Film “Petaka Gunung Gede” menyajikan narasi yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga menyimpan lapisan-lapisan makna yang dapat dikaji secara semiotis. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos dalam film tersebut dengan menggunakan kerangka analisis semiotika Roland Barthes. Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya membedah sistem pemaknaan bertingkat, mulai dari penanda nyata hingga ideologi yang tersembunyi di balik representasi visual dan naratif. Data diperoleh melalui metode simak dan catat, kemudian dianalisis secara interpretatif berdasarkan tahapan pemaknaan Barthes. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh tanda signifikan yang tersebar dalam berbagai adegan film. Analisis terhadap tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa “Petaka Gunung Gede” tidak sekadar berkisah tentang bencana alam, melainkan juga merefleksikan persoalan sosial, hubungan manusia dengan alam, serta sistem kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Temuan ini memperkaya pemahaman bahwa film dapat menjadi medium penyampaian pesan ideologis secara halus melalui sistem tanda yang bekerja dalam berbagai lapisan. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika terapan, khususnya dalam menganalisis film Indonesia kontemporer, sekaligus membuka peluang bagi kajian serupa terhadap karya-karya sinematik lainnya. The Myth in “The Catastrophe of Mount Gede”: Roland Barthes' Semiotic Analysis of the Mystical Traces Behind the StoryThe film "Petaka Gunung Gede" presents a narrative that is not only entertaining, but also contains layers of meaning that can be studied semiotically. This study aims to uncover the denotative, connotative, and mythical meanings in the film using Roland Barthes's semiotic analysis framework. This approach was chosen because of its ability to dissect the multi-level system of meaning, from tangible signifiers to the ideology hidden behind visual and narrative representations. Data were obtained through the method of observing and noting, then analyzed interpretively based on Barthes's stages of meaning. The results of the study identified seven significant signs scattered throughout various scenes in the film. Analysis of these signs shows that "Petaka Gunung Gede" is not only about a natural disaster, but also reflects social issues, the relationship between humans and nature, and belief systems that exist in society. These findings enrich the understanding that film can be a medium for conveying ideological messages subtly through a system of signs that operate at various levels. Thus, this study contributes to the development of applied semiotic studies, particularly in analyzing contemporary Indonesian films, while also opening opportunities for similar studies on other cinematic works.