Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP DOXA DALAM BUDAYA BALI DAN MAKASSAR: KOMPARASI TEKS GEGURITAN JAYAPRANA DAN SINRILIK I DATUK MUSENG Rahmatia Ayu Widyaningrum
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 11 No. 1 (2024): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v11i1.6077

Abstract

Abstrak Tulisan ini mengungkapkan konsep doxa yang terdapat di dalam teks Geguritan Jayaprana dan Sinrilik I Datu Museng. Keduanya adalah teks yang berkisah tentang lingkungan istana yang memiliki legitimasi membangun konstruksi budaya. Geguritan yang berbentuk puisi dibacakan dengan cara ditembangkan, begitu pula dengan Sinrilik yang disampaikan melalui nyanyian atau deklamasi dengan iringan musik tradisional. Keduanya berasal dari dua budaya berbeda, yaitu Bali dan Makassar. Namun, kedua karya sastra ini menggambarkan konsep doxa yang dianggap sebagai sebuah kebenaran tanpa perlu diperdebatkan. Terdapat perbedaan wacana dalam konsep doxa keduanya. Dalam Geguritan Jayaprana, konsep doxa yang dipakai adalah wacana orthodoxy atas tunduknya Jayaprana terhadap titah raja dan pati wrata (bunuh diri) yang dilakukan oleh Ni Layonsari sebagai bentuk kesetiaan istri kepada suaminya. Berbeda halnya dengan kisah dalam Sinrilik I Datu Museng, konsep doxa yang terlihat adalah wacana heterodoxy dengan berusaha melawan nilai-nilai yang berlaku yang diberikan oleh kelompok dominan (penjajah). Budaya siri’ untuk membela harga diri adalah hal yang wajib dilakukan dalam tradisi Bugis dan Makassar, seperti halnya semangat puputan yang terjadi di Bali. Kata Kunci: Doxa, Geguritan, Sinrilik, Bali, Makassar. Abstract This article elaborates on the concept of doxa as portrayed in the texts Geguritan Jayaprana and Sinrilik I Datu Museng, originating from revered royal settings and carrying significant cultural weight. Geguritan is presented in poetic form, and recited through singing, while Sinrilik is conveyed through singing or declamation with traditional musical accompaniment. Despite their distinct cultural origins in Bali and Makassar, both texts exemplify doxa as an accepted truth that transcends debate. It is important to note the disparities in the discourse surrounding the concept of doxa within both texts. In Geguritan Jayaprana, the concept of doxa highlights the discourse of orthodoxy, emphasizing Jayaprana's adherence to the king's command and Ni Layonsari's pati wrata (suicide) as an expression of spousal loyalty. Conversely, in Sinrilik I Datu Museng, the concept of doxa is rooted in the discourse of heterodoxy, depicting resistance against the prevailing values of the dominant colonizers. The cultural practice of siri', aimed at defending one's honor, is an obligatory facet of Bugis and Makassar traditions, akin to the puputan spirit in Bali. Keywords: Doksa, Geguritan, Sinrilik, Bali, Makassar, This article elaborates on the concept of doxa as portrayed in the texts Geguritan Jayaprana and Sinrilik I Datu Museng, originating from revered royal settings and carrying significant cultural weight. Geguritan is presented in poetic form, and recited through singing, while Sinrilik is conveyed through singing or declamation with traditional musical accompaniment. Despite their distinct cultural origins in Bali and Makassar, both texts exemplify doxa as an accepted truth that transcends debate. The concept of doxa is investigated within the framework of genetic structuralism theory, also known as Pierre Felix Bourdieu's constructivist structuralism. It is important to note the disparities in the discourse surrounding the concept of doxa within both texts. In Geguritan Jayaprana, the concept of doxa highlights the discourse of orthodoxy, emphasizing Jayaprana's adherence to the king's command and Ni Layonsari's pati wrata (suicide) as an expression of spousal loyalty. Conversely, in Sinrilik I Datu Museng, the concept of doxa is rooted in the discourse of heterodoxy, depicting resistance against the prevailing values of the dominant colonizers. The cultural practice of siri', aimed at defending one's honor, is an obligatory facet of Bugis and Makassar traditions, akin to the puputan spirit in Bali. Keywords: Doksa, Geguritan, Sinrilik, Bali, Makassar,
Menentukan Waktu Terbaik: Etnoastronomi Orang Bugis Berdasarkan Naskah Kutika Abad XIX Rahmatia Ayu Widyaningrum; Priscila Fitriasih Limbong; Mamlahatun Buduroh; Tommy Christomy
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1537

Abstract

This study aims to map the ethnoastronomical structure and analyze the cosmological knowledge of the Buginese as represented in the Kutika Ugi’ Sakke Rupa (KUSR) manuscript. It employs a qualitative method with a philological-astronomical approach to bridge classical texts and the logic of traditional science. Data were collected through literature review and close reading of the Lontara-script manuscript, including stages of description, transcription, and transliteration. The data were analyzed using a descriptive-analytical approach by examining the structure and cosmological meanings of the Kutika Lima and Kutika Tujuh systems, as well as specific tables such as Kanjorona Masuwara and Putika Pa’kulu Jangé. The findings show that the KUSR manuscript presents a time system that functions as a form of social navigation to maintain harmony between the microcosm and macrocosm. This system demonstrates the standardization of local knowledge, integrating practical, symbolic, and spiritual dimensions into a unified framework, while reinforcing the position of Buginese ethnoastronomy as an adaptive and systematic form of traditional science. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memetakan struktur etnoastronomi dan menganalisis pengetahuan kosmologis masyarakat Bugis yang terepresentasi dalam naskah Kutika Ugi’ Sakke Rupa (KUSR). Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan filologi-astronomi untuk menjembatani teks klasik dengan logika sains tradisional. Data dikumpulkan melalui teknik studi pustaka dan pembacaan mendalam (close reading) terhadap naskah beraksara lontara’, yang meliputi tahap deskripsi, transkripsi, serta transliterasi teks. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan membedah struktur dan makna kosmologis pada sistem Kutika Lima dan Kutika Tujuh, serta tabel-tabel spesifik, seperti Kanjorona Masuwara dan Putika Pa’kulu Jangé. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah KUSR memuat sistem waktu yang berfungsi sebagai instrumen navigasi sosial untuk menjaga harmoni antara mikrokosmos dan makrokosmos. Sistem penentuan waktu dalam naskah ini membuktikan adanya standardisasi pengetahuan lokal yang mengintegrasikan dimensi praktis, simbolik, dan spiritual dalam satu kesatuan, sekaligus mempertegas posisi etnoastronomi Bugis sebagai bentuk sains tradisional yang adaptif dan sistematis.