Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Instant Oyster Mushroom Congee Faisal Akbar Zaenal; Syahrial; Abdi Nurul Mahsyar
Pusaka : Journal of Tourism, Hospitality, Travel and Business Event Vol. 4, No 1 February (2022)
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/pusaka.v4i1.157

Abstract

This research is an experimental study that aims to determine: (1) The process of making instant oyster mushroom congee; (2) Panelists acceptance of the organoleptic of instant oyster mushroom congee, which includes color, aroma, texture, taste, and overall (overall assessment); (3) Potassium Nutritional Value of instant oyster mushroom congee. There were 38 panelists, consisting of 3 trained panelists, 25 semi-trained panelists, and 10 untrained panelists. The data collection techniques used are questionnaires and documentation. The data analysis technique used is descriptive analysis and ANOVA. The research was out at the Kitchen Laboratory Politeknik Pariwisata Makassar and the Makassar Health Laboratory Center. The results showed instant oyster mushroom congee products started from preparation, weighing, cutting, grinding, drying, storage and packaging. The panelists acceptance of the instant oyster mushroom congee with the F1 formulation with a yield of 1.5 grams of dry oyster mushrooms is equivalent to 15 grams of fresh oyster mushrooms. In terms of color, aroma, texture, and taste assessment, it is better than other formulations with a rating of 4.18, aroma, texture, and taste of 4.82, and overall, 5.42. The change in the nutritional value of potassium in instant oyster mushroom congee was 225.75 mcg, and the nutritional value of iron was 14.72 mcg.
Managing Glocalization: Exploring the Dynamics, Transformations, and Challenges of Food in South Sulawesi Muhammad Anas; Faisal Akbar Zaenal; Lily Dianafitry Hasan
Pusaka : Journal of Tourism, Hospitality, Travel and Business Event Vol. 5, No 2 August (2023)
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/pusaka.v5i2.242

Abstract

This study explores South Sulawesi's glocalisation. This study is conducted in Makassar City, Pare-Pare City, and Bulukumba Regency due to their higher urban and tourism context mobilisation, port accessibility, and port potential. This study investigates using phenomenology. Document analyses, observations, in-depth interviews, and focus group discussions (FGD) contribute to carefully selecting culinary or tourism industry experts as informants. According to the research, globalisation and localisation have affected South Sulawesi dishes' appearance, aroma, flavour, and environment (sight and touch). Since these are commercial dishes, fundamental ingredients and market values are essential. Since "traditional terminology" is devalued, contemporary cuisine is also gaining popularity. Modernisation and globalisation have altered the community's ontological security. Globalisation, technology, and transportation have altered every aspect of celebrations, including food. Due to the absence of a commercial context (anticipated monetary rewards), the festival is the only location where traditional culinary offerings are more likely to persist than elsewhere.
Pendampingan Pemanfaatan Pangan Lokal sebagai Produk Kuliner Desa Wisata Langda, Kabupaten Enrekang Lily Dianafitry Hasan; Faisal Akbar Zaenal; Syahrial Manaf; Muh. Anas; Astrid Astrid; Riziki Zulkarnain
PADAIDI: Journal of Tourism Dedication Vol. 1 No. 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/padaidi.v1i1.116

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Prodi Seni Kuliner, Politeknik Pariwisata Makassar menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pembangunan desa melalui pendekatan Community Based Tourism (CBT) untuk mencapai hasil yang lebih berkelanjutan dan berdampak positif secara sosial dan ekonomi. Studi ini dilakukan di Desa Wisata Langda, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Indonesia, yang memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Melibatkan masyarakat lokal dengan tingkat kepemilikan yang kuat dan partisipasi aktif adalah kunci utama dalam mencapai pariwisata yang berkelanjutan. Kegiatan bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh Prodi Seni Kuliner telah berhasil dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola bahan lokal menjadi produk kuliner. Hasil evaluasi menunjukkan kepuasan yang tinggi dari peserta, yang memberikan wawasan berharga bagi penyelenggara untuk meningkatkan kualitas kegiatan di masa mendatang. Implikasi dari kegiatan ini adalah potensi pengembangan pariwisata Desa Langda melalui pengembangan produk kuliner lokal yang berkelanjutan, yang dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal dan memperkuat daya tarik pariwisata di tingkat regional maupun nasional. Kesimpulannya, pendekatan Community Based Tourism telah berhasil meningkatkan potensi pariwisata lokal dan dapat membuat Desa Langda menjadi destinasi pariwisata yang lebih menarik dan berdaya saing di masa depan.
Pendampingan Pemanfaatan Pangan Lokal sebagai Produk Kuliner Desa Wisata Langda, Kabupaten Enrekang Lily Dianafitry Hasan; Faisal Akbar Zaenal; Syahrial Manaf; Muh. Anas; Astrid Astrid; Riziki Zulkarnain
PADAIDI: Journal of Tourism Dedication Vol. 1 No. 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/padaidi.v1i1.116

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Prodi Seni Kuliner, Politeknik Pariwisata Makassar menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pembangunan desa melalui pendekatan Community Based Tourism (CBT) untuk mencapai hasil yang lebih berkelanjutan dan berdampak positif secara sosial dan ekonomi. Studi ini dilakukan di Desa Wisata Langda, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Indonesia, yang memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Melibatkan masyarakat lokal dengan tingkat kepemilikan yang kuat dan partisipasi aktif adalah kunci utama dalam mencapai pariwisata yang berkelanjutan. Kegiatan bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh Prodi Seni Kuliner telah berhasil dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola bahan lokal menjadi produk kuliner. Hasil evaluasi menunjukkan kepuasan yang tinggi dari peserta, yang memberikan wawasan berharga bagi penyelenggara untuk meningkatkan kualitas kegiatan di masa mendatang. Implikasi dari kegiatan ini adalah potensi pengembangan pariwisata Desa Langda melalui pengembangan produk kuliner lokal yang berkelanjutan, yang dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal dan memperkuat daya tarik pariwisata di tingkat regional maupun nasional. Kesimpulannya, pendekatan Community Based Tourism telah berhasil meningkatkan potensi pariwisata lokal dan dapat membuat Desa Langda menjadi destinasi pariwisata yang lebih menarik dan berdaya saing di masa depan.