Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Karakteristik Demografi Tingkat Kepuasan Pelayanan Informasi Obat (PIO) Depo Rawat Jalan Rumah Sakit X Rantau Dharmayati, Evy; Sunarti, Lisa; Rusida, Esty Restiana; Astuti, Karunita Ika
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v3i1.611

Abstract

Kepuasan pasien merupakan faktor penting dalam mengevaluasi kualitas layanan yang diberikan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 30 Tahun 2022, kepuasan pasien sangat dipengaruhi oleh perspektif dan evaluasi mereka terhadap layanan yang diterima. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan pasien terhadap Kepuasan Pelayanan Informasi Obat (PIO) informasi obat di Depo Rawat Jalan RSUD X Rantau.  Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan pada sampel penelitian, sebelum kuesioner diberikan kepada responden, terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Sebanyak 30 responden dari Puskesmas Tapin Utara dipilih untuk mengikuti penelitian kuesioner. Data yang terkumpul akan diolah dengan menggunakan perangkat lunak SPSS. Karakteristik demografi pasien Depo Rawat Jalan Rumah Sakit X Rantau didominasi oleh wanita (73%), kelompok usia dewasa 18–59 tahun (86%), serta tingkat pendidikan menengah (SMP/SMA/Sederajat) sebanyak 48%. Pekerjaan yang paling banyak ditemukan adalah ibu rumah tangga (30%), dengan 24% responden belum atau tidak berpenghasilan. Sebanyak 57% responden menyatakan sangat senang terhadap Pelayanan Informasi Obat (PIO), sementara 43% menyatakan cukup senang, dan tidak ada responden yang merasa tidak puas atau sangat tidak puas. Analisis hubungan menunjukkan bahwa tingkat pendidikan (ρ = 0,005) dan jenis pekerjaan (ρ = 0,043) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepuasan pasien terhadap layanan PIO, sedangkan jenis kelamin (ρ = 0,286), usia (ρ = 0,067), dan pendapatan (ρ = 0,079) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Inhibitor HMG-CoA Reductase dan Cholesterol-7 Alpha-Hydroxylase dari Senyawa Aktif Genus Alphitonia : Studi In Silico Ramadhan, Hafiz; Pambudi, Didik Rio; Yulida, Jamiatul Annisa; Dharmayati, Evy
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 7, No 1 (2026): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v7i1.35206

Abstract

Kolesterol merupakan gangguan metabolisme lipid yang ditandai dengan adanya peningkatan fraksi lipid dalam plasma karena aktivitas enzim 3-hydroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase dan Cholesterol-7 alpha-hydroxylase (CYP7A1). Alternatif pengobatan antikolesterol dengan memanfaatkan senyawa metabolit sekunder dari genus Alphitonia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi dan interaksi dari senyawa genus Alphitonia sebagai kandidat inhibitor HMG-CoA reductase dan cholesterol-7 alpha-hydroxylase dibandingkan dengan native ligand dan obat antikolesterol sebagai perbandingan secara in silico. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental eksploratif dengan uji in silico 30 senyawa marker dari genus Alphitonia terhadap  protein terget 1HW9 dan 3SN5 menggunakan aplikasi molecular docking PLANTs. Senyawa yang memiliki potensi sebagai antikolesterol karena memiliki skor docking lebih rendah dari native ligand dan obat pembanding (simvastatin dan atorvastatin) terhadap protein target 1HW9 yaitu senyawa 3-O-[β-D-Glucopyranosyl-(1→2)]-α-L-rhamnopyranosyl-quercetin  dan 6’-Heptadecanoyl-3-O-β-D- glucopyranosylsitosterol. Sedangkan terhadap protein target 3SN5 yaitu senyawa Isorhamnetin 3-O-rutinoside, Rutin, Kaempferol- 3-rutinoside, 6’-Heptadecanoyl-3-O-β-D- glucopyranosylsitosterol dan Quercetin 3-O-α-L-arabinopyranasyl(1→2)-α-L-rhamnopyranoside. Senyawa native ligand dan senyawa potensial Isorhamnetin 3-O-rutinoside dan 6’-Heptadecanoyl-3-O-β-D- glucopyranosylsitosterol memiliki residu asam amino yang hampir sama dengan native ligand. Kesimpulan dari penelitian ini kandidat terbaik yang memiliki potensi sebagai antikolesterol adalah senyawa  6’-Heptadecanoyl-3-O-β-D- glucopyranosylsitosterol
Knowledge and Antibiotic Adherence in Acute Respiratory Infection Patients at Karang Intan 1 Clinic Aprianti , Safrina; Wati, Helmina; Dharmayati, Evy
Camellia : Clinical, Pharmaceutical, Analytical and Pharmacy Community Journal Vol 4 No 2 (2025): Camellia (Clinical, Pharmaceutical, Analytical, and Pharmacy Community Journal)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/cam.v4i2.29482

Abstract

Acute Respiratory Infection (ARI) is a bacterial infection affecting the respiratory tract, from the nasal cavity to the lungs, and contributes to nearly 4 million deaths globally each year. Knowledge refers to the information acquired and retained by individuals, while compliance indicates the extent to which patients adhere to medication instructions provided by healthcare professionals. This study aimed to assess the level of knowledge regarding antibiotics and patients’ compliance with antibiotic use. A prospective observational quantitative approach was employed from January to April 2025 at the Karang Intan 1 Health Center. The study used a cross-sectional design and included 80 ARI patients selected through total sampling. Data were collected using structured questionnaires over a two-month period. Results showed that the most frequently used antibiotic was cefadroxil, a first-generation cephalosporin, used by 52 respondents (65%). The knowledge assessment revealed that 76 respondents (95%) had good knowledge, while 4 respondents (5%) had poor knowledge. In terms of compliance, 65 respondents (81.25%) were compliant, 10 respondents (12.5%) were fairly compliant, and 5 respondents (6.25%) were less compliant. Statistical analysis using the Chi-square test demonstrated a significant relationship between knowledge level and antibiotic compliance (p < 0.000). This indicates that higher knowledge levels are associated with better compliance in antibiotic use among ARI patients at Karang Intan 1 Health Center