Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENGEMBANGAN POTENSI LOKAL MELALUI PEMBERDAYAAN LINGKUNGAN DAN UMKM PADA MASYARAKAT PESISIR Muhammad Nizar; Mukhid Mashuri

Publisher : LPPM Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.729 KB) | DOI: 10.35891/js.v1i1.1241

Abstract

Changes in the behavior of housewives before training and some mentoring are the emergence of awareness of housewives, who are members of the PKK organization, in increasing family profits, before training and mentoring, mothers still do not understand in making shrimp nuggets, where most of the results, shrimp are only sold conventionally, at low prices. But after the implementation of training and mentoring, can produce nuggets that are better and better, because they already understand about good nuggets making techniques. In addition, it increases awareness of the importance of the role of housewives in helping family income income which is no longer the responsibility of the husband alone. Training and counseling in the manufacture of shrimp nuggets in the future can be followed up to continue mentoring, so that from home products can be an extraordinary home industry. Home industry can be in the sense that it can be managed individually or as a group of mothers from Tambak Lekok residents. If home industry, especially individually and carried out mentoring continues, it is possible to submit the legalization of the Certificate of Household Industry Food Products (SPP-IRT), namely by utilizing the results of Technology owned by the University of Yudharta Pasuruan in the context of downstreaming.
Analisis Nikah Siri Dalam Perspektif Psikologi Dan Sosiologi Hukum Keluarga Islam Mashuri Mashuri
JAWI : Journal of Ahkam Wa Iqtishad Vol. 1 No. 2 (2023): JAWI - JUNI
Publisher : MUI Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan sebuah analisis mendalam terhadap fenomena pernikahan siri dalam konteks hukum keluarga Islam, dengan pendekatan psikologi dan sosiologi. Pernikahan siri, meskipun secara hukum kerap dianggap kontroversial, tetap menjadi praktik yang signifikan dalam masyarakat yang menganut Islam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor psikologis dan sosial yang memengaruhi keputusan individu untuk melakukan pernikahan siri, serta dampaknya terhadap struktur keluarga dan masyarakat secara lebih luas. Dalam analisis psikologis, penelitian ini akan menggali motivasi dan faktor-faktor emosional yang mendorong individu untuk memilih pernikahan siri sebagai alternatif dalam memenuhi kebutuhan mereka dalam konteks hubungan intim. Sementara dalam analisis sosiologis, penelitian ini akan memeriksa dampak sosial dan normatif dari pernikahan siri terhadap struktur sosial masyarakat Islam, termasuk bagaimana hal ini memengaruhi status perempuan dan anak-anak dalam keluarga dan masyarakat.Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan wawasan yang lebih baik tentang fenomena pernikahan siri dalam masyarakat Islam, serta menyediakan dasar bagi perubahan dan penyempurnaan hukum keluarga Islam yang relevan dengan realitas sosial dan psikologis yang berkembang. Penelitian ini juga dapat menjadi acuan untuk pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana praktik pernikahan siri dapat diintegrasikan atau diatur lebih baik dalam kerangka hukum dan norma-norma sosial yang ada.
Hukum Keluarga Islam Melayu di Brunei Darussalam Mashuri Mashuri
JAWI : Journal of Ahkam Wa Iqtishad Vol. 1 No. 3 (2023): JAWI - SEPTEMBER
Publisher : MUI Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.8397720

Abstract

Hukum keluarga merupakan inti syari’ah dan memiliki posisi penting dalam Islam. Umat Islam beranggapan bahwa hukum keluarga merupakan pintu gerbang untuk mendalami agama Islam. Karena itulah hukum keluarga diakui sebagai dasar dalam pembentukan masyarakat Muslim. Secara global disebutkan hanya dalam hukum keluarga, syari’at Islam berlaku bagi banyak bahkan seluruh umat Islam di dunia.Namun, perkembangan zaman serta perubahan kondisi dalam kehidupan membuat hukum yang telah ditetapkan dalam Nash atau Ulama-ulama fikih mengalami pembaharuan. Pembaharuan hukum keluarga di berbagai negara Islam tidak lepas dari dinamika reformasi yang ingin melakukan unifikasi hukum baik untuk menyatukan dua madzhab besar (Sunni dan syi’i) atau menyatukan berbagai agama. Salah satu negara di Asia Tenggara yang melakukan pembaharuan hukum keluarga adalah Brunei Darussalam. Dalam MIB (Melayu Islam Beraja) yang merupakan ideologi negara Brunei Darussalam termaktub di dalamnya penetapan ahl Sunnah wal jama’ah (dari sisi akidahnya) dan madzhab Syafi’i (dari sisi fikihnya). Tuntutan melakukan pengembangan dan pembaharuan terhadap hukum keluarga akibat perkembangan zaman Akan terus dilakukan jika dirasa ketentuan hukum klasik sudah tidak dapat menyelesaikan permasalahan di era modern ini.
TAHADDUTH BI AL-NI’MAH DAN RELEVANSINYA TERHADAP ETIKA BERMEDIA SOSIAL DALAM AL-QUR’AN (Analisis Tafsir Maqashidi) Muflikhatul Ummah; Wiwin Ainis Rohtih; Mukhid Mashuri; Miftara Ainul Mufid
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i1.748

Abstract

Istilah tahadduhth bi al-Ni’mah adalah menunjukkan hal positif yang dapat menjadi contoh agar dapat ditiru orang lain. Dalam zaman canggih ini media sosial menjadi salah satu cara agar hal tersebut dapat diterapkan dan meminimalisir berbagai fenomena media sosial seperti swafoto maupun flexing atau kegiatan pamer dan branding diri lainnya. Dari penelitian ini akan diulas terkait makna tahadduth bi al-Ni’mah dan juga etika terhadap media sosial yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’an untuk mengetahui urgensi dan nilai maqashid secara mendalam. Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan metode maudhu’i dengan mengumpulkan ayat terkait etika media sosial dan tahadduth bi al-Ni’mah kemudian menggunakan sudut pandang tafsir maqashidi untuk menguak signifikansi maqashid (ideal moral) dari literal teks yang eksplisit (al-manthuq bih) hingga literal teks yang implisit (al-maskut anh) untuk mengetahui maksud perintah maupun larangan al-Qur’an lebih dalam lagi. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat nilai maqashid syari’ah yang terdiri dari maqashid zahir dan maqashid bathin dengan nilai dlaruriyyat hifdz din agar selalu bersyukur sekaligus terhindar dari kufur nikmat dan hifdz aql agar senantiasa berfikir kritis dan menjaga etika bermedia sosial agar menjadi ahsanu qaulan terhadap unggahan yang diposting di media sosial.
RELEVANSI MODEL KEPEMIMPINAN FIR’AUN DENGAN MASA KINI (Penerapan Metode Integrasi Terhadap Ayat Kisah QS. al-A’raaf: 127-129) Meilia Verisa; Mukhid Mashuri; Wiwin Ainis Rohtih; Miftara Ainul Mufid
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i2.749

Abstract

Salah satu tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan adalah menjadi khalifah atau pemimpin di dunia, agar dapat menciptakan kemakmuran di bumi. Namun, bagaimana jika manusia-manusia yang diharapkan ini malah menimbulkan banyak kerusakan? Adapun diantara penyebab kerusakan di bumi adalah banyaknya tindak kesewenang-wenangan para pemimpin. Dampak dari tindakan ini tidak hanya berakibat buruk bagi pelaku itu sendiri, namun juga mengakibatkan tatanan masyarakat dan negara yang tengah dipimpin menjadi kacau balau. Seiring berjalannya waktu, mulai dari zaman kenabian hingga saat ini, ada banyak kasus mengenai tindak kesewenang-wenangan pemimpin, bahkan di dalam al-Qur`an pun dicantumkan tentang hal tersebut. Salah satu tokoh dalam al-Qur`an yang terkenal kekejamannya semasa menjadi pemimpin adalah Ramses II, yaitu pemimpin yang juga mendapat julukan Fir’aun pada masa Nabi Musa AS. Ramses II dikenal sebagai pemimpin yang mengelompokkan kalangan masyarakat menjadi beberapa bagian, artinya terdapat golongan paling bawah yang menjadi budaknya, bekerja tanpa henti dan tidak mendapatkan imbalan yang setimpal, dan ada beberapa tindak kekejaman yang dilakukannya. Meskipun begitu, Ramses II pada saat itu juga mampu memberikan kemakmuran untuk negara Mesir yang dipimpin olehnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kembali tentang kepemimpinan Fir’aun dan menghubungkannya dengan masa kini. Dengan begitu, penulis menggunakan metode integrasi hermeneutika milik Fazlur Rahman sehingga dapat membantu penelitian ini untuk merelevansikan fenomena-fenomena yang ada di masa kini dengan apa yang terjadi pada masa tersebut.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, klaim atas pemerintah Indonesia yang disebut tirani atau diktator sebagaimana sebutan untuk Fir’aun pada masanya tidaklah benar. Memang, ada sebagian tindakan pemerintah yang bertindak semena-mena tanpa memikirkan keadaan rakyat, namun ada juga tindakan yang perlu diterapkan untuk masyarakat agar kedepannya bisa menuju pada perubahan yang lebih baik. Kurangnya komunikasi secara terbuka antara pihak pemerintahan dengan rakyat menjadi salah satu faktor munculnya anggapan-anggapan bahwa para pemerintah selalu berlaku tidak adil terhadap rakyat. Maka dari itu, kedepannya mungkin perlu ditingkatkan kembali serta pemerintah bisa lebih terbuka agar masyarakat juga bisa menerima segala keputusan dengan baik.
PENAFSIRAN MATI SYAHID (Menurut Imam Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid) Ahmad Miftahus Sudury; Wiwin Ainis Rohtih; Miftara Ainul Mufid; M. Mukhid Mashuri
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umat Islam akan selalu menginginkan kondisi tutup usianya dengan keadaan husn al-khatimah, seperti mati syahid, Allah menjanjikan kepada orang yang mati syahid yaitu kedudukan yang mulia dan jaminan surga. Diperlukan usaha sekaligus pengorbanan yang besar, agar seseorang dikatakan mati syahid. Akan tetapi, saat ini masih banyak sekali masyarakat yang salah faham ataupun faham salah dalam memahami kriteria orang yang mati syahid. Maka dari itu, adanya pengkajian terhadap ayat-ayat tentang kriteria orang yang mati syahid ini, secara utuh dengan menggunakan penafsiran Nawawi al-Bantani dalam kitab tafsir marah labid yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana penafsiran Nawawi al-Bantani terhadap ayat-ayat yang menunjukkan kriteria orang mati syahid dalam kitab tafsir marah labid. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan cara menganalisa makna yang termuat dalam berbagai sumber primer maupun sekunder dan mengeksplorasi serta menguraikan penelitian dengan deskripsi. Selain itu, metode penelitian tafsir yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode riset dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan buku-buku, jurnal, artikel, catatan, lampiran,dan literatur-literatur lainnya. Hal pertama yang dilakukan yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang berhubungan dengan kriterian mati syahid, Kedua menganalisa penafsiran Nawawi al-Bantani pada ayat-ayat kriteria orang mati syahid. Ketiga, menarik kesimpulan dari penafsiran tersebut. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Penafsiran Nawawi al-Bantani terhadap ayat-ayat tentang kriteria orang mati syahid yaitu Pertama, syahid karena gugur di jalan Allah, Kedua, syahid karena berhijrah, Ketiga, syahid karena menaati Allah dan Rasul-Nya, Keempat, syahid karena berperang di jalan Allah dengan hartnya. Di dalam tafsirnya di jelaskan bahwa orang yang mati syahid itu adalah orang-orang yang telah menyatakan kesaksiannya tentang kebenaran agama Allah yang diutarakannya dengan hujjah dan keterangan, dan adakalanya dengan pedang, tombak atau senjata, sangat menyadari bahwa hidupnya di dunia hanya untuk beribadah dan taat pada perintah Allah juga Rasul-Nya. Mereka rela meninggalkan serta mengorbankan harta, jiwa dan raganya hanya untuk berjuang menegakkan agama Islam.
IMPLIKASI AYAT KURSI MENURUT ABU HAYYAN AL-ANDALUSI DALAM KITAB BAHR AL- MUHIT FI AL- TAFSIR M.Atho’ Illah Hikam; Wiwin Ainis Rohtih; Miftara Ainul Mufid; Mukhid Mashuri
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 1 No. 2 (2022): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v1i2.799

Abstract

Mayoritas mufassir menjelaskan ayat kursi di ibaratkan sebagai ilmu tuhan, ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan salah satu surat yang mulia karena didalamnya menjelaskan tentang tuhan itu sendiri. Ada juga yang berpendapat makna ayat kursi sebagai adanya kekuasaan allah. Pada skripsi ini kami menggunakan kajian kepustakaan, dimana dalam kepenulisan ini. Sumber data primer kami menggunakan kitab bahr al muhit sebagai objek penelitian kami serta mengambil data sekunder yang mengambil dari berbagai sumber buku. Selanjutnya dalam analisis datanya kami menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif yakni penelitian berupaya untuk mendeskripsikan yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan kondisi yang yang saat ini terjadi. Data yang telah kami temukan yakni sudut pandang Abu hayyan Al-Andalusi mengibaratkan sebagai jism yang memuat langit dan bumi.
Penguatan Peran Faith Based Organizations (FBO) dalam Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS melalui Peran Aktif Young Relegiuos Leader di Tretes Prigen Pasuruan Nyoko Adi Kusworo; Zainul Ahwan; Mukhid Mashuri; Mochamad Hasyim
Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2018): November 2018
Publisher : Asosiasi Dosen Pengembang Masyarajat (ADPEMAS) Forum Komunikasi Dosen Peneliti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/engagement.v2i2.34

Abstract

Official data from the National AIDS Commission (KPA) showed that East Java ranks 2 (two) for most HIV. Whereas Pasuruan Regency was ranked as number 2 (two) the most cases of HIV and AIDS from all Regencies in East Java with 984 cases starting from 2000-2016. The majority of HIV cases were dominated by productive age (adolescents) between the ages of 20-29 years, the number of which reached around 300 people or around 32%. of the total HIV cases in Pasuruan Regency (KPA data of Pasuruan from 2000-2016). While in terms of data on HIV distribution by region, Prigen Subdistrict was ranked first with 82 cases. Responding to the issue, the role of the Faith Based Organization (FBO) was based on youth through the active role of Young Relegious Leader in Prigen Pasuruan was very encouraged to participate in HIV & AIDS prevention especially in adolescents. To support and strengthen the role of FBO in prevention of HIV and AIDS through efforts: to increase capacity building and knowledge of young religious leader on HIV and AIDS in medical and religion perspective, strengthening communication skills in social campaigns through the use of video blog media (VLOG), making HIV (AIDS) prevention materials (Modules) and building related partnership networks. The institutional strengthening of FBO was focused on Youth-Based FBO in Prigen Pasuruan which included Nahdlatul Ulama' (IPNU & IPPNU) Student Association, Muhammadiyah Youth Association (IPM) and representatives from Christian Youth in Prigen Pasuruan. Through strengthening this role, it was expected that the FBO would be able to prevent HIV/AIDS in members/congregations in their respective organizations in planned and independent manner. In addition, strengthening the role of FBO would also be a new movement of FBO in ​​Tretes Prigen area in taking responsibility for HIV and Narcotics issues in adolescents.
Politisasi Ayat-Ayat Al-Qur’an (Kajian Term Amin dalam Al-Qur’an dan Relevansinya terhadap Konteks Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024) Firnanda Anggraeni Maghfiroh; M. Mukhid Mashuri; Wiwin Ainis Rohtih
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.23699

Abstract

This article aims to analyze the term Amin in the Qur'an and its relevance to the election of the President and Vice President of  the  Republic  of Indonesia in 2024. This is motivated by the fact that based on the campaign for the election of President and Vice President number 01, Dadang Muliawan as a volunteer campaigned by  obliging  the  victory  of Anis Baswedan-Muhaimin Iskandar and exposing his defeat. In his campaign, he strengthened his argument by mentioning a dozen verses of the Qur'an containing the term Amin. By using qualitative research methods with library research and descriptive-analytical data analysis, the results show that the verses that mention the word Amin in 14 verses in the Qur'an textually do not support that the pair Anies Baswedan and Muhaimin Iskandar are then abbreviated as "Amin". The term Amin in the Qur'an textually does not mean Anies-Muhaimin, but means a prophet or angel who has a trusted or trustworthy nature, or if it is associated with a place or city it means a safe place to live in. However, the term Amin as stated in QS. Yusuf [12]: 54 can be a basis for allowing someone to run for a certain position or campaign, as long as his motivation is for the benefit of the community and as long as he feels he has the ability and capability for that position.
PENAFSIRAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN PRESPEKTIF AL-SYAIKH AL-FAQIH MUHAMMAD MUTAWALLI AL- SYA’ROWI Fauziyah, Amanda Rizqiyatul; M. Mukhid Mashuri; Miftarah Ainul Mufid; Ahmad Zainuddin
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 1 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i1.5153

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan perempuan kerap kali menjadi problema di tengah masyarakat. Banyak beberapa pihak yang meragukan akan seorang perempuan menjadi seorang pemimpin, dari segi ilmu khasbi dan wahbi Allahpun, dapat kita telisik bahwa perempuan dirasa sangat bisa menjadi seorang pemimpin. Karena ilmu khasbi dan wahbi Allah itu berlaku bagi setiap hamba muslim laki laki ataupun perempuan. Adapun dari segi sosial atau politik. Dalam penelitian ini, kami merujuk pada tafsir Sya’rowi, yang didalamnya menjelaskan mengenai kepemimpinan perempuan dalam surat An-Nisa’ ayat 34. Yang menjelaskan bahwa kepemimpian perempuan itu boleh asalkan seorang perempuan itu adalah hamba yang taat dan tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang hamba Allah, dan juga sebagai seorang istri. Namun dalam Al-Qur’an penjelasan mengenai kepemimpinan perempuan masih belum tertera secara gamblang, hanya terdapat satu ayat yang menjelaskan bahwa laki - laki dan perempuan harus menjadi penolong atas satu sama lain. Sehingga dapat kita tafsirkan bahwa kepemimpinan perempuan jelas boleh, hanya Allah melebihkan sebagian kepemimpinan tersebut pada seorang laki–laki. Tujuan dan hasil dari penelitian ini yakni untuk dan dapat mengetahui bagaimana penafsiran Sya’rowi sendiri mengenai kepemimpinan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lebih fokus pada deskripsi dan interpretasi data. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data non-numerik, seperti wawancara, observasi, atau analisis teks, untuk memahami fenomena atau keadaan dalam konteks yang lebih luas. Memungkinkan peneliti untuk menjelajahi kompleksitas, makna, dan hubungan sosial dalam fenomena yang diteliti. kualitatif bersifat subjektif dan interpretatif, dengan fokus pada konteks dan makna. kami melengkapi penelitian ini dengan menggunakan metode study kasus untuk memantau bagaimana pengimplemetasian yang sudah terjadi dalam real life agar memperkuat data dan apa yang sedang kami teliti. Keywords:Kepemimpinan Perempuan, Al-Syaikh Al-Faqih Muhammad Mutawalli Al- Sya’rowi, Tafir Sya’rowi