Aulia, Adis Prita
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSEPSI PERNIKAHAN PADA PEREMPUAN DEWASA MUDA SEBAGAI IMPLIKASI DARI FENOMENA FATHERLESS Aulia, Adis Prita; Santoso, Meilanny Budiarti; Apsari, Nurliana Cipta
Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal
Publisher : University of Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v14i2.60567

Abstract

Fatherless-ketiadaan ayah, merupakan sebuah fenomena ketidakhadiran sosok ayah yang berperan dalam pengasuhan anak, baik secara fisik maupun secara psikologis. Perempuan dewasa muda adalah ia yang berada pada rentang usia 20 - 30 tahun yang dalam perkembangan psikososialnya memiliki kecenderungan untuk membangun intimacy, khususnya dengan lawan jenis. Ketidakhadiran peran ayah dapat berpengaruh signifikan terhadap perkembangan sosial dan emosional anak perempuan yang kemudian memengaruhi persepsi mereka terhadap hubungan romantis dengan lawan jenis saat dewasa, salah satunya pernikahan. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menggambarkan persepsi pernikahan pada perempuan dewasa muda sebagai implikasi dari fenomena fatherless. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam pada beberapa informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi terkait pernikahan pada perempuan dewasa muda cenderung negatif sebagai akibat dari fenomena fatherless. Sebagian perempuan yang mengalami fatherless cenderung mengasosiasikan pernikahan dengan konflik, ketidakstabilan, dan ketidakharmonisan, yang akhirnya memengaruhi keputusan mereka untuk menunda pernikahan atau menghindarinya. Ketidakharmonisan dalam pernikahan orang tua informan mengakibatkan terciptanya pandangan yang sangat selektif dalam memilih pasangan, serta cenderung memilih untuk tidak menikah jika tidak menemukan pasangan yang dianggap sesuai dengan harapan.  Fatherlessness is a phenomenon of the absence of a father figure who plays a role in raising children, both physically and psychologically. Young adult women are those who are in the age range of 20 - 30 years who, in their psychosocial development, tend to build intimacy, especially with the opposite sex. The absence of a father's role can have a significant effect on girls' social and emotional development, which then affects their perception of romantic relationships with the opposite sex as adults, one of which is marriage. This article aims to describe the perception of marriage in young adult women as an implication of the fatherless phenomenon. This research used a descriptive qualitative method with in-depth interviews with several informants. The study results show that the perception related to marriage in young adult women tends to be negative due to the fatherless phenomenon. Some women who experience fatherlessness tend to associate marriage with conflict, instability, and disharmony, which ultimately influences their decision to postpone marriage or avoid it. Disharmony in the marriage of informants' parents results in a very selective view in choosing a partner and tends to choose not to get married if they do not find a partner who is considered to be under expectations. 
PENDEKATAN BERBASIS KOMUNITAS DALAM MANAJEMEN PROGRAM SOSIAL: TINJAUAN LITERATUR TERHADAP PRAKTIK PARTISIPATIF, KOLABORATIF, DAN PEMBERDAYAAN Aulia, Adis Prita; Jatnika, Dyana Chusnulitta; Adiansah, Wandi
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 9, No 1 (2026): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Juli 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v9i1.63611

Abstract

Pendekatan berbasis komunitas semakin mendapatkan pengakuan sebagai respons strategis terhadap kompleksitas, multidimensionalitas, dan spesifisitas konteks permasalahan sosial di Indonesia. Pendekatan ini menekankan pentingnya partisipasi, kolaborasi, dan pemberdayaan dalam seluruh siklus manajemen program sosial. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur sistematis terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan pada rentang waktu 2015 hingga 2024 untuk mengkaji praktik, tantangan, dan peluang dalam penerapan pendekatan berbasis komunitas dalam konteks program sosial di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif mendorong keterlibatan masyarakat, namun masih dominan bersifat simbolik, terutama terbatas pada tahap implementasi. Pendekatan kolaboratif berkontribusi terhadap sinergi antar pemangku kepentingan dan pemanfaatan sumber daya bersama, tetapi efektivitasnya bergantung pada kapasitas institusional dan keberlanjutan komitmen aktor lokal. Sementara itu, pendekatan pemberdayaan berpotensi mendorong kemandirian dan agensi masyarakat, namun masih dihadapkan pada kendala struktural seperti kesenjangan akses terhadap sumber daya, keterbatasan kapasitas, dan lemahnya respons kebijakan. Kajian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendekatan berbasis komunitas sangat dipengaruhi oleh strategi yang adaptif, sensitif terhadap konteks lokal, dan berorientasi jangka panjang. Diperlukan integrasi antara pendekatan partisipatif, kolaboratif, dan pemberdayaan secara simultan untuk mendorong pengembangan sosial yang transformatif dan inklusif.