Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA pada Siswa Ulinnuha, Najwa; Suharmanto, Suharmanto; Yunianto, Andi Eka
Journal of Language and Health Vol 5 No 3 (2024): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v5i3.5045

Abstract

Angka penyalahgunaan NAPZA masih tinggi baik di dunia maupun Indonesia. Pada tahun 2023, laporan dari UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) menunjukkan sekitar 5,6% populasi dunia, atau 296 juta orang di seluruh dunia dilaporkan menggunakan NAPZA (UNODC, 2023). Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) merupakan permasalahan serius yang dapat memengaruhi perkembangan generasi muda, khususnya siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan siswa dengan perilaku pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan kualitas tidur pada remaja di SMAN 5 Bandar Lampung. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan analisis observasional. Sampel penelitian berjumlah 350 siswa yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner penelitian sebelumnya yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Variabel independen adalah pengetahuan, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan adalah perilaku pencegahan penyalahgunaan NAPZA (p=0,017). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan adalah perilaku pencegahan penyalahgunaan NAPZA.
Efektifitas NSAID, Opioid dan Antibiotik pada Fraktur Terbuka dan Tertutup: TINJAUAN PUSTAKA Ulinnuha, Najwa; Nazher, Muhammad; Oktarlina, Rasmi Zakiah
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.21083

Abstract

ABSTRACT Open and closed fractures are common bone injuries caused by trauma such as traffic or occupational accidents. Management involves not only bone stabilization but also pain control and infection prevention. Antibiotics, opioids, and NSAIDs are the main classes of drugs used in fracture therapy, though their effectiveness and associated risks remain important subjects of ongoing study. This study is a literature review of 17 articles published between 2016 and 2024, sourced from PubMed, NCBI, and Google Scholar. The analysis was conducted to evaluate the effectiveness and safety of these three drug classes. Antibiotics such as cefazolin and ceftriaxone are effective in preventing infection when administered within the first three hours post-injury. Opioids are highly effective for managing severe pain but carry risks of addiction and systemic side effects. NSAIDs are suitable for moderate pain management but may impair bone healing by inhibiting multimodalprostaglandin synthesis. Antibiotics, opioids, and NSAIDs each play a critical role in the management of open and closed fractures. Treatment choices should be based on fracture type, clinical condition, and a careful assessment of the risks and benefits of each drug. Evidence-based clinical guidelines and further research are needed to support safer and more effective therapeutic practices. Keywords: Fracture, NSAIDs, Opioids, Antibiotics, Pain Management, Infection  ABSTRAK Fraktur terbuka dan tertutup merupakan cedera tulang yang sering terjadi akibat trauma seperti kecelakaan lalu lintas dan kerja. Penanganan tidak hanya fokus pada perbaikan tulang, tetapi juga pengendalian nyeri dan pencegahan infeksi. Antibiotik, opioid, dan NSAID adalah kelompok obat utama yang digunakan dalam terapi fraktur, namun efektivitas dan risikonya masih menjadi bahan kajian penting. Studi ini merupakan tinjauan literatur terhadap 15 artikel dari tahun 2016 hingga 2024 yang diakses melalui PubMed, NCBI, dan Google Scholar. Analisis dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan tiga kelompok obat tersebut. Antibiotik seperti Sefazolin dan seftriakson efektif mencegah infeksi jika diberikan dalam tiga jam pertama pasca kecelakaan. Opioid bekerja baik untuk nyeri berat namun berisiko adiksi dan gangguan sistemik. NSAID efektif untuk nyeri sedang, tetapi dapat menghambat penyembuhan tulang. Ketiga kelompok obat, yaitu antibiotik, opioid, dan NSAID, memiliki peran penting dalam penanganan fraktur terbuka dan tertutup. Pemilihan terapi harus mempertimbangkan jenis fraktur, kondisi klinis pasien, serta risiko dan manfaat masing-masing obat. Diperlukan pedoman klinis berbasis bukti dan penelitian lanjutan untuk mendukung penggunaan yang lebih tepat, aman, dan efektif dalam praktik kedokteran. Kata Kunci: Fraktur, NSAID, Opioid, Antibiotik, Manajemen Nyeri, Infeksi
Efektivitas diet bebas gluten dalam menurunkan gejala dan peradangan mukosa pada celiac disease⁠: A systematic review Ulinnuha, Najwa; Djausal, Anisa Nuraisa; Tampubolon, Lydia Theresia; Zuraida, Reni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Celiac disease is a chronic autoimmune disorder triggered by gluten consumption, leading to persistent intestinal inflammation, villous atrophy, and a wide range of gastrointestinal and extraintestinal symptoms. If left untreated, ongoing mucosal damage may result in malabsorption and long-term complications. A gluten-free diet (GFD) is currently the only established therapeutic approach; however, its effectiveness in alleviating clinical symptoms and promoting mucosal healing requires comprehensive evaluation. Purpose: To systematically review scientific evidence regarding the effectiveness of a gluten-free diet in reducing clinical symptoms and intestinal mucosal inflammation in patients with celiac disease. Method: This was a systematic literature review conducted based on the PRISMA guidelines. A literature search was conducted through PubMed, Scopus, and Web of Science databases using keywords related to celiac disease and gluten-free diets for the period 2019–2025. Results: Ten articles met the inclusion criteria. The study results showed that adherence to a gluten-free diet was associated with a significant reduction in gastrointestinal symptoms, a decrease in serological inflammatory markers, and histopathological improvement in the intestinal mucosa, including villous regeneration and decreased intraepithelial lymphocyte infiltration. Conclusion: A gluten-free diet is an effective primary intervention in controlling celiac disease activity, characterized by a reduction in clinical symptoms, improvement in inflammatory markers, and restoration of the intestinal mucosa..   Keywords: Celiac Disease; Gluten-Free Diet; Intestinal Inflammation; Mucosal Healing; Systematic Review.   Pendahuluan: Penyakit celiac adalah gangguan autoimun kronis yang dipicu oleh konsumsi gluten yang menyebabkan peradangan usus yang terus-menerus, atrofi vili, dan berbagai gejala gastrointestinal dan ekstra gastrointestinal. Apabila tidak diobati, kerusakan mukosa yang berkelanjutan dapat mengakibatkan malabsorpsi dan komplikasi jangka panjang. Gluten-Free Diet (GFD) saat ini merupakan satu-satunya pendekatan terapeutik yang telah terbukti; namun efektivitasnya dalam mengurangi gejala klinis dan mendorong penyembuhan mukosa memerlukan evaluasi komprehensif. Tujuan: Untuk meninjau dan mensintesis bukti ilmiah mengenai efektivitas diet bebas gluten dalam menurunkan gejala klinis dan peradangan mukosa usus pada pasien dengan celiac disease melalui pendekatan systematic literature review. Metode: Penelitian systematic literature review yang disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed, Scopus, dan Web of Science menggunakan kata kunci terkait celiac disease dan gluten-free diet pada periode 2019–2025. Hasil: Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap diet bebas gluten berhubungan dengan penurunan signifikan gejala gastrointestinal, penurunan marker inflamasi serologis, serta perbaikan histopatologi mukosa usus berupa regenerasi vili dan penurunan infiltrasi limfosit intraepitel. Simpulan: Diet bebas gluten merupakan intervensi utama yang efektif dalam mengendalikan aktivitas penyakit celiac, ditandai dengan penurunan gejala klinis, perbaikan marker inflamasi, serta pemulihan mukosa usus.   Kata Kunci: Diet Bebas Gluten; Penyakit Celiac; Penyembuhan Mukosa; Peradangan Usus; Tinjauan Sistematis