Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Konsep Komunikasi dalam Kisah Ashabul Kahfi : (Analisis Interpretasi QS. Al-Kahfi Ayat 10 - 21) Ita Silviani; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid; M. Mukhid Mashuri
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2025): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/takwiluna.v6i1.1914

Abstract

The Qur'an provides guidance through stories, including the story of Ashabul Kahfi in Surah Al-Kahfi Verses 10, 11, 14, 15, 16, 19, 20, 21 which describes communication between the young men in difficult situations. This study aims to examine the concept of communication in the story, including the form, value, and scope of communication carried out by the young Ashabul Kahfi. The method used is the Tahlili Method, by analyzing the meaning of the verses, asbabun nuzul, munasabah between verses, as well as the mufradat and beauty of the Arabic language in the verses. The results of this study indicate that the story of Ashabul Kahfi contains types of communication in the form of verbal when discussing between young men, and non-verbal when running away from King Diqyanus. The form of communication in this story includes transcendental communication in the form of prayer to Allah. In addition to the types of communication in the story of Ashabul Kahfi, the author also found the principle of their honesty when communicating with King Diqyanus when asking about their faith, so that it can give birth to a concept of communication that prioritizes honesty, courage and solidarity.
QOLBUN SALIM DALAM AL-QUR’AN (Kajian tafsir muqorin perspektif tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghaib dan Tafsir al-Mishbah) Achmad Syarwani Abdan; Miftara Ainul Mufid
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 2 No. 6 (2025): Jurnal Ilmiah Nusantara
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v2i6.6332

Abstract

This study examines the concept of Qolbun Salim in the Qur’an through a comparative tafsir (muqāran) analysis between Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghaib by Fakhruddin al-Razi and Tafsir al-Mishbah by M. Quraish Shihab. The research adopts a qualitative approach using library research, focusing on primary sources such as the Qur’an and the two tafsir works, as well as secondary sources including books, scholarly articles, and related Islamic literature. The analysis compares relevant Qur’anic verses, hadith, and scholars’ interpretations to identify similarities and differences. The findings reveal that Fakhruddin al-Razi defines Qolbun Salim as a heart free from spiritual diseases, polytheism, and hypocrisy, fully devoted to Allah. Quraish Shihab interprets it as a heart safe from moral and spiritual corruption, characterized by sincerity, tranquility, and obedience to Allah. Both agree that Qolbun Salim is a prerequisite for salvation in the Hereafter, but they differ in emphasizing theological versus psychological aspects. In conclusion, this study highlights the importance of heart purification in enhancing a Muslim’s spiritual and moral quality.
Meyakini Qadha’ dan Qadar dalam Al-Qur’andan Relevansinya dengan Ketenangan Jiwa Maulidya, Fariha Putri; Fariha Putri; Wiwin Ainis Rohtih; Ahmad Zainuddin; Miftara Ainul Mufid
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.26915

Abstract

Qadha’ dan qadar merupakan konsep penting dalam ajaran Islam yang berkaitan dengan takdir atau ketentuan Allah terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Iman kepada qadha’ dan qadar merupakan rukun iman ke-6 dan umat Islam wajib mengimaninya. Qadha’ merupakan suatu ketentuan Allah SWT atas segala sesuatu yang di dalamnya terdapat suatu kehendak Allah SWT. Sedangkan qadar merupakan suatu perwujudan atas kehendak, ketentuan maupun ukuran Allah SWT atas segala sesuatunya. Tulisan ini bertujuan mengulas mengenai konsep qadha’ dan qadar dalam al-Qur’an dan kolerasinya dengan ketenangan jiwa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-kepustakaan, dengan sumber data primer dari al-Qur’an serta menggunakan metode tafsir maudhu’i. Dengan demikian, tulisan ini menunjukkan bahwa konsep ketenangan jiwa sangat berpengaruh terhadap keyakinan kepada qadha’ dan qadar yang dijelaskan al-Qur’an, di mana seseorang akan merasa lebih tenang dalam menerima segala ketentuan dan ketetapan yang dialaminya. Keimanan kepada qadha’ dan qadar memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari karena memungkinkan seseorang untuk menerima takdir dengan ikhlas, mengatasi stres dan tetap sabar menghadapi tantangan hidup. Tulisan ini berkontribusi dalam memberikan pemahaman nilai-nilai keislaman yang dapat berpengaruh terhadap ketenangan pikiran dan pengelolaan kekhawatiran.
Integritas Figur Teladan dalam Al-Qur’an dan Relevansinya Terhadap Kepercayaan Publik Ach. Riefqy An Nabawy; Wiwin Ainis Rohtih; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 10 No. 1 (2026): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v10i1.554

Abstract

Krisis kepercayaan publik terhadap pemimpin dan institusi sosial berkaitan erat dengan ketidaksesuaian antara klaim moral dan perilaku nyata. Kajian terdahulu tentang integritas dalam Islam umumnya membahas kejujuran, amanah, keadilan, atau keteladanan secara terpisah, sementara hubungan kausal antara integritas Qur’ani, keteladanan profetik, dan kepercayaan publik belum dirumuskan secara sistematis melalui tafsir maudhu’i. Artikel ini menganalisis konsep integritas dalam Al-Qur’an melalui nilai ṣidq, amanah, ‘adl, dan wafā’ bil-‘ahd, serta menjelaskan aktualisasinya pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir maudhu’i melalui penghimpunan ayat, telaah konteks penafsiran, analisis tafsir klasik dan kontemporer, serta sintesis dengan teori kepercayaan publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas Qur’ani tidak sekadar moralitas individual, tetapi mekanisme relasional yang membentuk kredibilitas sosial dan legitimasi publik. Kebaruan penelitian terletak pada formulasi integritas Qur’ani sebagai model kausal yang menghubungkan moralitas personal, keteladanan profetik, dan kepercayaan publik.