkan kreativitasnya dengan mengolah makanan bergizi yang menarik. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menurunkan angka kejadian stunting di Desa Belanting.
IDEOLOGI GENDER DALAM NOVEL TUHAN IZINKAN AKU MENJADI PELACUR: KAJIAN STILISTIKA FEMINIS SARA MILLS Atimah, Nur; Saharudin; Muh. Khairussibyan
Jurnal PENEROKA Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/peneroka.v6i1.4479

Abstract

This study aims to uncover forms of gender subordination ideology and female stereotypes through a Feminist Stylistics analysis in the novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (TIAMP) by Dahlan. Patriarchal social constructions are often reflected in everyday life and prevalent in society; in literary works, this can be explored through the language used to represent women. The focus of this study is on how language represents women throughout the novel's text, as well as the positive or negative values that emerge from it. The research employs a qualitative descriptive method with Sara Mills' Feminist Stylistics approach, through data collection techniques involving library research, reading, and note-taking. The data analyzed consist of words, phrases/sentences, and discourses found in the novel's text. The research findings at the word level include gender ideology categories of Naming and Androcentrism, and the Female Experience category: Euphemism and Taboo. Next, at the phrase/sentence level, gender ideology categories of Presupposition and Inference, and Metaphor and Simile were found. Finally, at the discourse level, forms of gender ideology in the categories of Character and Role, and Fragmentation were identified.The study also uncovers the intriguing finding that language participates in perpetuating stereotypes that harm women.