Djausal, Anisa Nuraisa
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penggunaan Probiotik sebagai Terapi Adjuvan pada Inflammatory Bowel Disease (IBD): Suatu Tinjauan Sistematis Hafizh, Ahmad Fauzan; Widjaja, Jovan; Prayogi, Norbertus Marcell; Djausal, Anisa Nuraisa; Graharti, Risti
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.828

Abstract

Pendahuluan: Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan kelompok penyakit inflamasi kronis pada saluran pencernaan. Terapi konvensional seperti aminosalisilat dan kortikosteroid seringkali menimbulkan efek samping dan belum optimal dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Probiotik mulai dilirik sebagai terapi adjuvan karena potensinya dalam memodulasi mikrobiota usus dan respons imun. Tinjauan ini bertujuan mengevaluasi efektivitas probiotik sebagai terapi tambahan pada pasien IBD. Metode: Tinjauan sistematis ini disusun berdasarkan pedoman PRISMA dengan pencarian literatur pada PubMed, Science Direct, dan Scopus. Studi yang diinklusikan adalah uji klinis terkontrol acak (RCT) lima tahun terakhir yang membandingkan probiotik dengan plasebo atau terapi standar pada pasien IBD. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik studi, jenis dan dosis probiotik, lama perlakuan, serta outcome klinis, imunologis, dan kualitas hidup. Pembahasan: Delapan studi RCT terpilih menunjukkan bahwa pemberian probiotik atau sinbiotik, khususnya multi-strain seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium, secara konsisten meningkatkan remisi klinis, menurunkan skor aktivitas penyakit, memperbaiki parameter inflamasi (penurunan IL-6, IL-8, TNF-?), perbaikan status nutrisi (BMI, albumin), dan kualitas hidup pasien (skor IBDQ, SF-36). Simpulan: Probiotik terbukti bermanfaat sebagai terapi adjuvan pada pasien IBD ringan hingga sedang, baik dalam meningkatkan remisi klinis, menurunkan inflamasi, maupun memperbaiki kualitas hidup dan status nutrisi. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan strain, dosis, dan durasi terapi probiotik yang paling optimal pada populasi IBD.
Efektivitas diet bebas gluten dalam menurunkan gejala dan peradangan mukosa pada celiac disease⁠: A systematic review Ulinnuha, Najwa; Djausal, Anisa Nuraisa; Tampubolon, Lydia Theresia; Zuraida, Reni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Celiac disease is a chronic autoimmune disorder triggered by gluten consumption, leading to persistent intestinal inflammation, villous atrophy, and a wide range of gastrointestinal and extraintestinal symptoms. If left untreated, ongoing mucosal damage may result in malabsorption and long-term complications. A gluten-free diet (GFD) is currently the only established therapeutic approach; however, its effectiveness in alleviating clinical symptoms and promoting mucosal healing requires comprehensive evaluation. Purpose: To systematically review scientific evidence regarding the effectiveness of a gluten-free diet in reducing clinical symptoms and intestinal mucosal inflammation in patients with celiac disease. Method: This was a systematic literature review conducted based on the PRISMA guidelines. A literature search was conducted through PubMed, Scopus, and Web of Science databases using keywords related to celiac disease and gluten-free diets for the period 2019–2025. Results: Ten articles met the inclusion criteria. The study results showed that adherence to a gluten-free diet was associated with a significant reduction in gastrointestinal symptoms, a decrease in serological inflammatory markers, and histopathological improvement in the intestinal mucosa, including villous regeneration and decreased intraepithelial lymphocyte infiltration. Conclusion: A gluten-free diet is an effective primary intervention in controlling celiac disease activity, characterized by a reduction in clinical symptoms, improvement in inflammatory markers, and restoration of the intestinal mucosa..   Keywords: Celiac Disease; Gluten-Free Diet; Intestinal Inflammation; Mucosal Healing; Systematic Review.   Pendahuluan: Penyakit celiac adalah gangguan autoimun kronis yang dipicu oleh konsumsi gluten yang menyebabkan peradangan usus yang terus-menerus, atrofi vili, dan berbagai gejala gastrointestinal dan ekstra gastrointestinal. Apabila tidak diobati, kerusakan mukosa yang berkelanjutan dapat mengakibatkan malabsorpsi dan komplikasi jangka panjang. Gluten-Free Diet (GFD) saat ini merupakan satu-satunya pendekatan terapeutik yang telah terbukti; namun efektivitasnya dalam mengurangi gejala klinis dan mendorong penyembuhan mukosa memerlukan evaluasi komprehensif. Tujuan: Untuk meninjau dan mensintesis bukti ilmiah mengenai efektivitas diet bebas gluten dalam menurunkan gejala klinis dan peradangan mukosa usus pada pasien dengan celiac disease melalui pendekatan systematic literature review. Metode: Penelitian systematic literature review yang disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed, Scopus, dan Web of Science menggunakan kata kunci terkait celiac disease dan gluten-free diet pada periode 2019–2025. Hasil: Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap diet bebas gluten berhubungan dengan penurunan signifikan gejala gastrointestinal, penurunan marker inflamasi serologis, serta perbaikan histopatologi mukosa usus berupa regenerasi vili dan penurunan infiltrasi limfosit intraepitel. Simpulan: Diet bebas gluten merupakan intervensi utama yang efektif dalam mengendalikan aktivitas penyakit celiac, ditandai dengan penurunan gejala klinis, perbaikan marker inflamasi, serta pemulihan mukosa usus.   Kata Kunci: Diet Bebas Gluten; Penyakit Celiac; Penyembuhan Mukosa; Peradangan Usus; Tinjauan Sistematis