Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Ekologi Budaya Berbasis Ekoenzim dalam Restorasi Sungai Wampu: Upaya Mewujudkan Lingkungan yang Berkelanjutan Siwi, Riri Putri; Fijrina, Firly; Utami, Mega; Rismawany, Prilly; Naibaho, Zanrison
Sosial Budaya Vol 22, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v22i1.38246

Abstract

Abstract This study aims to explore and analyze the ethnozoology of the Wampu River within the framework of cultural ecology based on eco-enzyme practices, to identify the challenges of sustainability in river revitalization, and to design an environmentally friendly revitalization model in Bahorok District. A mixed-methods approach was employed, involving participant observation, in-depth interviews with 16 informants, questionnaires distributed to 40 respondents, and laboratory tests of water quality at upstream, midstream, and downstream points. The findings reveal that the jurung fish (Tor sp.) holds a central role in Karo culture, functioning not only as a food source but also as a symbolic element of kinship and cultural identity. However, its population is increasingly threatened by pollution, hydropower plant activities, and ecological degradation. The challenges of revitalization include limited ecological literacy among local communities, weak public participation, and the absence of customary institutions that regulate river conservation. As a solution, this research proposes an eco-enzyme-based revitalization model that integrates environmentally friendly technology, local wisdom, and multi-stakeholder collaboration. This model is expected to restore water quality while preserving cultural identity, thereby achieving sustainable and environmentally friendly river management.Keywords: Wampu River, ethnozoology, cultural ecology, eco-enzyme, revitalization AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menelusuri dan menganalisis etnozoologi Sungai Wampu dalam perspektif ekologi budaya berbasis ekoenzim, mengidentifikasi tantangan keberlanjutan revitalisasi, serta merancang model revitalisasi ramah lingkungan di Kecamatan Bahorok. Metode yang digunakan adalah mixed methods dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipan, wawancara mendalam dengan 16 informan, penyebaran kuesioner pada 40 responden, serta uji laboratorium kualitas air di hulu, tengah, dan hilir sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan jurung (Tor sp.) memiliki posisi sentral dalam adat Karo, baik sebagai sumber pangan maupun simbol kekerabatan. Namun, keberadaannya semakin terancam akibat pencemaran, aktivitas PLTA, dan degradasi lingkungan. Tantangan revitalisasi mencakup rendahnya literasi ekologi masyarakat, lemahnya partisipasi lokal, serta absennya mekanisme kelembagaan adat dalam menjaga ekosistem sungai. Sebagai solusi, penelitian ini merumuskan model revitalisasi berbasis ekoenzim yang mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan, kearifan lokal, dan kolaborasi multipihak. Model tersebut diharapkan dapat memulihkan kualitas air sekaligus menjaga keberlanjutan identitas budaya, sehingga mewujudkan pengelolaan sungai yang environmental friendly dan berkelanjutan.Kata Kunci: Sungai Wampu, etnozoologi, ekologi budaya, ekoenzim, revitalisasi.
EKSPLORASI KREATIVITAS RESTORAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL (STUDI KASUS PADA OWNER GENERASI Z DI KOTA MEDAN) Siwi, Riri Putri; Zebua, Rosania Krisda; Nainggolan, William Jordan; Tarigan, Putri Yola Endayanti Br.; Lubis, Dinda Rizky Fadilah; Laia, Okhotada Yosefo; Rulyan, Ayu
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.41278

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kreativitas dalam pengelolaanrestoran dengan memanfaatkan kearifan lokal, fokus pada pemilik restoran generasi Z di Kota Medan. Secara khusus, berupaya menemukan berbagai bentuk kreativitas pemilik restoran generasi Z dengan menggunakan kearifan lokal sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan dan menerapkan konsep, menu, dan pengalaman pelanggan pada restoran yang dikembangkan. Selain itu, penelitian juga berupaya menemukan upaya pemajuan kebudayaan melalui pengembangan restoran berbasis kearifan lokal di Kota Medan. Metode penelitian yang akan diterapkan ini ialahkualitatif dengan pendekatan studi kasus. Riset dilaksanakan melalui observasi langsung ke lokasi penelitian yakni Bakso Mataram, Kampung Kecil, dan Kito Garden untuk mengamati berbagai bentuk kreativitas pengembangan restoran berbasis kearifan lokal. Selanjutnya, pengumpulan data akan dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pemilik restoran generasi Z yang mewakili beragam jenis restoran di Kota Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk kreativitas generasi Z dalam mengeksplorasi restoran berbasis kearifan lokal ialah melalui keindahan interior yang diambil berdasarkan etnik tertentu dengan menampilkan elemen-elemen yang menjadi ciri khasnya seperti adanya figure wayang pada restoran. Selain itu, kenyamanan dan suasana yang ada di restoranmenjadikan salah satu alasan pengunjung datang ke restoran tersebut. Penelitian ini memiliki urgensi yang tinggi karena beberapa alasan. Pertama, perkembang restoran yang terus berkembang dan kompetitif, sehingga pemahaman tentang bagaimana memanfaatkan kearifan lokal untuk menciptakan diferensiasi dan daya tarik bagi pelanggan sangat penting. Kedua, generasi Z memiliki peran yang semakin besar dalam bisnis dan budaya, sehingga penting untuk memahami praktik bisnis mereka, termasuk kreativitas dalam konteks restoran. Terakhir, dengan meningkatnya globalisasi dan homogenisasi dalam industri makanan dan minuman,penekanan pada kearifan lokal dapat membantu menjaga keberagaman budaya dan kuliner.
LUBUK LARANGAN: AN ANALYSIS OF CULTURAL AND SPACIAL APPROACHES INCORPORATING CULTURAL AWARENESS IN FLOOD DISASTER MITIGATION EFFORTS IN BAHOROK Nainggolan, William Jordan; Siwi, Riri Putri; Faturrahman, Rifki; Zhafirah, Alya; Br. Tarigan, Putri Yola Endayanti; Febryani, Ayu
JUPIIS: JURNAL PENDIDIKAN ILMU-ILMU SOSIAL Vol. 17 No. 2 (2025): JUPIIS (JURNAL PENDIDIKAN ILMU-ILMU SOSIAL) DECEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jupiis.v17i2.61755

Abstract

Bahorok Subdistrict is one of the subdistricts in Langkat Regency, North Sumatra, known for the Bahorok River, which has experienced flooding in 2003, 2015, and most recently in 2023. Given this, natural disasters such as flooding pose a crucial risk to the sustainability of tourism in Bahorok Subdistrict if mitigation efforts are not planned effectively. Therefore, this study aims to analyze the implementation of*lubuk larangan* as a flood disaster mitigation effort in Bahorok Subdistrict, examine the cultural approach with cultural awareness appliedto *lubuk larangan* as a flood disaster mitigation strategy, and analyze spatial factors that need to be considered in developing flood disaster mitigation strategies in Bahorok Subdistrict. This research explores the role of *lubuk larangan* as a cultural and spatial approach in flooddisaster mitigation in Bahorok Subdistrict, Langkat Regency, North Sumatra. It employs a mixed-methods approach with an embeddeddesign, combining qualitative and quantitative strategies. Data were collected through participant observation and questionnaires distributed to 60 respondents around the Bahorok River. Qualitative analysis was conducted through ethnographic interviews, domain analysis, and taxonomy, while quantitative analysis used descriptive statistical tests and Geographic Information System (GIS) to produce spatial maps related to flood potential. The study found that the implementation of *lubuk larangan*, initiated by local communities, is effective in preserving river ecosystems and serves as a form of non-structural disaster mitigation. The community's cultural awareness of *lubuklarangan* is still at the level of cultural consideration. Spatial factors such as topography, land slope, and land use are also crucial indeveloping flood mitigation strategies. The findings are expected to contribute significantly to river conservation efforts and community safety around the Bahorok River. Key words: Cultural, Spatial, Mitigation, Flood, Bahorok