Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemaknaan Fashion Thrift sebagai Komunikasi: Studi Kasus Pelanggan Toko Seventysix.Store Tangerang Nurapriyanti, Tia; Hartono, Fransiskus Christopher
JBSI: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 3 No. 01 (2023): Artikel Riset Periode Mei 2023
Publisher : Information Technology and Science(ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jbsi.v3i01.2772

Abstract

Fashion bukan hanya untuk gaya, melainkan ada pesan khusus yang di sampaikan lewat apa yang dikenakan. Makna komunikasi Verbal dan Non-Verbal tak luput dari fashion. Oleh karena itu sangat menarik untuk diteliti bagaimana pelanggan sevensix.store dalam memaknai apa yang mereka pakai. Terlebih toko Sevensix.store ini menjual fashion jenis trift. Penelitian ini menggunakan pendekatan Fenomenologi dengan metode jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara serta dokumentasi. Penulis menggunakan teori Pemaknaan, Komunikasi Non Verbal dan Gaya Hidup. Adapun hasil penelitiannya adalah makna yang tersirat dari Fashion thrift sebagaikomunikasi adalah Emblems of the soul: pakaian menjadi “perlambang jiwa”, The language of Fashion “busana selayaknya bahasa”, Use value: Memakai busana bukan karena kegunaan, Fashion and clothing are form of non-verbal dan communication in that they do not use spoken or written words, A culture of spectacle: Ingin melihat tapi sekaligus juga dilihat. Dan kesimpulannya, Thrift bukan hanya tentang pakaian bekas, akan tetapi Thrift memiliki value tersendiri dalam pemaknaan dari setiap orang yang memakainya. Mereka memakai thrift ini merasa keren saat menggunakanya, serta menurut mereka memakai trifh adalah salah satu bentuk melindungi bumi dari limbah.
Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Media Pemasaran di Daerah Wisata Kuliner (Studi Kasus: Kampoeng Kuliner) Beata, Shenny Ayunuri; Simamora, Riris Mutiara Paulina; Nurapriyanti, Tia; Gunawan, Adih Cahyadi; Yusticio, Juan Michael
RUBINSTEIN Vol. 2 No. 1 (2023): RUBINSTEIN (juRnal mUltidisiplin BIsNis Sains TEknologI & humaNiora)
Publisher : LP3kM Buddhi Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31253/rubin.v2i1.2655

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi strategi pemasaran Kampoeng Kuliner melalui empat platform media sosial utama: Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok. Dengan pendekatan Marketing Public Relations (Marketing PR) dan konsep E-Business, penelitian ini bertujuan untuk memahami peran media sosial sebagai alat efektif dalam membangun hubungan positif dengan masyarakat, meningkatkan citra, dan memberikan kontribusi ekonomi pada tingkat lokal. Pendekatan Marketing PR menjadi kunci dalam konteks pemasaran melalui media sosial, memungkinkan Kampoeng Kuliner berkomunikasi efektif dengan masyarakat setempat, menciptakan citra positif, dan meningkatkan dukungan. Konsep E-Business memainkan peran penting dalam inovasi pemasaran Kampoeng Kuliner, memanfaatkan teknologi digital dan media sosial sebagai alat pemasaran efektif untuk memperluas eksposur dan pendapatan bisnis. Dengan meningkatkan popularitas Kampoeng Kuliner melalui promosi media sosial, bisnis ini dapat menarik lebih banyak pengunjung, meningkatkan pendapatan bagi pemilik usaha lokal, pedagang makanan, dan penyedia layanan lainnya. Kesuksesan bisnis seperti Kampoeng Kuliner dapat membantu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan ekonomi di wilayah tersebut. Melalui promosi kuliner dan budaya lokal di media sosial, Kampoeng Kuliner memperkenalkan masyarakat setempat kepada berbagai jenis hidangan, merangsang minat dalam keberagaman kuliner dan budaya dalam komunitas. Dengan menampilkan keindahan dan pesona Kampoeng Kuliner, bisnis ini dapat meningkatkan citra dan daya tarik wilayah sebagai tujuan wisata, menarik lebih banyak wisatawan untuk menghabiskan uang di sekitar Kampoeng Kuliner, termasuk di akomodasi, toko suvenir, dan atraksi lainnya. Sebagai hasilnya, penelitian ini mendalam tentang dampak positif pemanfaatan media sosial dalam pemasaran Kampoeng Kuliner, dengan fokus pada interaksi Marketing PR dan konsep E-Business, diharapkan memberikan panduan praktis untuk meningkatkan strategi pemasaran melalui media sosial bagi bisnis sejenis, serta memberikan kontribusi positif pada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Analisis Konstruksi Citra Maskulinitas pada Merek Perawatan Wajah Pria di Indonesia Satrio, Sello; Pratama, Alfian; Handayani, Widhia Seni; Ghanistyana, Lathifa Prima; Nurapriyanti, Tia
Petanda: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Humaniora Vol 7, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/petanda.v7i3.6014

Abstract

The significant growth of the men's facial care market in Indonesia has triggered dynamic shifts that challenge the traditional hegemonic masculinity construction in the digital space. This study aims to deeply analyze how three prominent men's facial care brands (Kahf, MS Glow for Men, and Nivea Men) construct images of masculinity through their digital communication strategies, and to identify the patterns of meaning acceptance and negotiation by the audience. Employing a qualitative netnography approach, the core finding reveals that, instead of collapsing, hegemonic masculinity is locally negotiated, resulting in the conceptual model of Locally Negotiated Masculinity. This digital masculinity only accepts grooming practices through three strict justification mechanisms: Functional Justification (linking appearance as Professional Somatic Capital), Spiritual Justification (as Pious Consumption), and Non androgyny Boundary Negotiation which explicitly rejects the East Asian flower boy image. This model serves as a theoretical contribution to gender and digital communication studies in Southeast Asia, challenging Western metrosexual perspectives. The practical implication is that brands must integrate functional and spiritual narratives to legitimize the use of their products in this culturally sensitive market.