Bukhari, Ach Baidlawi
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Menikah atau Nanti Dulu? : Dilema Milenial Indonesia Antara Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2004 dengan Mahalnya Resepsi Pernikahan Bukhari, Ach Baidlawi; Rahman, Taufikur
Syura: Journal of Law Vol. 2 No. 2 (2024): August
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58223/syura.v2i2.258

Abstract

Penelitian ini untuk mengetahui dampak yang dialami oleh generasi melinial terhadap biaya perniakahan yang mahal serta faktor yang memengaruhi terhadap mahalnya biaya pernikahan tersebut cara mengatasinya. Penelitian ini merupakan sebuah penelitan lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data ditunjukkan dalam bentuk deskripsi terhadap fakta-fakta yang ditemukan di lapangan melalui proses observasi, wawancara dan dokumtasi terhada beberapa sumber, baik yang jenisnya primer maupun sekunder.Hasilnya dala penelitian ini menyebutkan, bahwa jikaa mengikuti aturan perundang-undangan, biaya akad nikah tersebut gratis dan hanya dikenakan Rp.600.000 apabila dilangsngkan di luar KUA sebagai uang profesi dan transportasi. Namun budaya, gengsi dan mahalnya bahan pokok menjadi faktor terhadap mahalnya prosesi pernikahan saat ini, sehingga keadaan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap generasi melinial untuk segera memutuskan untuk menikah, namun hal tersebut dapat diselesaikan dengan berkomunikasi antar keluarga mempelai, sehingga dapat mengurangi biaya pernikahan.
TRADISI KOLOMAN JUMAT MANIS DAN PENGUATAN SILATURAHMI MASYARAKAT (STUDI KASUS DESA BAKEONG KECAMATAN GULUK-GULUK KABUPATEN SUMENEP) Bukhari, Ach Baidlawi; Faisol, Ach; Ubaidillah, M. Hasan
As-Syifa: Journal of Islamic Studies and History Vol. 4 No. 2 (2025): JULI
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Koloman Jumat Manis di Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, merupakan salah satu warisan budaya lokal yang masih lestari di tengah arus modernisasi. Tradisi ini tidak hanya memiliki dimensi religius, tetapi juga menjadi media penguatan silaturahmi antarwarga. Fenomena ini menarik untuk dikaji mengingat peran tradisi lokal dalam membangun kohesi sosial dan menjaga identitas budaya masyarakat. Penelitian ini berangkat dari dua rumusan masalah, yaitu: (1) Bagaimana pelaksanaan tradisi Koloman Jumat Manis di Desa Bakeong? (2) Bagaimana peran tradisi tersebut dalam penguatan silaturahmi masyarakat? Melalui kajian ini diharapkan dapat diperoleh gambaran utuh mengenai proses pelaksanaan serta kontribusi tradisi tersebut terhadap kehidupan sosial masyarakat, sekaligus memahami strategi pelestarian yang relevan di era modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara serta dokumentasi kegiatan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan teknik triangulasi sumber untuk menjaga validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Koloman Jumat Manis dilakukan setiap Jumat terakhir dalam penanggalan Jawa (Jumat Manis atau Jumat Legi) secara rutin dan bergilir di rumah warga atau tempat ibadah. Kegiatan meliputi pembacaan surah Yasin, tahlil, doa bersama, pengajian singkat, dan makan bersama. Tradisi ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial maupun usia, sehingga menjadi media efektif dalam mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas, dan menyelesaikan persoalan secara musyawarah. Selain itu, tradisi ini berfungsi sebagai sarana transfer nilai dan norma kepada generasi muda. Tantangan modernisasi diatasi dengan inovasi kegiatan dan pelibatan generasi muda agar tradisi tetap relevan.
TRADISI LALABET KEPADA ORANG YANG MENINGGAL DUNIA DI MADURA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Bukhari, Ach Baidlawi
As-Syifa: Journal of Islamic Studies and History Vol. 5 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/assyifa.v5i1.1814

Abstract

Abstrak Tradisi lalabet kepada orang yang meninggal dunia merupakan salah satu praktik budaya-religius yang masih dijumpai di sebagian masyarakat Madura. Tradisi ini biasanya dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir, permohonan keselamatan bagi keluarga yang ditinggalkan, serta harapan agar arwah almarhum mendapatkan ketenangan. Namun, praktik lalabet sering menimbulkan perdebatan dalam perspektif hukum Islam, terutama terkait batas antara tradisi yang dibolehkan dan praktik yang berpotensi menyimpang dari prinsip tauhid. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tradisi lalabet kepada orang meninggal dunia di Madura melalui pendekatan normatif-sosiologis, dengan menganalisis latar belakang historis, bentuk pelaksanaan, nilai sosial-keagamaan, serta penilaiannya dalam perspektif hukum Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi lalabet dapat diterima dalam Islam apabila dipahami sebagai simbol budaya dan sarana doa kepada Allah SWT, namun menjadi terlarang apabila mengandung unsur syirik, tahayul, dan keyakinan adanya kekuatan selain Allah.