This Author published in this journals
All Journal Al-Dhikra
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TAFSIR SUFISTIK SYAIKH NAWAWI AL-BANTANISufism Interpretion of sheikh Nawawi Al-Bantani Achmad Zubairin
Al-Dhikra Vol. 2 No. 2 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dimensi ruang dan waktu dalam penafsiran Al-Qur`an harus senantiasa relevan dengan konteks pembacanya. Upaya reinterpretasi Al-Qur`an dengan beragam konteks disiplin ilmu pun bermunculan, salah satunya menafsirkan dari kacamata ilmu tasawuf.  Keragaman corak penafsiran ini tidak lain dikarenakan Al-Qur`an yang memiliki beragam kemukjizatan yang terkandung di dalamnya, dan juga dikarenakan pembacaan terhadap Al-Qur`an oleh seseorang sangat terkait erat dengan “kacamata” keilmuan yang dimilikinya dan juga latarbelakang individu tersebut. Tasawuf sebagai sesuatu yang teoritis dan praktis menjadi syarat tidak mutlak bagi seorang penafsir, atau bahwasanya seluruh penafsir sejatinya adalah seorang sufi, namun tidak semua sufi itu penafsir. Dalam tafsir corak tasawuf, walaupun penafsiran itu bersifat tekstual namun memiliki dimensi makna yang mendalam (kontekstual), yang mengandung lapisan makna yang paling dalam atau dikenal dengan makna semantic ayat bahkan makna dibalik ayat atau dinamakan makna bathin (esoterik). Dalam ilmu tasawuf sendiri, banyak upaya untuk menjadikan nilai-nilai tasawuf tertuang menjadi satu diskursus tersendiri yang lebih rasional, karena bagaimanapun, manusia selalu mencari dan terus mencari hakikat kebenaran melalui akal inderawinya termasuk mengenal Allah SWT  (ma’rifatullah) berdasarkan logika disamping intuisinya. Tafsir corak tasawuf-falsafi adalah satu upaya merasionalisasikan nilai-nilai tasawuf yang tertuang dalam penafsiran menjadi sebuah pendekatan yang baku melalui pendekatan filsafat. Al-Ghazali adalah seorang yang berjasa memperkenalkan tasawuf-falsafi dalam khazanah intelektul islam, ia juga yang mengawal perkembangan tasawuf-falsafi ini.
Tafsir Maqasidi Al-Mawardi: Studi Atas Ayat-Ayat Politik Dalam Tafsir Al-Nukat Wa Al-‘Uyu>n Achmad Zubairin
Al-Dhikra Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan melakukan elaborasi terkait munculnya varian tafsir Al-Qur’an berbasis ideologi yang berbicara soal sistem politik negara muncul pasca wafatnya Nabi Muhammad. Hal itu disebabkan sebagian umat Islam berijtihad merumuskan dan memformulasikan fikih siyasah (teori politik islam). Bahkan sudah sampai tahap empirik, sebagaimana yang dilakukan para Khulafa ar- Rasyidun, namun bentuk politik Islam “yang ideal” sampai saat ini masih terus diperdebatkan. Perdebatan yang paling mendasar, sebenarnya seputar penerapan dan formalisasi nilai-nilai syariah Islam dalam lingkup Negara. Untuk menggali lebih dalam lagi seputar hubungan Islam dan Negara, penulis mencoba menganalisa penafsiran maqa>s}id}i-nya al-Mawardi seputar ayat-ayat yang membahas tentang politik. Diskursus Tafsi>r Maqa>s}id}i sebenarnya baru muncul belakangan, namun prinsip-prinsipnya yang mengacu kepada maqa>s}id{ al-syari>’ah, sudah sejak dahulu didiskusikan. Prinsip dasar maqa>s}id{ al-syari>’ah lebih kepada upaya menghumanisasikan hukum Islam yang bersumber dari ayat Al-Qur’an dan Hadis. Dalam rangka upaya menggali makna ayat agar teks Al-Qur’an dipahami tidak secara tekstual akan tetapi mampu menangkap makna ayat yang lebih kontekstual, maka menafsirkan Al-Qur’an dari sisi Maqa>s}id}i-nya, akan mengungkap inti (jawhar) dari Al-Qur’an. Penulis juga mencoba mengungkap sisi subjektifitas seorang al-Mawardi sebagai penafsir dalam Tafsi>r al-Nukat Wa al-‘Uyu>n karangannya, termasuk kondisi sosio-historis dimana al-Mawardi hidup yaitu pada masa dinasti Abbasiyah, walaupun disanyalir sebagian kalangan, dirinya pun dalam menulis karya tafsir-nya dan karya lainnya al-Ah}ka>m al-Sult}a>niyah sebagai “pesanan politik” dari khalifah yang berkuasa saat itu. Artikel ini berkesimpulan bahwa sistem negara yang sesuai dengan teori maqa>s}id}i al-Mawardi ialah yang berasaskan pada nilai-nilai Islam sebagaimana ditegaskan juga oleh tokoh-tokoh lain seperti Abou El Fadl.