Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Sosiologi Kritis dan Transformasi Pendidikan: Menggugat Ketidaksetaraan Gender di Indonesia Fritz Hotman Syahmahita Damanik; Oman Sukmana; Wahyudi Winarjo
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 2 Mei (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.2142

Abstract

Ketidaksetaraan gender dalam pendidikan di Indonesia masih menjadi permasalahan yang berakar pada norma sosial, kurikulum, dan kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung sistem edukasi yang inklusif. Pendidikan, yang seharusnya menjadi alat transformasi sosial, seringkali justru mereproduksi bias yang menghambat akses dan kesempatan setara antara perempuan dan laki-laki. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur, dengan kerangka teori sosiologi kritis, termasuk teori reproduksi sosial Bourdieu dan konsep hegemoni Gramsci, untuk menganalisis bagaimana struktur sosial patriarkal dan bias institusional terinternalisasi dalam praktik pendidikan. Data empiris menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di pendidikan tinggi mencapai sekitar 57%, namun hanya 20%–30% yang terlibat secara aktif dalam bidang STEM, yang mengindikasikan kesenjangan signifikan dalam pendistribusian kesempatan akademik. Selain itu, penelitian mengenai stereotip dalam profesi guru pendidikan anak usia dini mengungkapkan bahwa hanya sebagian kecil (kurang dari 40%) calon pendidik laki-laki yang menembus pasar kerja, memperkuat anggapan bahwa profesi tersebut lebih cocok untuk perempuan. Temuan-temuan tersebut diperkuat oleh analisis kritis kebijakan kesetaraan gender yang menunjukkan bahwa implementasi konstitusional untuk melindungi hak-hak gender masih terhambat oleh budaya pendidikan yang cenderung membenarkan ketimpangan. Lebih lanjut, analisis diskursus di sekolah-sekolah mengindikasikan bahwa hanya sekitar 25% institusi yang melaksanakan pelatihan guru berbasis gender secara rutin, sedangkan kurangnya inovasi kurikulum yang responsif gender membuat stereotip sosial tetap bertahan.
Dinamika Peran Gender dalam Keluarga Modern: Studi pada Pasangan yang Memilih Peran Ayah sebagai Pengasuh Utama Fritz Hotman Syahmahita Damanik
PADARINGAN (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi) Vol 7, No 02 (2025): PADARINGAN : Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pn.v7i02.14993

Abstract

The evolution of gender roles in modern families has become increasingly dynamic, including the phenomenon of fathers serving as primary caregivers. This study explores the factors driving this role shift, the challenges faced by fathers as primary caregivers, and societal responses to this change. Based on interviews with several fathers who have taken on the primary caregiving role, the study finds that economic factors, job flexibility, and changing perceptions of gender equality contribute to this decision. However, these fathers encounter challenges such as adapting to childcare responsibilities, social pressures, and time management. Societal views on this phenomenon vary, ranging from initial skepticism to gradual acceptance. This study highlights that gender roles in modern families are becoming more flexible and can be adjusted according to each family's needs and circumstances. With a broader understanding of gender role flexibility, society can better support fathers who take on the role of primary caregivers. The findings of this research are expected to provide valuable insights for families, academics, and policymakers in promoting gender equality within households.
THE DEEP LEARNING APPROACH IN SOCIOLOGY EDUCATION AT THE HIGH SCHOOL LEVEL Fritz Hotman Syahmahita Damanik; Gibran Muhammad
SocioEdu: Sociological Education Vol. 6 No. 1 (2025): Sociological Education
Publisher : Sociology Education, Teaching Training and Education Faculty, Muhammadiyah University of Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59098/socioedu.v6i1.2016

Abstract

The study explores the integration of deep learning approaches into high school Sociology education, addressing the need for transformative teaching methodologies in an era of increasing complexity in social dynamics. Sociology, with its focus on understanding societal structures and relationships, provides an ideal platform for employing deep learning strategies such as project-based learning, case studies, and reflective discussions. These methods encourage critical thinking, problem-solving, and the ability to connect theoretical knowledge with real-world issues, fostering both academic and personal growth. Utilizing a qualitative methodology and a literature review approach, the research synthesizes insights from recent studies within the last five years, emphasizing their relevance and credibility. Findings reveal that deep learning enhances students' analytical skills, empathy, and cultural awareness, bridging the gap between classroom theories and real-world applications. The study highlights the need for professional development for educators, supportive policies, and equitable learning environments to address implementation challenges. Future research should examine the long-term impact of deep learning on students' academic and career trajectories and explore technological advancements in facilitating this approach. By advocating for deep learning in Sociology, the study underscores its potential to nurture socially conscious individuals equipped to navigate and address contemporary societal complexities.
DISCOURSE, POWER, AND IDENTITY: A FOUCAULDIAN READING OF MUHAMMADIYAH'S NARRATIVE AND PRACTICE: WACANA, KEKUASAAN, DAN IDENTITAS: PEMBACAAN FOUCAULDIAN ATAS NARASI DAN PRAKTIK MUHAMMADIYAH Tobroni; Fritz Hotman Syahmahita Damanik; Afna Fitria Sari; Darmanto Saputro; La Basri
SOSIOEDUKASI Vol 14 No 4 (2025): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v14i4.6365

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengungkap bagaimana Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern di Indonesia membentuk dan mempertahankan identitas keagamaannya melalui wacana yang diproduksi secara institusional, serta bagaimana mekanisme kekuasaan beroperasi dalam proses konstruksi identitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis dengan kerangka teoretis Michel Foucault, khususnya konsep arkeologi dan genealogi wacana, guna menelaah dokumen-dokumen resmi, pernyataan kebijakan, dan narasi publik yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah periode 2000-2020. Hasil analisis menunjukkan bahwa Muhammadiyah berhasil mengartikulasikan wacana keagamaan progresif yang mendukung demokrasi dan masyarakat sipil, sehingga mewujud kekuatan pendorong bagi perubahan sosial konstruktif. Salah satu wacana terpenting adalah “Islam Berkemajuan”, sebuah narasi yang memungkinkan Muhammadiyah melakukan penyesuaian terhadap modernitas sambil tetap mempertahankan prinsip-prinsip Islam yang fundamental. Secara spesifik, Muhammadiyah tampak mahir melakukan subjektivasi anggotanya agar mempunyai kesadaran kritis terhadap isu-isu sosial, sembari menciptakan ruang bagi partisipasi aktif dalam ranah publik melalui artikulasi narasi keagamaan nan transformatif.
Penyortiran Algoritmik dan Reproduksi Stratifikasi Sosial: Telaah Sosiologi Kritis atas Seleksi Pendidikan Berbasis Kecerdasan Buatan dan Sistem Algoritmik Fritz Hotman Syahmahita Damanik; Oman Sukmana; Husni Thamrin
Dewantara Journal of Technology Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59563/djtech.v6i2.370

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) dan sistem berbasis data telah mendorong transformasi dalam berbagai aspek pendidikan, termasuk proses seleksi masuk perguruan tinggi dan program beasiswa. Meskipun teknologi tersebut menawarkan efisiensi dan konsistensi dalam pengambilan keputusan, dampaknya terhadap keadilan akses pendidikan masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana sistem seleksi berbasis AI dan algoritma berpotensi mereproduksi stratifikasi sosial dalam pendidikan. Penelitian menggunakan metode systematic literature review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Sebanyak 47 artikel yang diperoleh dari Google Scholar, Scopus, dan Web of Science dianalisis secara tematik serta dipadukan dengan analisis komparatif implementasi sistem seleksi berbasis AI dan berbasis data di enam negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma seleksi pendidikan cenderung mereproduksi ketidaksetaraan yang telah tertanam dalam data historis, terutama yang berkaitan dengan perbedaan akses pendidikan, kapital budaya, dan kondisi sosial ekonomi. Bias algoritmik tidak hanya muncul akibat keterbatasan teknis sistem, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur sosial yang menjadi sumber data dan dasar pengambilan keputusan. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan akurasi teknologi tidak secara otomatis menghasilkan keadilan dalam akses pendidikan. Oleh karena itu, pengembangan dan tata kelola AI di sektor pendidikan perlu didukung oleh prinsip transparansi, akuntabilitas, audit algoritmik, serta orientasi pada keadilan sosial guna meminimalkan reproduksi ketimpangan dalam proses seleksi pendidikan.
The Concept of Religious Tolerance of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama in the Harmony of Religious Communities in Indonesia Afna Fitria Sari; Tobroni Tobroni; Fritz Hotman Syahmahita Damanik
SAHAFA: Journal of Islamic Communication Vol. 8 No. 02 (2026): Sahafa Journal of Islamic Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/sjic.v8i02.7

Abstract

This study aims to analyze and compare the concepts of religious tolerance according to Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU), and to explain their contributions to strengthening interfaith harmony in Indonesia. This study uses a qualitative approach with library research to examine the similarities and differences in the concepts of tolerance between Muhammadiyah and NU. The results show that Muhammadiyah emphasizes the concept of Progressive Islam which is rational, modern, and oriented towards universal humanitarian values, while Nahdlatul Ulama developed the concept of Islam Nusantara which emphasizes local wisdom, cultural traditions, and social harmony. Although different in theological and cultural approaches, both share similarities in upholding the principles of rahmatan lil 'alamin and religious moderation. The combination of Muhammadiyah's rational values ​​and NU's cultural wisdom has become a strong foundation in building interfaith harmony in Indonesia. This study confirms that the synergy between Muhammadiyah and NU is a strategic factor in strengthening tolerance and national unity. Keywords: Religious tolerance, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama
Harmoni Etika: Titik Temu Nilai-nilai Kristiani dan Wasathiyah Muhammadiyah Agus Suriadi; Oman Sukmana; Darmanto Saputro; Nosita Br. Tarigan; Fritz Hotman Syahmahita Damanik
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1759

Abstract

Abstract. This research is motivated by the importance of building the social harmony in a multicultural society through an interfaith ethical approach. The main objective of this study is to explore the intersection of ethical values between Christian teachings and the principles of Wasathiyah Islam within the Muhammadiyah movement. This research was conducted by a qualitative method with a literature review approach, utilizing a comparative theological perspective and interfaith dialogue theory. The result showed that the values of justice, compassion, tolerance, and social responsibility form the shared ethical foundation between Christianity and Wasathiyah Islam.Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya membangun harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural melalui pendekatan etika lintas agama. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi titik temu nilai-nilai etika antara ajaran Kristen dan prinsip Wasathiyah Islam dalam gerakan Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka dengan menggunakan perspektif teologi komparatif dan teori dialog antaragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai keadilan, kasih, toleransi, dan tanggung jawab sosial menjadi landasan etika bersama antara kekristenan dan wasathiyah Islam.