Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesantunan Berbahasa dalam Film Animasi Kiko Episode Pahlawan Kostum Lestari, Widia Sri
Jurnal Guru Indonesia Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jgi.v4i2.1173

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengklasifikasikan prinsip kesantunan berbahasa dalam film animasi Kiko Episode Pahlawan Kostum. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dan menggunakan pendekatan dengan kajian pragmatik dalam sebuah karya sastra merupakan suatu hal yang sangat menarik untuk dilakukan, termasuk dalam meneliti sebuah film. Manfaatnya untuk memberikan pengetahuan dalam bidang pragmatik khususnya dalam prinsip kesantunan berbahasa dan menjalin komunikasi yang baik dengan menerapkan prinsip kesantunan berbahasa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dan catat. Data penelitian berupa tuturan yang memenuhi prinsip kesantunan berbahasa berdasarkan teori Leech yang diucapkan penutur yang terdiri dari maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatian. Hasil penelitian mengenai kesantunan berbahasa dalam film animasi Kiko Episode Pahlawan Kostum ini berupa bentuk tuturan yang ditranskripsikan ke dalam bentuk tulisan. Ditemukan 13 data dalam durasi 7.28 menit yaitu. Maksim kebijaksanaan ditemukan 4 data, maksim kedermawanan 3 data, maksim penghargaan 3 data, maksim kesederhanaan 1 data, maksim permufakatan 1 data, dan maksim kesimpatian 1 data.The purpose of this study is to classify the principle politeness of language politeness in the animated film Kiko Episode Hero Costume. The research method used in this study is a qualitative descriptive method. This research uses an approach with pragmatic studies in a literary work is a very interesting thing to do, including in researching a film. The benefit is to provide knowledge in the field of pragmatics, especially in the principle of language politeness and establish good communication by applying the principle of language politeness. The data collection technique used in this study is the look and record technique. The data of this study are in the form of speech that meets the principle of politeness in language based on Leech's theory spoken by the speaker which consists of the maxim of wisdom, the maxim of generosity, the maxim of appreciation, the maxim of simplicity, the maxim of consensus, and the maxim of sympathy. The results of the research on language politeness in the animated film Kiko Episode Hero Costume are in the form of speech that is transcribed into written form. 13 data were found in a duration of 7.28 minutes, namely Maxim of Wisdom found 4 data, Maxim of Generosity 3 data, Maximum of Appreciation 3 data, Maximum of Simplicity 1 data, Maximum of Consensus 1 data, and Maximum of Sympathy 1 data.
Mitos dalam “Petaka Gunung Gede”: Analisis Semiotika Roland Barthes Atas Jejak Mistis di Balik Cerita Abror, Ali; Lestari, Widia Sri; Octavia, Sisca; Rahmatulloh, Faisal Akbar
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.1386

Abstract

Film “Petaka Gunung Gede” menyajikan narasi yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga menyimpan lapisan-lapisan makna yang dapat dikaji secara semiotis. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos dalam film tersebut dengan menggunakan kerangka analisis semiotika Roland Barthes. Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya membedah sistem pemaknaan bertingkat, mulai dari penanda nyata hingga ideologi yang tersembunyi di balik representasi visual dan naratif. Data diperoleh melalui metode simak dan catat, kemudian dianalisis secara interpretatif berdasarkan tahapan pemaknaan Barthes. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh tanda signifikan yang tersebar dalam berbagai adegan film. Analisis terhadap tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa “Petaka Gunung Gede” tidak sekadar berkisah tentang bencana alam, melainkan juga merefleksikan persoalan sosial, hubungan manusia dengan alam, serta sistem kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Temuan ini memperkaya pemahaman bahwa film dapat menjadi medium penyampaian pesan ideologis secara halus melalui sistem tanda yang bekerja dalam berbagai lapisan. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika terapan, khususnya dalam menganalisis film Indonesia kontemporer, sekaligus membuka peluang bagi kajian serupa terhadap karya-karya sinematik lainnya. The Myth in “The Catastrophe of Mount Gede”: Roland Barthes' Semiotic Analysis of the Mystical Traces Behind the StoryThe film "Petaka Gunung Gede" presents a narrative that is not only entertaining, but also contains layers of meaning that can be studied semiotically. This study aims to uncover the denotative, connotative, and mythical meanings in the film using Roland Barthes's semiotic analysis framework. This approach was chosen because of its ability to dissect the multi-level system of meaning, from tangible signifiers to the ideology hidden behind visual and narrative representations. Data were obtained through the method of observing and noting, then analyzed interpretively based on Barthes's stages of meaning. The results of the study identified seven significant signs scattered throughout various scenes in the film. Analysis of these signs shows that "Petaka Gunung Gede" is not only about a natural disaster, but also reflects social issues, the relationship between humans and nature, and belief systems that exist in society. These findings enrich the understanding that film can be a medium for conveying ideological messages subtly through a system of signs that operate at various levels. Thus, this study contributes to the development of applied semiotic studies, particularly in analyzing contemporary Indonesian films, while also opening opportunities for similar studies on other cinematic works.