Silfanus Jemadin
Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKSISTENSI MORI KRAENG PADA MASYARAKAT MANGGARAI DALAM PERSPEKTIF TRANSENDENSI KARL JASPERS Fransiskus Bala Kleden; Silfanus Jemadin; Yohanes Baptista Angelino Galus; Bernardus Subang Hayong
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.376

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas eksistensi Mori Kraeng dalam perspektif filsafat Karl Jaspers.  Dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Manggarai, Mori Kraeng dianggap sebagai entitas transenden, wujud tertinggi dan pengatur kehidupan. Tujuan dari penulisan artikel ini ialah menjelaskan eksistensi Mori Kraeng dengan mengacu pada pemikiran Jasppers tentang Transendensi. Untuk mencapai tujuan ini, penelitian kualitatif dengan metode studi kepustakaan digunakan untuk menelusuri buku-buku dan artikel-artikel jurnal sebagai sumber primer dan sumber sekunder. Hasil yang ditemukan dalam penulisan artikel ini ialah pemikiran Jaspers tentang Transendensi, yang menyatakan bahwa pengalaman Transendensi terjadi dalam situasi batas dan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh akal, sejalan dengan cara masyarakat Manggarai berhubungan dengan Mori Kraeng. Dalam pandangan ini, kepercayaan terhadap Mori Kraeng bukan hanya menyentuh aspek budaya, melainkan juga berkenaan dengan sebuah pencarian eksistensial yang memberi makna dan arah hidup, terutama dalam menghadapi keterbatasan hidup, seperti penderitaan dan kematian. Simbolisme adat, seperti ritual syukur dan persembahan, menjadi jembatan untuk menghubungkan manusia dengan Mori Kraeng, yang merupakan realitas yang melampaui dunia imanen.
Keterlemparan Dasein Martin Heidegger dalam Era Digital: Distorsi dan Pergeseran Menuju Digi-sein Fransiskus Dose; Silfanus Jemadin; Flavianus Dakosta Sangguk; Yohanes Babtista Angelino Galus
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.5776

Abstract

Artikel ini dilatarbelakangi oleh transformasi eksistensi manusia di era digital yang menimbulkan keterbelahan antara kehadiran nyata dan virtual, sehingga memunculkan distorsi terhadap makna keterlemparan (Geworfenheit) dalam pemikiran Martin Heidegger. Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap bagaimana distorsi tersebut membentuk pergeseran eksistensi manusia menuju Digi-sein dalam dunia digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai literatur filosofis dan sumber yang relevan secara kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlemparan Dasein mengalami distorsi dalam dunia digital karena eksistensi manusia tidak lagi singular dan otentik, melainkan dapat direproduksi dan diviralkan; (2) kehadiran manusia terbelah antara ruang korporeal dan virtual melalui fenomena telepresence yang menciptakan ambiguitas eksistensi; (3) munculnya Digi-sein sebagai bentuk keberadaan baru menandai pergeseran dari In-der-Welt-sein (berada dalam dunia) menuju cara berada dalam dunia virtual. Kesimpulannya, eksistensi manusia dalam dunia digital tidak lagi sepenuhnya dapat dipahami dalam kerangka Dasein Heideggerian, melainkan menunjukkan bentuk keberadaan yang mengalami distorsi dan transformasi seiring perkembangan teknologi.