Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Relationship Between Frequency Of Food Consumption And The Aggregate Nutritional Status Of Toddlers In Rw 10, Kelurahan X, West Jakarta Amelia Alimah; Ricky Riyanto Iksan; Rima Berlian Putri; Roza Indra Yeni
Jurnal Life Birth Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Life Birth
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Stikes Panrita Husada Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jlb.v10i1.902

Abstract

Background: Nutritional status among toddlers is an important indicator in determining child growth and development. The frequency of nutritious food consumption plays a significant role in meeting toddlers’ daily energy and nutrient requirements, thereby influencing their nutritional status. In RW 10, Subdistrict, West Jakarta, information regarding the relationship between food consumption frequency and aggregate nutritional status among toddlers remains limited.Objective: This study aimed to determine the relationship between food consumption frequency and the aggregate nutritional status of toddlers in RW 10, Subdistrict X, West Jakarta.Methods: This study employed a quantitative cross-sectional design with a sample of 85 toddlers. Data on food consumption frequency were collected using a semi-quantitative Food Frequency Questionnaire (FFQ) administered to mothers of toddlers. Aggregate nutritional status was measured using weight-for-age z-scores based on WHO standards. The relationship between food consumption frequency and nutritional status was analyzed using the chi-square statistical test with a significance level of 0.05.Results: The majority of toddlers (80 toddlers, 94.2%) had a high frequency of food consumption (≥ 7 times/week). Among this group, 78 toddlers had good nutritional status and 2 toddlers were classified as undernourished; no cases of severe malnutrition were identified. All toddlers in the low-consumption group (< 7 times/week) had good nutritional status. Statistical analysis showed a p-value of 0.001, indicating a significant relationship between food consumption frequency and aggregate nutritional status among toddlers. Conclusion: The more frequently toddlers consume nutritious foods, the greater the likelihood that they will have good nutritional status. These findings highlight the importance of nutrition education, dietary monitoring, and nutrition intervention programs at both the household and healthcare facility levels.
Motivation Of Pregnant Women In The First Trimester In Undertaking Antenatal Care (Anc) Examinations At Hospital X Vivi Nurhaliza; Roza Indra Yeni; Rima Berlian Putri; Ricky Riyanto Iksan
Jurnal Life Birth Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Life Birth
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Stikes Panrita Husada Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jlb.v10i1.903

Abstract

Background: The Maternal Mortality Rate (MMR) in Indonesia is still relatively high and is one of the main problems in the field of maternal and child health. Strategic efforts that can be made to reduce MMR are through optimal implementation of Antenatal Care (ANC), especially in the first trimester of pregnancy. Early ANC examinations play an important role in detecting risk factors and pregnancy complications. However, the coverage of ANC visits in the first trimester is still not optimal, one of which is influenced by the level of motivation of pregnant women. Motivation is an internal factor that plays a role in encouraging awareness, willingness, and compliance of pregnant women to undergo routine pregnancy checks. This study aims to determine the description of the motivation of pregnant women in the first trimester in conducting Antenatal Care (ANC) visits at Hospital X. This study used a quantitative method with a sample of 62 respondents. The research instrument was a motivation questionnaire, while data analysis was carried out univariately. The results showed that the majority of pregnant women had good and fairly good motivation, each amounting to 60 pregnant women (48.4%), but there were still 2 pregnant women (3.2%) respondents with poor motivation. In conclusion, the motivation of pregnant women in the first trimester is quite good, so it is necessary to make continuous efforts through providing education and support by health workers..
Gambaran Dukungan Emosional Keluarga pada Pasien Gagal Jantung Congestive Heart Failure (CHF) di Rumah Sakit X Tangerang Nadia Safinaningsih; Ricky Riyanto Iksan; Rima Berlian Putri; Roza Indra Yeni
Jurnal Kesehatan Panrita Husada Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Panrita Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Stikes Panrita Husada Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jkph.v11i1.618

Abstract

Gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure/CHF) merupakan salah satu penyakit kronis dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi di Indonesia maupun dunia. Kondisi ini menimbulkan dampak signifikan terhadap kesehatan fisik, psikologis, serta kualitas hidup pasien. Dukungan emosional keluarga memiliki peran penting dalam membantu pasien menghadapi keterbatasan akibat CHF, antara lain dengan memberikan motivasi, kenyamanan, dan rasa aman. Penelitian ini bertujuan untuk diketahui  dukungan emosional keluarga pada pasien CHF di Rumah Sakit X Tangerang tahun 2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien CHF yang dirawat di RS X Tangerang sebanyak 244 orang. Sampel berjumlah 71 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner dukungan emosional keluarga yang terdiri dari 6 item pertanyaan dengan skala Likert. Analisis data dilakukan secara univariat untuk memperoleh distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 46–59 tahun (46,5%), berjenis kelamin laki-laki (50,7%), dengan tingkat pendidikan terakhir SMP (52,1%). Sebagian besar responden tinggal bersama keluarga besar (43,7%) dan menderita CHF kurang dari 1 tahun (47,9%). Berdasarkan dukungan emosional, 57,7% responden memperoleh dukungan baik, 32,4% cukup, dan 9,9% kurang. Kesimpulannya, dukungan emosional keluarga pada pasien CHF di RS X Tangerang sebagian besar tergolong baik, sehingga keluarga berperan penting dalam memperbaiki kualitas hidup pasien serta mencegah rehospitalisasi.
Kepatuhan Perawat dalam Melakukan Triage di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit X Muhammad Iqbal Habib; Ricky Riyanto Iksan; Rima Berlian Putri; Maria Susila Sumartiningsih
Jurnal Kesehatan Panrita Husada Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Panrita Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Stikes Panrita Husada Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jkph.v11i1.891

Abstract

Pelayanan triase di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan tahap penting dalam menentukan prioritas penanganan pasien sesuai tingkat kegawatdaruratan. Kepatuhan perawat dalam melaksanakan triase sangat berpengaruh terhadap keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan ketidaksesuaian penerapan metode triase. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kepatuhan perawat dalam melakukan triase di IGD Rumah akit X. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, yaitu pengumpulan data dilakukan pada satu waktu untuk mengetahui tingkat kepatuhan perawat. Populasi penelitian adalah seluruh perawat yang bertugas di IGD, dengan teknik total sampling sebanyak 30 responden. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi kepatuhan triase berdasarkan standar yang berlaku. Data dianalisis secara univariat untuk memperoleh distribusi frekuensi, persentase, nilai rata-rata, dan standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki tingkat kepatuhan kurang, yaitu 17 orang (56,7%), sedangkan 13 perawat (43,3%) memiliki kepatuhan baik. Nilai rata-rata kepatuhan perawat adalah 1,65 dengan standar deviasi 0,505. Kesimpulannya, kepatuhan perawat dalam melakukan triase di di IGD Rumah akit X masih didominasi kategori kurang. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan melalui pelatihan dan penyegaran berkala untuk meningkatkan kualitas dan keselamatan pelayanan di IGD.